Author: Christopherus

  • KERINDUAN kepada TUHAN

    Seorang pemuda menulis WA kepada saya, “Om Paul, renungannya bagus-bagus. Saya senang, setiap pagi saya baca bahkan saya bagikan kepada beberapa sohibku. Tapi Om … Bacaan Sabdanya jangan panjang-panjang.”.

    Sahabat, pernahkah kita sungguh-sungguh merenungkan, apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan?  Apakah setiap pagi kita rindu dan haus akan firman-Nya? Apakah kita merindukan Tuhan dan ingin bertemu dengan-Nya melalui doa-doa dan pembacaan firman-Nya?  Berapa lamakah saat teduh yang kita luangkan untuk Tuhan? Adakah kita merasakan kerinduan pada Tuhan seperti kita merindukan kekasih atau keluarga kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang:  “ KERINDUAN kepada TUHAN”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 84:1-13 dengan penekanan pada  ayat 11 dan 12. Sahabat, Pemazmur  dalam Mazmur 84 menunjukkan betapa besar kerinduannya bisa hadir dan berdiam di rumah Tuhan. Dikatakan, orang yang berhasarat mengadakan ziarah (mencari Tuhan atau merindukan Tuhan) adalah manusia yang berbahagia karena kekuatannya berasal dari Tuhan (ayat 6).

    Karena kekuatannya berasal dari Tuhan, maka dia tidak takut ketika dalam perziarahannya dia harus melintasi lembah Baka. Dikatakan mereka berjalan makin lama makin kuat (ayat 7-8)

    Sahabat, kerinduan itu semakin dipertegas melalui suatu perbandingan bahwa satu hari berada di rumah Tuhan jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain (ayat 11). Bahkan bukan hanya manusia, burung pipit pun rindu dan memilih hidup di dekat mezbah Tuhan (ayat 4).

    Merindukan rumah Tuhan sama saja artinya merindukan Tuhan itu sendiri. Karena pengertian rumah mengacu kepada kondisi kehadiran Tuhan. Hanya dalam rumah Tuhan, umat bisa menumpahkan segala kerinduannya kepada Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Tuhan dan rumah-Nya begitu dirindukan? Jawabannya karena kasih dan kebaikan Tuhan. Kasih dan kebaikan-Nya akan menerangi hidup umat dan menjadi perisai yang melindungi mereka dari segala mara bahaya (ayat 12).

    Sahabat, ungkapan kerinduan yang disampaikan oleh pemazmur ini merupakan salah satu ekspresi cintanya kepada Tuhan. Jika tidak ada cinta, mana mungkin ada rindu. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, pasti ada rasa rindu kepada Dia dan rumah-Nya. Apakah Anda pernah begitu merindukan Tuhan?

    Kerinduan yang mendalam kepada Tuhan akan mendorong setiap orang untuk hidup  semakin dekat kepada-Nya. Jika dalam hati kita tidak memiliki cinta yang besar kepada Allah, maka jangan berharap akan sungguh-sungguh merindukan-Nya. Karena itu, marilah kita bangkitkan rasa cinta yang tulus kepada Tuhan. Perasaan cinta dapat timbul di hati kalau seseorang mengerti besarnya kebaikan dan kasih Allah dalam hidupnya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, ceritakanlah secara singkat pengalamanmu sendiri, apakah kamu pernah merasakan kerinduan kepada Tuhan? Apa saja yang kamu lakukan agar kerinduanmu pada Tuhan dapat terobati? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa, penuhilah hati kami dengan rasa cinta dan rindu kepada-Mu!” (pg) 

  • Ada PENGHARAPAN yang MELAMPAUI ANCAMAN

    Sahabat, ada ungkapan yang berbunyi bahwa dunia, tempat manusia hidup  bukanlah firdaus.  Artinya selama kita masih hidup di dunia,  kita tidak akan luput dari yang namanya ancaman, masalah, kesulitan, tantangan, ujian, dan situasi-situasi sulit lainnya.  Tak menutup kemungkinan juga kita akan menghadapi orang-orang yang mungkin saja bisa melukai, menyakiti, mengecewakan, atau bahkan mengancam hidup kita. 

