MENGASIHI DALAM RASA SAKIT,MENGAMPUNI DALAM KASIH
Pada tahun 2006 ada seorang pria bernama Charles Carl Roberts IV masuk ke sebuah sekolah Amish di Pennsylvania, Amerika Serikat. Dengan kejam Charles menembak sepuluh anak perempuan dan menewaskan lima di antaranya sebelum akhirnya bunuh diri. Insiden ini memang mengguncang dunia tetapi yang lebih mengejutkan yaitu respons komunitas Amish. Di saat duka yang mendalam mereka […]
SAKIT YANG MENGAJARKAN KASIH
Elizabeth Fry (1780–1845) adalah seorang reformator sosial dan aktivis Kristen asal Inggris yang dikenal karena perjuangannya dalam mereformasi sistem penjara. Pada awal abad ke-19, kondisi penjara di Inggris sangat buruk. Tahanan hidup berdesakan dalam sel sempit tanpa sanitasi yang layak, sering mengalami kekerasan, dan tidak mendapatkan perlakuan manusiawi. Ketika pertama kali mengunjungi Penjara Newgate pada […]
KASIH YANG LEBIH BESAR DARI RASA SAKIT
Pada tahun 1981, Mehmet Ali Agca menembak Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Peluru hampir merenggut nyawa Sang Paus. Dua tahun kemudian Paus mengunjungi Mehmet di penjara dan dengan penuh kasih dipegangnya tangan pria yang pernah mencoba membunuhnya dan berkata, “Saya sudah mengampunimu.” Dunia terdiam melihat cinta yang melampaui sakit itu. Paus […]
MENGASIHI MESKI TERSAKITI
Pada tahun 1994, dunia dikejutkan oleh genosida di Rwanda yang dipicu oleh konflik antara kelompok etnis Hutu dan Tutsi. Dalam waktu seratus hari, lebih dari delapan ratus ribu orang (sebagian besar dari etnis Tutsi) dibantai dengan kejam. Salah satu korban yang selamat bernama Immaculée Ilibagiza. Ia bersembunyi di kamar mandi kecil selama sembilan puluh satu […]
RAMBATKAN AKARMU KE TEPI SUNGAI BERKAT-NYA
Dr. Fumio Kurokawa, seorang ilmuwan pertanian dan ahli ekologi di Jepang, suatu ketika, menemukan bahwa akar pohon bambu dapat tumbuh hingga puluhan meter mencari sumber air. Meski batangnya ramping dan tampak lemah, kekuatan bambu terletak pada akarnya yang saling terjalin kuat dan menyerap air secara maksimal dari tanah sekitarnya. Dengan sistem akar yang dalam dan […]
RAMBATKAN AKARMU KE TEPI SUNGAI KEBAIKAN-NYA
Ketika Perang Dunia II berkecamuk, ada seorang diplomat Jepang bernama Chiune Sugihara menghadapi dilema besar. Di tahun 1941 ketika ia bekerja di Konsulat Jepang di Lithuania, ratusan pengungsi Yahudi datang kepadanya dan memohon visa ke Jepang agar bisa melarikan diri dari pembantaian. Pemerintah Jepang melarangnya mengeluarkan visa bagi mereka, tetapi Sugihara tidak tega melihat penderitaan […]
RAMBATKAN AKARMU KE TEPI SUNGAI PENGHARAPAN-NYA
George Müller (1805-1898) dikenal sebagai seorang hamba Tuhan yang hidup sepenuhnya mengandalkan iman kepada Tuhan. George lahir di Jerman dan menjalani masa muda yang jauh dari Tuhan, tetapi setelah mengalami pertobatan, ia mengabdikan hidupnya untuk pelayanan. George kemudian pindah ke Inggris dan menjadi pendeta di Bristol dan mendirikan rumah yatim piatu secara mandiri, idependen dan […]
RAMBATKAN AKARMU KE TEPI SUNGAI KEBENARAN-NYA
Aleksandr Solzhenitsyn, seorang penulis dan sejarawan Rusia yang lahir pada 11 Desember 1918. Pada masa mudanya, ia terpengaruh oleh pendidikan negara yang mengajarkan bahwa sosialisme merupakan keadilan dan agama itu musuh rakyat. Namun selama Perang Dunia II, Aleksandr ditangkap karena mengkritik Joseph Stalin dan dijatuhi hukuman delapan tahun kerja paksa di kamp kerja paksa Soviet […]
DARI LEMBAH PENANTIAN, TUHAN MERENGKUH DENGAN PENGHARAPAN
William Wilberforce adalah seorang politisi Inggris yang menghabiskan lebih dari duapuluh tahun hidupnya memperjuangkan penghapusan perbudakan di Kerajaan Inggris. Ia menghadapi berbagai tekanan, oposisi bahkan ancaman, tetapi ia tidak menyerah. Banyak orang meragukan bahwa perbudakan bisa dihapus, tetapi Wilberforce tetap berpegang pada imannya dan yakin bahwa Tuhan memanggilnya untuk misi ini. Tahun demi tahun berlalu […]
DARI LEMBAH PENDERITAAN,TUHAN MERENGKUH DENGAN KEKUATAN
Seorang pendeta yang berasal dari Rumania bernama Richard Wurmbrand, pernah mengalami siksaan yang luar biasa di penjara komunis karena imannya kepada Kristus. Selama 14 tahun di penjara, ia disiksa secara fisik dan mental, dikurung dalam sel bawah tanah, dan diisolasi dari dunia luar. Namun di tengah kegelapan dan penderitaan itu, ia tetap berpegang pada Tuhan. […]