Author: Christopherus

  • KEBIMBANGAN: Musuh dari Iman

    Sahabat, KEBIMBANGAN adalah salah satu panah yang Iblis lepaskan ke arah setiap orang percaya selain ketakutan, kekhawatiran dan sejenisnya.  Iblis mau supaya manusia tidak lagi percaya dan beriman kepada Tuhan dan firman-Nya, melainkan percaya kepada dustanya. 

    Jelas sekali bahwa kebimbangan adalah musuh dari iman.  Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia memercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab.  Secara fisik mungkin saja seseorang berada di ruang ibadah dan mendengarkan firman Tuhan, tetapi sesungguhnya firman tersebut tidak lagi mendapat tempat di hati dan pikirannya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KEBIMBANGAN: Musuh dari Iman”, Bacaan Sabda saya ambil dari Kejadian 15:1- 21. Sahabat, Abram menyadari bahwa dirinya sudah tua. Ia juga tidak memiliki keturunan sebagai ahli waris. Karena itu, ia mempersiapkan Eliezer menjadi ahli warisnya (ayat 2). Itulah adat dan budaya yang berlaku pada waktu itu.

    Namun, Allah tetap setia pada perjanjian-Nya bahwa yang akan menjadi ahli waris adalah keturunan jasmani Abram dan Sarai (Kejadian 12:2). Allah memperteguh janji-Nya kepada Abram bahwa keturunannya akan sebanyak jumlah bintang di langit (ayat 5). Abram memercayai janji itu dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran.

    Sahabat, Percaya bukanlah barang jadi. Kepercayaan dalam diri seseorang merupakan proses. Iman sangat terkait erat dengan pertumbuhan dan tidak sekali jadi. Setiap orang perlu belajar percaya.

    Meski telah empat kali Allah menampakkan diri kepada Abram, dan janji akan keturunan itu belum tergenapi, Abram belajar untuk percaya. Percaya berarti memercayakan diri kita kepada pribadi yang kita percayai. Dan Abram memercayakan dirinya kepada Allah. Itulah yang menyenangkan hati Allah.

    Mengapa Abram percaya? Sejatinya itulah jalan terlogis. Bukankah Allah itu Mahakuasa? Bukankah Abram telah menjadikan Dia sebagai Tuannya? Dan jalan terlogis seorang hamba-yang memang tidak tahu hari depan adalah percaya penuh kepada Sang Tuan.

    Sahabat, Allah sungguh menghargai orang yang percaya penuh kepada-Nya. Karena itu, apa pun persoalan yang kita hadapi, hanya iman kepada Allahlah yang akan menjadi kekuatan dan solusi. Tentu ada banyak hambatan, tantangan, dan godaan dalam hidup kita. Semuanya itu kadang membuat kita khawatir dan cemas akan janji Allah. Marilah kita terus belajar untuk tetap percaya kepada-Nya! Sebab Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28). Sekali lagi, percayalah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Abram mendapat predikat: “Bapa orang beriman”? (ayat 6 dan Roma 4:20)
    2. Apa yang menyebabkan Abram percaya kepada janji-janji Tuhan? (Ayub 42:2)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Kuatkanlah iman kita demi meraih janji TUHAN dalam hidup kita. (pg)  

  • MUKJIZAT: Bagian Tuhan

    Sahabat, coba kita amanati, ketika kita merayakan ulang tahun gereja, maka hampir pasti akan disampaikan tentang Sejarah Gereja. Banyak hal akan diungkap, sejak awal gereja dirintis sampai saat ulang tahun gereja dirayakan.

    Hal yang paling ditonjolkan adalah campur tangan Tuhan dalam perjalanan pelayanan gereja. Banyak hal yang patut disyukuri dan dinyatakan. Salah satu pernyataan kita sebagai komunitas orang percaya: Bahwa sesungguhnya MUKJIZAT itu merupakan bagian Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MUKJIZAT: Bagian Tuhan”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 114:1-8.  Sahabat, dengan gaya sastra yang unik dan apik, Mazmur 114 menceritakan kembali bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir. Untuk membawa bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, Allah membelah Laut Teberau (Keluaran 14:21-31) dan menghentikan aliran Sungai Yordan (Yosua 3:16). Hampir setiap gunung yang dilewati menyimpan kenangan ajaib, khususnya ketika gunung batu yang keras memancarkan air untuk diminum (Keluaran 17:6).

    Sahabat, Mazmur 114 menjadi menarik karena Pemazmur menceritakan kedahsyatan peristiwa tersebut dengan bertanya kepada alam, tentang apa yang membuat mereka (laut, sungai, gunung, dan bukit) bereaksi sedemikian dahsyat (ayat 5-6).