    Jadi kita tak perlu terkejut lagi jika hal-hal yang tak mengenakkan harus kita alami.  Tak perlu kita lari atau menghindari masalah, itu bukan solusi.  Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, kita harus menghadapinya!

    Kadang satu masalah belum selesai, masalah yang lain datang. Bahkan yang lebih mengerikan kadang masalah-masalah itu seolah-olah kompromi atau membuat janji dalam satu waktu ramai-ramai mendatangi kita. Kita merasakan hidup kita betul-betul terancam. Dalam saat yang menyesakkan seperti itu, kita butuh ada pengharapan yang melampaui ancaman.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada PENGHARAPAN yang MELAMPAUI ANCAMAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 83:1-19. Sahabat, Pemazmur memohon kepada Allah untuk tidak bungkam, diam, dan berpangku tangan (ayat 2). Permohonan itu menunjukkan betapa besarnya harapan Pemazmur kepada Allah. Hal ini dikarenakan hidupnya dan bangsa Israel sedang terancam oleh bangsa-bangsa yang berniat untuk menghancurkan mereka (ayat 3-6). Bayangkan, total ada 10 bangsa yang digambarkan mengancam Israel (ayat 7-9).

    Pemazmur datang kepada Allah karena kebaikan dan kehebatan-Nya telah teruji. Midian, Sisera, Yabin, Oreb, Zeeb, Zebah, dan Salmuna dapat dijadikan contoh nyata. Mereka pernah merasakan kedahsyatan kuasa Allah (Ayat 10-12).

    Sahabat, sesungguhnya di muka bumi ini tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dibandingkan Allah yang Mahatinggi. Meski Israel tidak luput dari berbagai ancaman, tetapi mereka belajar beriman dan berharap kepada Allah.

    Hidup kita sebagai orang beriman pun tidak lepas dari ancaman. Sudah cukup sering kita dengar bahwa orang percaya diancam, kariernya dihambat, bahkan dipecat jika ia bertahan dalam imannya. Satu-satunya cara agar kariernya mulus, ia harus meninggalkan keyakinan imannya.

    Sahabat, kita tahu, Allah lebih besar daripada segala hal yang dapat mengancam kita. Karena itu, selayaknya ada pengharapan yang melampaui ancaman.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmah apa saja saja yang Sahabat peroleh?
    2. Pada saat  Sahabat sedang merasa terancam hidupmu, apa yang kamu lakukan?

    Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa, kuatkanlah kami dalam menghadapi berbagai ancaman yang menerpa hidup kami.” (pg). 

  • PROSES PENAHIRAN DIRI

    Sahabat, NAJIS dan TAHIR merupakan 2 kata yang sangat kontradiktif. Konotasi kata najis yaitu jijik, kotor, cemar dan memuakan. Sedangkan konotasi kata tahir yaitu  bersih, khalis, suci dan murni.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), najis yaitu hal yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah. Maka yang penting untuk kita ketahui yaitu bagaimana proses penahiran diri dari kenajisan? 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PROSES PENAHIRAN DIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 19:1-22. Sahabat,   Allah menghendaki agar bangsa Israel hidup kudus dan menjauhi segala yang najis. Untuk itu Allah memberikan berbagai aturan praktis yang wajib dipatuhi bangsa Israel.

    Dari bacaan kita pada hari ini, najis terjadi bila mereka menyentuh mayat, orang yang mati terbunuh oleh pedang, tulang manusia, kubur (ayat 16) atau imam yang selesai membakar korban maka imam itupun najis (ayat 7). Ada kondisi najis yang berlangsung sampai matahari terbenam (ayat 7b dan 8b) dan ada yang berlangsung selama 7 hari (ayat 11). Kenajisan yang dipertahankan bisa mendatangkan hukuman mati (ayat 13). Mereka yang dinilai najis akan diasingkan dan kemudian dibasuh dengan air penahiran (ayat 13). Bila seorang yang dianggap najis menyentuh sesuatu, maka apa yang disentuh menjadi najis (ayat 22).

    Sahabat, jelaslah bahwa kenajisan merupakan persoalan serius bagi Allah jika dikaitkan dengan kekudusan hidup. Sebab, kenajisan bisa menjadi “virus” yang menggerogoti kerohanian seseorang. Jika kehidupan rohani seseorang sakit, berarti kemanusiaannya pun ikut sakit.

