Author: Christopherus

  • Jangan Terkecoh oleh KEMAKMURAN HIDUP Seseorang

    Sahabat, pengalaman hidup kita dalam berjemaat dan bermasyarakat bercerita bahwa kalau seseorang berhasil dalam satu bidang, belum tentu dia juga berhasil dalam bidang-bidang yang lain. Misalnya, kalau ada  seseorang berhasil dalam meniti karier politiknya, belum tentu dia berhasil dalam kehidupan berkeluarga. Kalau seseorang berhasil dalam bidang pendidikan, belum tentu dia juga berhasil dalam bisnisnya.

    Banyak hal yang mempengaruhinya: Bidang minat, fokus hidup, nilai-nilai hidup yang diusung, faktor budaya, latar belakang keluarga,  dan lain sebagainya. Karena itu kita perlu terus belajar untuk tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan. Jangan terkecoh oleh kemakmuran hidup seseorang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan Terkecoh oleh KEMAKMURAN HIDUP Seseorang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 36:1-43. Sahabat, coba kita ingat betapa marahnya Esau ketika berkat yang seharusnya menjadi miliknya ternyata diambil oleh Yakub dengan cara menipu ayah mereka. Saat itu Esau hanya menerima bagian berkat yang kedua, yang menempatkan dirinya sebagai hamba dari saudara kembarnya, Yakub. Bahkan kemakmuran pun akan jauh dari hidupnya (Kejadian 27).

    Namun, kalimat terakhir dari berkat yang diberikan Ishak kepada Esau, bernada ada  pengharapan, yakni jika Esau berusaha dengan sungguh-sungguh maka kemungkinan untuk memperoleh hidup yang lebih baik tetap terbuka baginya. Dia dapat menikmati keberhasilan hidup dan kemakmuran.  Namun adakah hidup Esau kemudian berjalan baik?

    Sepintas Kejadian 36  memang mencatat tanda-tanda kehidupan Esau yang diberkati, yakni ia memperoleh keturunan dan juga materi yang melimpah (ayat 6-7). Namun itu semua tidak sebanding dengan hal-hal utama yang telah hilang dari hidupnya: Hak kesulungannya telah terjual, berkat sebagai anak sulung lenyap, dan ia pun kehilangan kasih orangtuanya karena mengambil istri dari perempuan-perempuan Kanaan dan keturunan Ismael (Kejadian 28:6-9).

    Sahabat, kita perlu menyadari bahwa memiliki banyak hal dalam hidup ternyata bukan jaminan bahwa Tuhan memberkati hidup orang tersebut. Justru oleh karena banyaknya harta yang dimiliki, Esau malah memutuskan untuk keluar dari tanah perjanjian Kanaan dan memilih tinggal di pegunungan Seir.

    Sebuah keputusan yang tampaknya arif dari seorang kakak yang ingin mengalah terhadap adiknya. Namun tanpa disadari, keputusan tersebut merupakan sebuah penggenapan bahwa Esau tidak akan mengambil bagian dalam rencana Tuhan. Terbukti, setelah Kejadian 36, tidak ada lagi catatan tentang Esau dan keturunannya. Sekalipun kaum keturunannya dikenal sebagai orang-orang perkasa sebelum masa raja-raja di Israel (ayat 31-43), tetapi sejarah mereka hanya tercatat sebagai musuh yang turut memerangi Israel.

    Sahabat, maka jangan terkecoh oleh kemakmuran hidup seseorang. Apa yang tampak merupakan berkat bisa jadi malah kebalikannya. Berkat Tuhan tidak melulu berupa materi. Kasih, campur tangan, dan pemeliharaan  Tuhan itulah BERKAT SEJATI bagi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa setelah Kejadian 36 tidak ada lagi catatan tentang Esau dan keturunannya? (Kejadian 28:6-9 dan 2 Korintus 6:14)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kriteria utama dalam memilih pasangan hidup: Seorang yang takut akan Tuhan, yang merupakan pasangan yang seimbang. (pg).