    Tanpa perlu dijawab, semua orang sudah tahu jawabannya: Tuhan semesta alamlah yang menggerakkan mereka. Walaupun demikian, pertanyaan Pemazmur membawa kita untuk menantikan jawaban maupun pengakuan alam terhadap kedahsyatan Tuhan.

    Dengan pertanyaan: “Ada apa …?”, jawaban yang diharapkannya merujuk pada suatu peristiwa (ayat  5). Peristiwa itu adalah penyelamatan umat Allah; ada umat Allah yang akan lewat. Pemazmur hendak menegaskan bahwa agar umat-Nya selamat, Allah tidak segan-segan mengadakan keajaiban alam. Tidakkah hal tersebut seharusnya menyadarkan kita: Betapa pentingnya keselamatan kita di hadapan Allah?

    Sahabat, hidup kita adalah perjalanan pembebasan dan penyelamatan oleh Allah. Sayangnya, kita sering lalai memerhatikan bagaimana Allah mengatur keadaan sekitar untuk menyelamatkan kita. Sering kali fenomena alam dimaknai sebagai hukuman Tuhan. Bagi orang Mesir, laut terbelah adalah penghancuran besar-besaran, dan aliran sungai yang terhenti adalah bencana bagi kehidupan orang Kanaan. Sebaliknya, bagi orang Israel, kedua keajaiban itu adalah peristiwa yang menyelamatkan.

    Belajar dari perjalanan orang Israel, baiklah kita mengimani bahwa Tuhan membawa kita pada keadaan yang lebih baik. Selain itu, setiap peristiwa yang terjadi, yang Tuhan izinkan untuk kita alami merupakan cara Tuhan untuk melapangkan jalan kita kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Keyakinan apa yang perlu kita pegang erat-erat sebagai orang percaya? (Markus 9:23)
    2. Mengapa kita tidak boleh membiarkan ketakutan menguasai hidup kita? (Yesaya 51:10)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa! (pg).

  • BEREMPATI untuk MEMBERIKAN AKSI

    Sahabat, dalam hidup selalu ada nilai-nilai penting yang bisa kamu dapatkan setiap harinya. Entah itu dari hal yang sederhana atau nilai besar yang kamu rasakan.

    Terkadang tanpa disadari akan timbul berbagai macam perasaan setelah kamu bertemu dengan sebuah kejadian. Kamu bisa merasa sedih, bahagia, kecewa, ataupun marah. Semua itu dikatakan wajar terjadi ketika kamu rasakan. Namun sebaliknya, jika kamu tidak pernah merasakan kepedulian,  termasuk pada hal yang memilukan.

    Rasa peduli bisa tumbuh karena banyak hal. Kepekaan perasaan akan membuatmu berpikir mengenai tindakan yang akan kamu lakukan. Apakah hanya akan sekadar bersimpati atau kamu akan berempati untuk memberikan aksi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BEREMPATI untuk MEMBERIKAN AKSI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 14:1-16. Sahabat, meskipun tempat yang didiami Lot sangat subur, namun daerah itu tidak aman karena rawan konflik dan peperangan.

    Sahabat, itulah yang terjadi: Gejolak politik di daerah tersebut pecah. Beberapa raja yang takluk di bawah kekuasaan Kedorlaomer selama 12 tahun bermufakat untuk mengadakan pemberontakan (ayat 1-4). Peperangan terjadi di mana-mana. Raja Sodom dan Gomora kalah perang (ayat 10). Karena itu, seluruh rakyatnya ditawan (ayat 11). Lot pun ditawan dan hartanya juga dirampas (ayat 12).

    Saat Abram mendengar kabar buruk tentang Lot, ia pun mengangkat senjata untuk membebaskan keponakan beserta keluarganya, dan juga harta bendanya (ayat 14-16).

    Sahabat, tindakan Abram menunjukkan kasihnya yang besar kepada Lot. Walaupun Lot pernah berselisih dengan pamannya soal lahan untuk makanan ternak, namun Abram tetap peduli akan nasib keponakannya.

    Untuk menyelamatkan Lot, Abram mengerahkan segala daya yang dimilikinya. Abram menyiapkan 318 orang pasukan terlatih yang siap tempur (ayat 14). Pasukan ini adalah orang-orang yang lahir dan menjadi dewasa di rumah Abram (ayat 14). Pernyataan ini memperlihatkan adanya kedekatan relasional antara Abram dan pasukannya. Tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka sangat setia kepada tuan mereka, Abram.