    Karena itu, orang yang terjangkiti kenajisan membutuhkan penahiran dari Allah. Dalam hal ini, Allah memberikan solusinya. Penahiran merupakan tindakan untuk menjaga komunitas umat Allah dari pengaruh yang membuat cemar serta menerapkan tegaknya kemurnian moral. Orang yang tahir harus memercikkan air penahiran ke kemah, segala bejana, dan orang-orang yang najis agar semuanya kembali menjadi tahir (ayat 18 dan 19) di hadapan TUHAN dan bagi sesama.

    Kematian dan kebangkitan Yesus telah menyempurnakan ritual kurban dan Hukum Taurat pada Perjanjian Lama. Pengurbanan Yesus terjadi sekali untuk selamanya, dan berkuasa membersihkan siapa pun yang percaya kepada-Nya dari segala dosa.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa saja yang kamu peroleh?
    2. Selain itu apa yang harus kamu lakukan agar hidupmu berkenan kepada Allah?
    3. Apakah kamu memiliki kerinduan untuk dipakai oleh Allah guna membantu sesama yang sedang bergumul melawan dosa agar bisa melepaskan diri dari jerat dosa dan kembali kepada Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • JAGALAH PERKATAAN KITA

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang beroleh kekuatan dan dibangkitkan semangat hidupnya akibat mendengarkan perkataan dari orang lain.  Sebaliknya ada cukup banyak  pula yang menjadi terluka, hancur, frustasi dan putus asa oleh karena terbunuh oleh perkataan yang disampaikan oleh orang lain.

    Kekuatan perkataan ternyata begitu luar biasa, baik bagi yang mendengar maupun yang mengatakannya. Karena itu Rasul Paulus memberi nasihat kepada anak rohaninya, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  (1 Timotius 4:12b). Sahabat, jagalah perkataan kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JAGALAH PERKATAAN KITA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab bilangan 20:2-13 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, dari bacaan kita pada hari ini, kita dapat belajar dari Musa. 

    Suatu kali, bangsa Israel kembali mengeluh kepada Musa karena tidak ada air di padang gurun. Musa dan Harun segera menemui Tuhan, lalu Dia memerintahkan Musa untuk BERKATA  kepada bukit batu di depan bangsa Israel agar terpancar air. Karena Musa mungkin sudah lelah mendengar kata-kata tidak mengenakkan yang keluar dari mulut bangsa Israel, emosi Musa memuncak dan dia mengatakan “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (ayat 10).

    Tidak hanya itu, dengan emosi Musa MEMUKUL batu itu sampai dua kali, padahal seharusnya Musa CUKUP BERKATA SAJA maka akan keluar air. Musa mendukakan Tuhan, di dalam kata dan perbuatan. (ayat 11)

    Sahabat, kita mungkin seringkali mengalami hal yang sama dengan Musa. Ketika emosi memuncak, PERKATAAN dan perbuatan KITA TIDAK TERKONTROL. Akhirnya kita menyakiti orang lain dan ujung-ujungnya kita sendiri juga ikut terluka. Baiklah kita belajar bijak dalam mengeluarkan kata-kata dari mulut kita. Apabila kita emosi, tahanlah kata-kata kasar yang hendak dikeluarkan. Tenangkan hati. Jangan sampai kita menjadi seperti Musa yang kemudian dihukum Tuhan hingga tidak bisa masuk ke tanah perjanjian (ayat 12).

    Ingatlah,  untuk menunaikan tugas pekabaran Injil atau hidup bersaksi bagi Kristus di tengah dunia ini bukan hanya kita tunjukkan dengan pikiran dan perbuatan yang benar saja, melainkan juga PERKATAAN YANG BENAR. Oleh sebab itulah Rasul Paulus menasihati agar jemaat di Kolose di dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki perkataan yang penuh kasih dan jangan hambar sehingga mereka dapat memberi jawab kepada setiap orang (Kolose 4:6)

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pemahaman yang kamu dapatkan,  apa saja yang harus kamu perhatikan dan lakukan sehingga kamu dapat menjaga perkataanmu. Selamat sejenak merenung. Ingatlah!, Jika tidak ada kata baik yang bisa keluar dari mulut kita, lebih baik kita diam. (pg)