  • Mengapa Kita MEMUJI TUHAN

    Sahabat, memuji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya.  Karena itu dalam setiap peribadatan, puji-pujian selalu mendapat porsi yang cukup banyak selain pemberitaan firman Tuhan.  Hal itu menandakan bahwa pujian merupakan bagian penting dalam kehidupan orang percaya.

    Lalu, mengapa kita memuji Tuhan? Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertakhta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup,  biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita.  Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  Memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa Kita MEMUJI TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 135:1-21. Sahabat, Mazmur 135 secara ritmis menyenandungkan pujian untuk kemuliaan nama Tuhan, yakni sebuah ungkapan pujian yang sangat dikenal dan gampang dihafal oleh umat. Itulah mengapa Mazmur 135 termasuk jenis kidung ziarah yang mengajak banyak orang, imam dan umat semuanya mendengarkan panggilan dan melibatkan diri dalam irama memuji nama Tuhan (ayat 1-3).

    Sahabat, mengapa memuji nama Tuhan menjadi seruan penting dalam melakukan ziarah? Menyerukan nama Tuhan adalah salah satu cara mendekati Sang Sumber Kehidupan. TUHAN (Yahweh) adalah sebutan untuk Allah Pencipta alam semesta. Dengan menyebut nama-Nya berarti kita sebagai ciptaan ingin selalu berelasi dengan Sang Pencipta.

    Lalu mengapa Tuhan layak dipuji sedemikian rupa? Pengalaman iman leluhur Israel telah menjadi dasar yang kuat. Tuhan adalah Pencipta sekaligus Pelindung Israel. Sudah terbukti bahwa kuasa-Nya melebihi segala allah dan raja dari bangsa mana pun (ayat 5-12). Tuhan yang membebaskan Israel dari Mesir, memimpin mereka masuk ke Kanaan, dan memelihara mereka untuk selamanya. Pengalaman iman inilah yang terus dipelihara oleh umat lewat ziarah ke Yerusalem.

    Paling tidak, dalam satu tahun liturgi, tiga kali umat Israel berziarah. Pada hari raya Paskah, Pentakosta dan Pondok Daun, umat berziarah dan mengenang penyertaan Tuhan Yang Mahakuasa. Berziarah pada hari raya merupakan sarana efektif supaya nama Tuhan mendapat tempat di dalam hati setiap generasi. “Ya TUHAN, nama-Mu adalah untuk selama-lamanya; ya TUHAN, Engkau diingat turun-temurun” (ayat 13).

    Sahabat, Tuhan bukan patung buatan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan yang kita puji adalah Allah yang hidup, yang selalu memberikan keadilan dan kasih-Nya kepada umat-Nya. Dia memelihara dan menjaga umat-Nya dalam segala keadaan.

    Berkat ketekunan memuji nama Tuhan, niscaya ziarah dalam hidup kita pun makin bermakna. Kemahakuasaan Tuhan, seperti yang disaksikan para leluhur iman, juga bisa kita saksikan di masa kini. Pujilah Nama-Nya yang agung demi memuliakan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasa-Nya:  Mengubah tangisan menjadi tarian. (pg).

  • KETAATAN mendatangkan PEMULIHAN dan KESELAMATAN

    Sahabat, masalah ketaatan adalah masalah yang mungkin mudah untuk dijalankan ketika kita sedang dalam keadaan tenang, tapi bisa menjadi sulit ketika kita berada dalam kesesakan. Kenyataannya ada banyak orang yang tergiur dalam berbagai godaan ketika berada dalam keadaan tertekan dan terjatuh ke dalam beragam alternatif yang mengarah pada kejahatan di mata Tuhan, atau bahkan kepada pilihan-pilihan yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan sendiri.

    Sesungguhnya tidak ada seorang pun manusia yang senang hidup menderita. Jika bisa tentu kita ingin hidup kita selalu lancar tanpa masalah. Namun dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disana sebenarnya iman kita diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru terjatuh akibat ketidaksabaran?

    Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetaplah dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepada Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya, Dia akan selalu bisa melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun. Yakinlah ketaatan mendatangkan pemulihan dan keselamatan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KETAATAN mendatangkan PEMULIHAN dan KESELAMATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 35:1-15. Sahabat, peristiwa yang dialami Yakub bersama seisi rumahnya membuat ia harus meninggalkan Sikhem (Kejadian 34). Kemudian Allah menyuruh Yakub pergi ke Betel dan mendirikan mezbah di sana bagi-Nya (ayat 1).

    Sahabat, perlu dicatat, ada maksud dari perintah Allah kepada Yakub untuk pergi ke Betel. Allah ingin, supaya kelak, Yakub kembali ke sana dan hidup semakin taat kepada-Nya.

    Untungnya, Yakub sadar akan rencana tersebut. Dia memerintahkan semua orang dan seisi rumahnya untuk membuang dewa-dewa asing dan menahirkan diri. Mereka mendengar dan melakukan apa yang dikatakan oleh Yakub (ayat 2-4). Ketaatan membuat Allah menyelamatkan Yakub serta seisi rumahnya. Tidak hanya itu saja, Allah juga berjanji memberkati Yakub bersama dengan keturunan-keturunannya kelak (ayat 5-12).

    Di sini Yakub berhasil menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga serta orang-orang terdekatnya. Itu ditunjukkan lewat ketaatannya kepada Allah. Yakub dapat mengajak mereka untuk taat yang mendatangkan pemulihan dan keelamatan bagi mereka.

    Sahabat, dalam keseharian, kita mungkin masih belum mampu menjadi Yakub masa kini. Sebab kita sendiri pun terkadang masih sulit untuk memimpin diri sendiri, apalagi orang lain. Oleh sebab itu, marilah kita terus mengarahkan diri agar tetap hidup sesuai kehendak-Nya. Kita memohon agar Tuhan menuntun, sehingga kita bisa jadi pemimpin yang baik. Baik bagi diri sendiri, keluarga, gereja, dan masyarakat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan orang yang taat? (Matius 7:24-27)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menuntut ketaatan kita sebagai bukti bahwa kita percaya kepada-Nya dan mengasihi Dia, tidak ada ketaatan tanpa ada bukti. (pg)

  • MEMUJI TUHAN di Setiap Waktu

    Sahabat, kadang kita kurang menyadari, jika pagi ini kita masih bisa melihat matahari terbit, jika kita masih bisa menghirup udara segar dan bernafas, jika hari ini kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang sehat, mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, lalu kita bisa sampai ke kantor atau tempat kerja dengan selamat tanpa ada halangan, bukankah semuanya itu karena anugerah Tuhan?  Tuhan yang menolong, memelihara, dan menyertai kita.

    Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, kasih dan kebaikan Tuhan tak berkesudahan, Ia ada untuk kita.  Ironisnya, seringkali kita memuji-muji Tuhan hanya saat dalam keadaan baik saja, tapi begitu terbentur masalah, kesukaran, atau pergumulan hidup yang berat, kita tak lagi mau memuji Tuhan.  Mari kita belajar untuk selalu bersyukur!  Jangan hanya karena masalah, lalu kita bersungut-sungut,  kecewa dan akhirnya berhenti memuji Tuhan. Mari kita terus belajar untuk memuji Tuhan di setiap waktu.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMUJI TUHAN di Setiap Waktu”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 134:1-3. Sahabat, Seruan untuk memuji TUHAN dalam Mazmur 134 secara umum ditujukan kepada segenap umat TUHAN, tetapi secara khusus ditujukan bagi para hamba TUHAN atau orang-orang yang sibuk melayani TUHAN.

    Hal terpenting yang harus selalu disadari adalah bahwa TUHAN itu Pribadi yang hidup yang memiliki pendapat dan keinginan. TUHAN itu bisa berbicara, melihat, dan mendengar. TUHAN selalu ingin berkomunikasi dengan manusia. Oleh karena itu, semua orang yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah tidak boleh hanya menyelenggarakan ibadah, tetapi harus turut serta beribadah.

    Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Pemazmur menyerukan kepada semua hamba TUHAN atau semua orang yang menyelenggarakan ibadah untuk memuji nama TUHAN dengan mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN (ayat 1-2).

    Sahabat, bila tidak waspada, orang-orang yang melayani TUHAN bisa menyelenggarakan ibadah tanpa ikut beribadah. Paduan suara bisa mempersembahkan pujian mereka kepada umat TUHAN, namun bukan kepada TUHAN. Pengkhotbah bisa menyampaikan firman TUHAN kepada umat TUHAN dan lupa untuk mendengarkan pesan TUHAN kepada dirinya sendiri. Pemain musik bisa mempertotonkan kehebatannya dan lupa untuk ikut memuji TUHAN dari dalam hatinya sendiri.

    Coba kita memeriksa sejenak hidup penyembahan kita kepada Tuhan selama ini! Bukankah seringkali, penyembahan kita hanya bersifat rutinitas, dengan sedikit atau bahkan tanpa penghayatan sama sekali. Penyembahan seperti itu, bukan penyembahan sejati.

    Sahabat, ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Baiklah kita dengan jujur menyediakan diri untuk dikoreksi dalam ibadah kita. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal. Lantunkan ulang Mazmur 134 ini. Hayati kembali penyembahanmu kepada Tuhan secara segar dan buka hatimu untuk menerima berkat-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa kita harus memuji Tuhan bukan hanya di waktu pagi tapi juga di waktu malam? (Ayat 1 dan Ratapan 3:22-23)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”  (Mazmur 103:2). (pg)

  • BIJAKLAH dalam BERTINDAK

    Sahabat, pengalaman hidup kita  mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap bijak dalam bertindak. Sikap bijak berarti tahu menempatkan diri, tahu membawa diri, tahu apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus diputuskan.

    Bijak dalam bertindak berarti juga harus memadukan antara wadah  atau tindakan nyata kita dengan motivasi hati atau kedalaman batin kita. Tindakan atau sikap hidup kita merupakan cerminan atau pantulan hati. Karenanya menjernihkan dan memurnikan hati menjadi begitu penting. Itulah sebabnya kita perlu mengolah  hati dan rohani kita dengan firman Tuhan setiap hari.

    Usahakan apa yang memancar keluar dari kita, baik melalui tutur kata maupun sikap dan  tindak tanduk kita, selalu memancarkan kebaikan. Bijaklah dalam bertindak.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BIJAKLAH dalam BERTINDAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 34:1-31. Sahabat, suatu ketika, Dina berjalan sendirian. Dia ingin mengunjungi temannya. Sikhem melihatnya dan terpesona. Tanpa berpikir panjang, Sikhem, pemuda Kanaan itu, memerkosa Dina, putri Yakub (ayat 2). Dampaknya serius. Bukan hanya Dina yang merasa terhina, tetapi juga semua anggota keluarganya. Yakub dan anak-anaknya marah karena kejadian itu (ayat 7 dan 31).

    Tidak berhenti sampai di situ, Sikhem hendak mengawini Dina secara paksa (ayat 4). Demi mencapai niatnya, ia menggunakan pengaruh ayahnya untuk membujuk penduduk kota agar memenuhi persyaratan dari anak-anak lelaki Yakub, yang sebenarnya hanya siasat saja (ayat 13, dan 19-22). Akibatnya, semua lelaki penduduk kota mereka, yang sedang kesakitan setelah disunat, mati diparang pedang Simeon dan Lewi (ayat 25-26).

    Sahabat, kita ini hidup bermasyarakat. Baik atau buruk perilaku kita, tak pernah hanya kita sendiri yang menanggung akibatnya. Baik secara langsung maupun tidak, sendiri atau bersama-sama, selalu ada orang yang ikut merasakan dampaknya.Tuhan memberi kita kebebasan individu agar dikelola secara harmonis dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Karena itu bijaklah dalam bertindak.