    Selama ini kita hanya melihat figur Abram sebagai pedagang. Tetapi, siapa pernah menyangka bahwa seorang pedagang bersama 318 orang pasukan saja mampu mengalahkan kekuatan besar Kedorlaomer dan para sekutunya (ayat 14-17a). Tentu saja kemenangan itu bukan milik Abram, melainkan milik Allah. Tanpa penyertaan Allah mustahil Abram dapat memenangkan peperangan tersebut.

    Berulang kali kita mendengar kata cinta muncul dalam kehidupan manusia. Tentu saja itu baik, namun belum cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itulah, kita dipanggil Allah untuk menjadi terang dan garam dunia. Tindakan tersebut mencerminkan kepedulian dan cinta kasih Allah kepada ciptaan-Nya agar mereka tidak binasa, melainkan beroleh keselamatan, dapat menikmati hidup kekal.

    Berdasar hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, berkat apa yang Sahabat peroleh dari tindakan Abram dalam menyelamatkan Lot (ayat 14-16 dan Kejadian 13:8). Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • ReKat: AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA (23 Mei 2022)

    Bacaan Sabda: Mazmur 106 : 1- 12

    Berdasarkan hasil perenungan saya dari bacaan kita pada hari ini:

    1. Pemahaman saya tentang kebaikan Allah dalam hidup kita yaitu kebaikan Allah itu menyatakan tentang pribadi-Nya bahwa Allah itu kasih adanya. Kasih-Nya itu tidak akan pernah berubah, berlaku untuk selama-lamanya. Bagi kita yang dikasihi-Nya bukti kebaikan-Nya itu dinyatakan melalui pengorbanan Kristus, dosa diampuni, kita diselamatkan, jaminan hidup kekal bersama Dia di surga. Bukti berikut bahwa kebaikan Allah dalam hidup kita yaitu pada saat kita diperhadapkan dengan berbagai persoalan hidup, Dia memberi solusi yang tepat, dengan cara kita taat kepada-Nya.
    1. Respons yang dapat kita berikan atas anugerah-Nya yaitu berelasi dan berkomunikasi kepada-Nya. Caranya: Melakukan saat teduh rutin,  bersyukur kepada-Nya,  memuji Dia, terus belajar  firman-Nya dengan teratur, dan berdoa syafaat kepada-Nya. Selain itu meneruskan pengalaman anugerah-Nya kepada anggota keluarga, kepada sesama anggota jemaat, dan kepada sesama  di sekitar kita.

    (Haryono)

  • Tuhan DEKAT dengan ORANG yang HINA

    Sahabat, yang lazim orang senang DEKAT dengan para penguasa, para konglomerat, orang-orang yang terkenal, dan para tokoh masyarakat. Tapi justru Tuhan dekat dengan orang yang hina, orang yang direndahkan, orang yang dianggap sampah masyarakat, orang yang ditolak, dan orang yang dipandang dengan sebelah mata.

    Penggambaran Tuhan yang mahatinggi dan manusia yang rendah bukan dimaksudkan supaya hamba-hamba-Nya diliputi kekaguman dan pemujaan. Sebaliknya, ini merupakan peringatan akan apa yang dapat dilakukan Tuhan dari takhta-Nya yang kudus. Dia dapat membolak-balikkan keadaan manusia. Bagi-Nya mengangkat derajat orang miskin dan hina bukanlah hal yang sulit. Ia juga dapat menghapus aib manusia dan menggantinya dengan kebanggaan dan sukacita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tuhan DEKAT dengan ORANG yang HINA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 113:1-9 dengan penekanan pada ayat 7-9. Sahabat, Mazmur haleluya ini juga permulaan dari kumpulan mazmur yang dalam tradisi Yahudi disebut hallel (Mazmur 113-118). Mazmur hallel dikaitkan  dengan beberapa perayaan utama umat Yahudi, terutama dalam konteks  perayaan Paskah. Mazmur 113-114 dilantunkan sebelum memulai makan Paskah, Mazmur 115-118 untuk mengakhirinya.

    Pemazmur menguatkan bahwa Tuhan bukan saja memperhitungkan ibadah dan ketaatan kita, tetapi juga memperhatikan hidup kita sehari-hari. Marilah kita mengimani bahwa pengakuan akan Tuhan Yang Mahatinggi bukan sekadar ungkapan pemujaan, melainkan pengingat bahwa Dia sanggup mengangkat kita dari segala kerendahan, kehinaan, dan keterpurukan, bahkan kehancuran hidup.

    Tuhan menginginkan kita hidup sederajat dengan sesama sekalipun jalan hidup kita berbeda. Lihatlah Hana dan Maria yang ditinggikan Allah (1 Samuel  2:1-10 dan Lukas 1:46-55). Ada kalanya Allah meninggikan kita melalui peristiwa-peristiwa ajaib karena itu marilah kita sadari dan kita akui bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.


    Sahabat, Kristus telah datang bahkan tinggal bersama ciptaan-Nya. Dia mau  menyamakan diri dengan mereka yang mengalami diskriminasi sosial  dan agama. Dia datang untuk memulihkan tatanan yang rusak karena  dosa. Mari sekarang bersama umat Tuhan lainnya, kita memuji Dia dan mengagungkan nama-Nya dengan sikap kita yang tidak diskriminatif terhadap orang yang berbeda dengan kita.

    Berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa harapan Pemazmur yang terdapat dalam ayat 2-4?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan Pemazmur di ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Yang merasa diri rendah dan tak berdaya dipandang dan dimuliakan Tuhan, bukan yang merasa kaya, mulia, dan terpandang. (pg).

  • Pentingnya TAHU DIRI

    Sahabat, habitat pertama bagi manusia adalah taman Eden. Kebun permai ini dilengkapi dengan segala yang manusia perlukan. Kekayaan, kesuburan, dan keindahan alam tersedia. Tetapi mengapa tiba-tiba harus ada larangan: Memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? (Kejadian 2:17).

    Rupanya Tuhan hendak menegaskan sebuah ketetapan utama dalam kehidupan: Kepemilikan.  Larangan itu berfungsi mengingatkan manusia, mereka bukan pemilik taman. Eden beserta segala isinya itu milik Allah. Manusia hanyalah dia yang diberi kepercayaan untuk mengolah atau membudidayakannya (Kejadian 2:15). Sebuah pelajaran kepemilikan yang sudah setua umur umat manusia, bukan? 

    Sahabat, sesungguhnya sumber dari segala kerusuhan dan kekacauan hidup memang di sini: Manusia tidak  TAHU DIRI. Seharusnya dirinya bukan pemilik. Hanya pengelola.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pentingnya TAHU DIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 13:1-18 dengan penekanan pada ayat 10-11.  Sahabat, Abram menjadi sangat kaya karena Tuhan memberkatinya (ayat 2). Kekayaannya itu ditandai dengan banyak ternak yang dimilikinya.

    Kekayaan kadang menjadi sumber konflik. Hal itu tampak pada percekcokan dan perkelahian para gembala Abram dan Lot (ayat 7). Mereka saling berebut lahan untuk makanan ternak majikannya. Wilayah di mana mereka tinggal menjadi sangat sempit bagi Abram dan Lot. Dalam hal ini, Abram mencoba mengalah dengan mengajak keponakannya untuk berunding mencari solusi. Abram memberikan Lot kesempatan untuk memilih lebih dahulu wilayah manakah yang hendak didiami. Akhirnya Lot memilih daerah Lembah Yordan (ayat 10).

    Sahabat, inilah kesalahan Lot yang utama. Dia TIDAK TAHU DIRI. Lot tidak ingat dengan posisinya. Abram itu pamannya. Dia lebih tua. Dia yang mengajak Lot berangkat dari Mesir ke Tanah Negeb. Sesungguhnya Abram-lah yang menjadi sumber kekayaan Lot. Seharusnya Abram yang berhak menentukan masalah pembagian wilayah. Abram lebih berhak sebagai pemilih pertama.

    Kesalahan Lot yang kedua, dalam hal memilih wilayah, Lot menjatuhkan pilihan hanya berdasarkan apa yang tampak di mata.  Lot yang melihat betapa suburnya rumput yang berada di wilayah Lembah Yordan. Jika dilihat dari sisi ekonomi, wilayah Yordan sangat menarik hati siapa pun jua. Karena daerah tersebut bukan hanya terkenal sangat subur dan banyak airnya, tetapi juga sangat indah seperti taman surgawi (ayat 10).

    Sahabat, sedang  Abram lebih mementingkan menjaga kekerabatan daripada berebut wilayah yang subur, yang menjanjikan (ayat 8). Abram orang yang rendah hati dan suka mengalah.  Baginya, tidak menjadi soal apakah tempat yang akan didiaminya itu subur atau tidak. Sebab ia memegang janji Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi penyebab kegagalan pemilihan Lot? (Ayat 10)
    2. Berkat apa yang Abram terima ketika dia mengedepankan kekerabatan dan mengalah? (Ayat 8, 14-15).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”  (Amsal 10:22).  (pg)