  • Ketika Para Pemimpin LUPA DARATAN

    Allah senantiasa menunjukkan keberpihakan-Nya untuk membela kaum marginal. Karakter Allah ini tampak dalam teladan Kristus yang hadir menyapa dan melayani mereka yang dianggap lemah, hina, dan rendah dalam tatanan sosial. Karena itu, karakter Kristus seharusnya tampak dalam cara berpikir, sifat, dan perilaku kita sebagai murid Kristus. Berlaku adil dan peduli terhadap kaum lemah yang ditindas harus menjadi salah satu prinsip kebenaran Allah yang patut dikedepankan.

    Sahabat, di tengah kehidupan berbangsa yang penuh dengan kecurangan, korupsi, dan ketidakadilan, kita semakin ditantang, jika kita diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam segala tataran, kita tidak menjadi lupa daratan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika Para Pemimpin LUPA DARATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 82:1-8. Sahabat, Mazmur 82 berbicara mengenai para hakim yang lupa daratan. Ketika Mazmur 82 ditulis, para hakim tidak hanya menjalankan tugas yudikatif (hukum), tetapi juga eksekutif (pemerintahan) dan legislatif (pembuat undang-undang). Mereka harus memerintah dengan adil dan menghukum kejahatan (Ulangan 25:1).

    Pada kenyataannya, ada hakim yang memutarbalikkan kebenaran dan membela kelaliman (ayat 2). Bagaimana mungkin mereka dapat membela kaum tertindas dan lemah (ayat 3-4) jika mereka tidak mengenal hikmat Allah dan tidak hidup dalam takut akan Allah (ayat 5)?

    Sahabat, itulah sebabnya kita melihat Allah berdiri di hadapan para “allah” untuk menghakimi mereka. Istilah “allah” dengan huruf kecil bukan merupakan suatu pujian untuk status para hakim yang menjadi wakil Allah. Istilah itu merupakan sindiran keras terhadap mereka yang memegang kekuasaan. Mereka mengangkat diri menjadi allah-allah palsu. Karena kecongkakan mereka, Allah akan menumpahkan gemas-Nya (ayat 7). Mereka akan dihempaskan Allah karena menyalahgunakan wewenang yang diberikan-Nya.

    Mazmur 82 ditutup dengan permohonan pada Allah agar Ia segera mengulurkan tangan-Nya membela kaum lemah dan papa (ayat 3-5). Pemazmur memohon agar Allah menghajar para pemimpin yang bertindak sewenang-wenang (ayat 8). Doa Pemazmur menunjukkan Allah tidak menutup mata atas segala kejahatan yang terjadi di dunia. Karena Ia adalah Hakim yang adil.

    Menjadi pemimpin merupakan anugerah Tuhan. Karena itu ketika Sahabat menjadi pemimpin, jangan lupa daratan. Seorang pemimpin perlu memberikan contoh yang baik dan senantiasa mengevaluasi dirinya. Janganlah menjadi pemimpin yang zalim karena Allah akan menuntut pertanggungjawaban kita berdasarkan perbuatan. 

    Jika Sahabat adalah seorang pemimpin, baik dalam keluarga, pekerjaan, pemerintahan, maupun di mana saja, pastikan bahwa Sahabat  senantiasa bersikap benar di hadapan Allah dan sesama. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang karakter seorang pemimpin yang berkenan di hati Tuhan. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg)

  • ReKat: MENGELUH lagi, MENGELUH lagi (15 Maret 2022)

    Bacaan Sabda: Bilangan 11:1-35

    Pelajaran yang dapat dipetik, mengapa umat Israel selalu mengeluh dan bersungut-sungut yaitu:

    Jawaban 1:

    1. Mereka tidak mau mengingat akan kebaikan Tuhan yang telah diterimanya; yang telah membebaskan dari perbudakan di Mesir dengan cara-Nya yang ajaib.
    2. Bangsa Israel juga tidak bisa mengucap syukur akan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama di padang gurun.
    3. Hati mereka menjadi panas karena tak pernah merasa puas dengan keadaan mereka yang mengakibatkan selalu mereka selalu mengeluhdan bersungut-sungut dalam menjalani kehidupan harian mereka.