    Lalu bagaimana seharusnya tindakan  jika kita disakiti, dijahati, dihina, dan dipermalukan? Tuhan Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, …” (Matius 5:38-39)  Lebih lanjut Rasul Paulus menasihati:  “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:17-18).

    Sahabat, pembalasan itu adalah hak Tuhan. Oleh sebab itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita: disakiti, dijahati dan dibenci, marilah kita selalu bersandar kepada Tuhan dan berusaha supaya tindakan-tindakan kita bijaksana.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimana respons kita ketika kita dihina atau dipermalukan? (Matius 5:38-39 dan Roma 12:17-18).

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang bijak adalah orang yang mampu melihat dan menyikapi segala sesuatu dari sudut pandang rohani sehingga ia tahu bagaimana harus bertindak. (pg).

  • ALLAH Melimpahkan BERKAT dalam KERUKUNAN

    Sahabat, di lingkungan tempat tinggal kita ada istilah Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW)   RT dan RW dibentuk dengan tujuan untuk membangun kerukunan antarwarga dalam lingkup kecil.  Mengapa kerukunan itu penting?  Sebab bila masing-masing warga memiliki hubungan yang dekat dan saling mengenal satu sama lain, mereka bisa bekerja sama dan saling tolong-menolong sehingga tidak ada jurang pemisah di antara mereka. 

    Kerukunan, di masa sekarang sepertinya sudah menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Beberapa puluh tahun yang lalu, slogan “gotong royong” di kampung-kampung menggambarkan betapa indahnya hidup dalam kebersamaan.

    Di lingkup yang lebih kecil, keluarga, kerukunan pun mulai memudar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini berawal dari sikap egois yang telah meracuni pola pikir masing-masing individu. Hubungan antar anggota dalam keluarga retak karena egoisme yang mendominasi. Kita seakan lupa tentang janji Tuhan yang diberikan-Nya bahwa: Allah melimpahkan berkat dalam kerukunan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH Melimpahkan BERKAT dalam KERUKUNAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 133:1-3 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, Allah melimpahkan berkat dalam kerukunan. Cara hidup yang penuh konflik dengan sesama dan keluarga tidak akan pernah mendatangkan kebaikan.

    Sebaliknya, keegoisan, kemarahan, dan pertengkaran hanya akan menimbulkan kehancuran yang begitu parah. Ketiadaan kerukunan akan meretakkan dan menghancurkan sebuah keluarga. Namun, mereka yang hidupnya rukun memiliki keuntungan besar! Di sanalah berkat-berkat Tuhan dicurahkan dan Allah hadir dan berdiam dalam keluarga yang rukun.

    Sahabat, keluarga yang rukun tidak tercipta dengan sendirinya, tapi perlu diusahakan, dipupuk dan dibina dari hari ke sehari.  Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membangun kerukunan dalam sebuah keluarga. Pertama,  sediakan waktu bersama.  Membangun mezbah keluarga atau melakukan saat teduh bersama adalah momen terbaik.  Kita juga dapat menyediakan waktu bersama dengan keluarga untuk kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya makan bersama di luar pada waktu akhir pekan atau pergi piknik ke tempat wisata.  Ketika keluarga hidup rukun dan kompak, ikatan emosi antar anggota keluarga akan semakin kuat.

    Kedua, praktikkan kasih.  Keluarga adalah gereja terkecil, tempat awal kita mempraktikkan kasih.  Kasih dapat dinyatakan dengan saling peduli, memperhatikan, menghargai, menghormati dan menolong.   Jika kita mau dikasihi kita pun harus belajar mengasihi;  kalau kita tidak mau disepelekan, kita pun tidak boleh menyepelekan orang lain, oleh karena itu,  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”  (Galatia 6:2).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Tolong bagikan usaha-usaha yang kamu lakukan untuk meningkatkan kerukunan dalam keluargamu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di mana ada kerukunan, di situlah Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. (pg).