    (Swan Lioe)

    Jawaban 2:

    1. Umat Israel tidak mematuhi apa yang telah diperintahkan Tuhan kepada mereka. Pelajaran untuk kita, di dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan ini, belajar untuk mentaati firman-Nya.
    2. Umat Israel cendrung mudah mengikuti kehendaknya sendiri. Pelajaran untuk kita, bahwa kita sudah ditebus oleh pengorbanan Yesus di atas salib, maka perlu kita terus belajar untuk menyangkal diri.
    3. Umat Israel tidak konsisten pegang janji Tuhan. Pelajaran untuk kita, bagaimana pun keberadaan kita  dalam situasi apa pun yang kita hadapi, kita berusaha untuk belajar berpegang kepada janji-Nya. Tuhan Yesus berkata : “Janganlah gelisah hatimu  percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku”. (Yohanes 14:1)

    (Haryono)

  • DICUKUPI untuk MENCUKUPI

    Sahabat, Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya. Tuhan menjamin bahwa setiap orang yang mencari-Nya, tidak akan kekurangan sesuatu pun yang baik (Mazmur  34:11). Bahkan di tengah perjalanan hidup yang berat sekalipun, Ia berjanji akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19). Ketika Tuhan mencukupi kebutuhan kita, kiranya kita dapat semakin mengenal-Nya sebagai Allah sang pemelihara hidup kita.

    Bagi kita yang terpanggil untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, baik di gereja maupun di lembaga gerejawi, kebutuhan hidup kita akan dicukupi oleh jemaat atau orang-orang yang kita layani. Tetapi kita juga punya kewajiban untuk membantu mencukupi kebutuhan gereja atau lembaga gerejawi tempat kita melayani melalui persembahan-persembahan dan usaha-usaha yang kita lakukan. Kita perlu menyadari bahwa kita dicukupi untuk mencukupi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DICUKUPI  untuk  MENCUKUPI”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 18:1-32. Sahabat,  bila Allah memberi tugas, Ia pasti akan memberikan perlengkapan untuk melakukan tugas tersebut.

    Allah menetapkan suku Lewi untuk melaksanakan semua tugas yang berkaitan dengan perlengkapan Kemah Suci, sedangkan Harun dengan keturunannya memegang jabatan sebagai imam yang melaksanakan seluruh peribadatan. 

    Supaya bisa melaksanakan semua tugas di atas secara efektif, suku Lewi, termasuk Harun dan keturunannya, tidak diberi warisan tanah agar mereka tidak bercocok tanam. Sebaliknya, Allah memberikan bagian yang tidak dibakar dari persembahan korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah (ayat 9), serta memberikan persembahan hasil pertama (ayat 15) bagi Harun dan anak-anaknya; sedangkan suku Lewi di luar keturunan Harun mendapatkan persembahan persepuluhan (ayat 23-24), tetapi mereka sendiri juga harus memberikan persembahan persepuluhan dari setiap persembahan persepuluhan yang mereka terima (ayat 26-28).

    Sahabat, sebagaimana Allah menjamin kehidupan segenap suku Lewi, termasuk keturunan Harun, yang tidak bisa mencari nafkah melalui bercocok tanam karena seluruh waktu mereka telah dipersembahkan untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

    Demikian pula Allah memelihara hamba-hamba-Nya yang menyerahkan segenap waktu mereka untuk melakukan pekerjaan Tuhan pada masa kini. Sebagaimana halnya dengan suku Lewi,  hamba Tuhan penuh waktu pada masa kini harus didukung kebutuhan hidupnya oleh umat Allah yang dilayaninya,

    Bagi setiap hamba Tuhan, ingatlah bahwa Allah pasti akan memelihara hamba-hamba-Nya yang mengerjakan pekerjaan Allah! Sebaliknya para hamba Tuhan juga punya kewajiban untuk ikut mencukupi kebutuhan gereja atau lembaga gerejawi tempat mereka melayani melalui persembahan-persembahan mereka dan usaha-usaha yang mereka lakukan. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang hubungan antara  hamba Tuhan penuh waktu dengan jemaat yang mereka layani dalam kaitan pemenuhan kebutuhan hidup hamba Tuhannya. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg).