Author: Christopherus

  • KEMARAHAN diekspresikan dalam sebuah NYANYIAN

    Sahabat, ketika Anang Hermansyah dikhianati oleh Krisdayanti, istrinya, dia EKSPRESIKAN KEMARAHANNYA dalam nyanyian ciptaannya yang berjudul: “Separuh Jiwaku Pergi”.

    Coba kita simak sebagian dari syair nyanyian tersebut: Benar ‘ku mencintaimu; Tapi tak begini; Kau khianati hati ini; Kau curangi aku.  Perhatikan syair berikutnya: Kau bilang tak pernah bahagia; Selama dengan aku; Itu ucap bibirmu; Kau dustakan semua; Yang kita bina; Kau hancurkan semua.

    Sahabat, nyanyian merupakan salah satu cara untuk  mengekspresikan isi hati. Nyanyian kerap digunakan untuk menceritakan suatu hal secara tersirat. Nyanyian bisa mengungkapkan suasana hati:  Gembira, sedih, atau kecewa.  Tentu kemarahan juga dapat diekspresikan dalam sebuah nyanyian.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “KEMARAHAN diekspresikan dalam sebuah NYANYIAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 5:1-7 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat,  apa yang Allah lakukan terhadap orang Israel dan Yehuda bisa diibaratkan dengan apa yang biasanya dilakukan oleh seseorang atas kebun anggur yang dikelolanya.

    Ia menggarap kebun anggur tersebut dengan sebaik-baiknya dengan harapan pada saatnya dapat menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya karena buah anggur yang dihasilkan kebun anggur itu rasanya asam (ayat 2).

    Sahabat, Israel adalah umat pilihan Allah. Tentu Allah mengharapkan Israel dapat bertindak seperti yang Allah kehendaki, namun Israel justru bertindak membelakangi Allah. Akumulasi dosa membawa mereka ke dalam murka Allah. Dalam murkanya, Allah berfirman, “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, … mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?” (ayat 4).

    Israel kerap bertindak meleset dari ketetapan Allah. Contohnya, dosa menyembah berhala, berzina, dan berbagai perilaku lain yang melukai hati Allah. Hal-hal seperti itulah yang membuat Allah bertindak keras terhadap Israel. Dalam NYANYIAN YESAYA ini tergambar Allah yang menarik perlindungan-Nya atas umat-Nya dan membiarkan Israel dihancurkan (ayat 5-6). Apa yang terjadi pada Israel adalah akibat dari apa yang mereka lakukan terhadap Allah. Hukuman Allah merupakan konsekuensi dari perilaku membelakangi Allah.

    Sahabat, Allah memberikan nubuatan penghukuman dalam bentuk NYANYIAN KEMARAHAN sebagai peringatan kepada umat-Nya supaya mereka berbalik dari perilaku yang jahat dan kembali kepada Allah. Jika tidak, maka hukuman akan terlaksana. Sesungguhnya, ini bentuk KASIH ALLAH kepada umat-Nya.

    Tuhan mengharapkan hidup kita untuk menghasilkan buah-buah yang manis, yang enak dinikmati. Artinya, kita harus mampu menjadi berkat bagi orang lain. Sebuah buah yang manis dan enak tentu dirindukan oleh semua orang. Kita harus hidup berbuah, jangan sampai berakhir sebagai pohon yang tidak menghasilkan buah sama sekali.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menghasilkan buah anggur yang  asam, jadilah pohon anggur yang menghasilkan buah yang  manis dan bermanfaat bagi orang lain. (pg).

  • MENJAGA Kekudusan Keluarga

    Sahabat, inisiatif pernikahan mula-mula berasal dari  Tuhan. Dia yang menciptakan laki-laki (Adam), melihat tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Kemudian Tuhan ingin Adam mempunyai seorang penolong, maka didatangkan segala ciptaan-Nya yang lain kepada Adam supaya Adam menamainya. 

    Namun Adam tidak menemukan seorang penolong yang sepadan dengan dia. Lalu Tuhan membuat Adam tertidur dan menciptakan seorang perempuan dari tulang rusuknya yang diberi nama Hawa (Kejadian 2:18-25).

    Sahabat, pernikahan itu kudus, karena terjadinya pernikahan merupakan karya dan berkat Tuhan. Oleh sebab itu, setiap anggota keluarga, terutama suami dan istri, mempunyai tanggung jawab untuk MENJAGA KEKUDUSAN KELUARGA. Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab agar tidak sampai melanggar perintah Tuhan. Pelanggaran perintah-Nya menyebabkan keluarga kehilangan ketenteraman dan kebahagiaan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “MENJAGA Kekudusan Keluarga.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 5:7-23. Sahabat, Salomo yang telah menunjukkan betapa jahatnya perzinaan, memberikan beberapa penangkal. Ia menasihatkan agar umat menikmati dan memuaskan diri dengan penghiburan dalam pernikahan sah yang telah ditetapkan (ayat 7-13).

    Sedangkan orang muda dinasihati agar menikah dan tidak terbakar oleh hawa nafsu. Orang yang sudah menikah dinasihati agar bersenang-senang dengan pasangan hidupnya sendiri dan mensyukuri bahwa pasangannya itu adalah pemberian Allah.

    Sahabat, sudah sepantasnya hidup berbahagia dijalani dengan pasangan hidup yang dicintai (ayat 14-19), saling menyayangi dan mengasihi dengan mendalam, serta saling memuaskan hasrat, tidak mencarinya dari orang lain yang bukan pasangan hidupnya. Dengan demikian, kebahagiaan hidup bersama keluarga akan terus dirasakan.

    Kunci hidup kudus dalam keluarga adalah takut dan hormat kepada Allah. Hal itu akan terwujud bila kita meyakini bahwa Allah senantiasa melihat semua tindakan manusia, termasuk apa yang ada di dalam hati dan pikiran (ayat 21).  Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segala yang dipikirkan dan dilakukan manusia (ayat 22-23).

    Pernikahan adalah sebuah persekutuan yang dikuduskan oleh Allah dan perwujudan janji setia di hadapan Allah. Pernikahan kudus bermakna kelanggengan, keharmonisan, kedamaian, dan kesejahteraan. Maka, keluarga perlu dijaga kekudusannya dan suasana persekutuan dalam keluarga perlu diisi dengan cinta murni yang mau saling berbagi, saling menguatkan lahir dan batin, sehingga terjalin kesatuan hati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-19?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ibarat obat bius, perzinaan mematikan indra, membuat kita kehilangan kesadaran akan Tuhan dan orang yang mengasihi kita. (pg).

  • BERCAHAYA hingga Rembang Tengah Hari

    Tahukah Sahabat, Alkitab memuat cukup banyak kiasan sehubungan dengan CAHAYA dan TERANG. Berikut saya sajikan beberapa diantaranya: Ungkapan ”cahaya mataku” maksudnya  kemampuan untuk melihat (Mazmur 38:11).

    Jika Allah ”memberikan terang” kepada seseorang, artinya Ia memberinya kehidupan atau membiarkannya terus hidup (Ayub 3:20, 23; bdk. Mazmur 56:13).  ”Bayi-bayi yang tidak pernah melihat terang” artinya bayi-bayi yang lahir mati (Ayub 3:16; bdk. Mazmur 49:20).  ”Melihat matahari itu baik bagi mata” dapat dipahami sebagai betapa indahnya hidup ini (Pengkhotbah 11:7).

    Selanjutnya, “Cahaya wajah-Mu” dimengerti sebagai perkenan ilahi (Mazmur  44:4; 89:16).  ”Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami” adalah suatu ungkapan yang berarti: Perlihatkanlah perkenan atas kami (Mazmur  4:7).  Dengan nada serupa, perkenan seorang penguasa disebutkan sebagai ”Wajah raja yang bercahaya” (Amsal 16:15).

    Saat ini, kita sebagai komunitas orang percaya, semoga bercahaya hingga rembang tengah hari.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar kitab Amsal dengan topik: “BERCAHAYA hingga Rembang Tengah Hari.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 4:1-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat,  dunia memberi nilai tinggi pada kesuksesan. Ukurannya tentu saja kekayaan, jabatan, kehormatan, kepuasan, dan kenyamanan.

    Banyak orang berjuang mengejarnya. Sayangnya, demi kesuksesan, orang dapat melonggarkan moralitas, melegalkan segala cara. Mereka rela berlaku jahat, serong, dan munafik. Mereka menanggalkan firman Tuhan, sehingga hidup dalam kegelapan, tetapi tidak tahu sumber kesesatan mereka. Mereka tidak sadar akan kejahatannya.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa ternyata kesuksesan tidak selalu membuat hidup menjadi bermakna. Banyak orang menjadi pejabat, terkenal, kaya, terhormat, tetapi tidak berguna bagi sesama, bahkan mengalami kekosongan jiwa. Kesuksesan mereka tidak didasari hikmat yang benar. Mereka sukses hanya demi kepuasan diri, bukan kemuliaan Tuhan. Kesuksesan demikian tidak menghasilkan buah kehidupan.

    Orang percaya berpegang pada hikmat dan berjalan menurut pimpinan firman Tuhan. Firman-Nya menjadi pelita, sumber sukacita dan penghiburan yang menerangi jalan mereka.

    Mereka meneladani Sang Terang, setia menjadi terang bagi setiap orang yang dijumpai. Dengan begitu, mereka menyingkirkan kegelapan. Terang bertambah, anugerah pun semakin bertumbuh. Semakin kuat mereka menjaga kekudusan, sukacita, dan kehormatan rohani, semakin deras hidup mereka mengalirkan kemurnian hati, kasih, kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang jahat merasa puas dengan kefasikan, orang benar berpuas dalam hikmat Tuhan. (pg).

  • ReKat: Memiliki STRATEGI HIDUP (15 Agustus 2022)

    Bacaan Sabda: Kejadian 46 : 1 – 34 

    Dari hasil perenunganku dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Kejahatan dibalas kebaikan, faktanya : Terjadinya reuni keluarga besar. Keluarga Yakub  berjumlah 60 jiwa dengan keluarga Yusuf semuanya berjumlah 72 jiwa. Lokasi reuni di Mesir. Sungguh luar biasa, Tuhanlah yang berkuasa mempertemukan mereka. Yusuf yang sebelumnya menjadi korban kekerasan oleh saudara-saudaranya, membalas semua perlakuan tersebut dengan : Limpah kasih,   pengampunan dan penerimaan tulus ikhlas, tak ada dendam, dan tak ada kepahitan.
    1. Israel dengan mantap meninggalkan Kanaan, menuju ke Mesir karena: Pertama, Tuhan yang berkuasa menghendaki Yakub dan keluarganya berangkat menuju Mesir.  Kedua, Yakub taat akan perintah Tuhan yang berkuasa  walau pada saat itu secara fisik sudah melemah karena berusia lanjut. Ketiga, Tuhan yang berkuasa, melalui Yusuf menjamin kebutuhan makan mereka, karena terjadi krisis pangan yang berkepanjangan.

    Terpujilah Tuhan yang berkuasa, bertindak memelihara, menyertai Yakub dan keluarga besar, dan memberi solusi yang tepat.

    (Haryono)

  • TUNAS menjadi KEPERMAIAN dan KEMULIAAN

    Sahabat, Gerakan Pramuka dengan mudah dikenali dengan melihat lambangnya. Lambang Pramuka berupa TUNAS KELAPA. Lambang tersebut digunakan dalam bendera pramuka dan pakaian seragam. Menurut catatan sejarah, tunas kelapa digunakan sebagai lambang Pramuka sejak 14 Agustus 1961. Saat itu Presiden Sukarno melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana Negara.

    Buah Nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal. Cikal dalam bahasa Indonesia memiliki arti penduduk asli yang pertama, yang menurunkan generasi baru. Jadi lambang buah nyiur yang tumbuh itu mengiaskan bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

    Semoga tunas-tunas kelapa akan tumbuh menjadi pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi lurus ke atas menjadi kepermaian dan kemuliaan bangsa Indonesia.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “TUNAS menjadi KEPERMAIAN dan KEMULIAAN”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 4:2-6 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, nubuat Yesaya menunjukkan bahwa umat yang ada saat ini akan dilenyapkan.

    Namun tidak semua akan binasa, sebab akan ada yang disisakan oleh Tuhan (ayat 3). Kaum sisa inilah yang disebut tunas (ayat 2). Kehadiran tunas ini akan diikuti oleh berbagai tanda sebagaimana yang dialami umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir, yaitu segumpal awan di siang hari dan dan segumpal asap terang di malam hari (ayat 5).

    Nubuat Yesaya tidak hanya menunjuk pada kehancuran Israel, namun juga pengharapan hadirnya Israel baru yang akan membangun kembali bangsanya. Tunas baru ini akan bekerja keras membawa kepermaian dan kemuliaan Israel kembali (ayat 2). Jadi, tunas ini merujuk pada sekelompok orang yang tersisa dari Israel. Tunas inilah yang akan membersihkan kotoran yang ada di kota kudus Yerusalem yang berdiri di atas bukit Sion (ayat 4).

    Adalah sebuah hal yang berlawanan ketika hal yang kudus menjadi kotor. Untuk mengembalikan hakikat kekudusan, kekotoran kota harus dibersihkan. Kotornya kota kudus disebabkan ketidakmampuan umat Allah dalam menjaga kekudusan hidupnya. Tugas penyucian ini akan diawali dengan membersihkan umat Allah. Kaum sisa itu yang akan membuat Israel baru menjadi besar dan indah. Israel baru ini akan berdiri dengan aman dan tenteram jika senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan.

    Dalam Perjanjian Lama, tunas dipahami sebagai kaum sisa Israel yang masih menjaga kemurnian dan kesetiaan kepada Allah, sedangkan dalam Perjanjian Baru pengertian tunas mengacu kepada pribadi Yesus. Karena Yesus dipercaya sebagai pemenuhan nubuatan para nabi. Hanya Dia yang mampu membersihkan segala kekotoran dan kenajisan manusia di hadapan Allah.

    Melalui karya-Nya di kayu salib, Yesus telah membentuk gereja-Nya. Semoga tunas yang  telah tumbuh dan berkembang menjadi komunitas orang percaya, akan dapat menjadi kepermaian dan kemuliaan Tuhan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sangat plural.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dunia hari ini bukan hanya mempertontonkan kemajuan teknologi yang dahsyat, melainkan juga kengerian dahsyat yang mengancam dunia. (pg).

  • KOTA SOMBONG

    Sahabat, kesombongan adalah salah satu sifat yang sangat dibenci Allah Tritunggal. Bahkan menurut Amsal 6:16-17, sombong berada dalam urutan pertama dalam daftar perkara yang dibenci Tuhan. Definisi sombong secara umum adalah sifat yang suka meninggikan diri, sok tahu, dan merasa paling hebat.

    Manusia memang rawan sekali dengan kesombongan.  Apalagi saat mereka baru saja memperoleh pencapaian. Keberhasilan dapat mendorong seseorang untuk lebih berprestasi atau sebaliknya membuat dia berpuas diri dan menjadi sombong.

    Di Indonesia ada beberapa kota yang mempunyai julukan khas: Ada Kota Kretek, Kota Pelajar, Kota Wali, Kota Pahlawan, Kota Budaya, dan lain-lain. Tahukah Sahabat di Alkitab ada julukan “Kota Sombong” dan tentu saja ada hukuman bagi kota yang sombong.

    Hari ini kita masih terus belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “KOTA SOMBONG”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 3:1 – 4:1. Sahabat, Tuhan dapat menghukum seorang individu secara pribadi, suatu kelompok masyarakat, suatu kota, maupun suatu negara.

    Hukuman yang diberikan dalam bacaan kita hari ini, walaupun digambarkan sebagai penghakiman terhadap “wanita Sion” (ayat 16), bukan berarti ini khusus untuk para wanita. “Kota” dalam bahasa Ibrani adalah kata berjenis feminin. Pada ayat 26, Sion mengacu kepada suatu kota, “… kota itu akan menjadi seperti perempuan bulus yang duduk di bumi” (ayat 26). Ini menunjuk kepada kota Yerusalem (bukit Sion berada di Yerusalem dan biasanya menunjuk kepada pusat pemerintahan Allah).

    Sahabat, alasan Tuhan memberikan hukuman kepada kota Sion adalah karena mereka menjadi SOMBONG. Sion menjadi KOTA SOMBONG. Sion dengan angkuhnya memamerkan segala keindahan yang dimilikinya dan kehidupannya yang megah.

    Oleh karena itu, Tuhan akan menghukum dengan mencabut segala keindahan yang dimilikinya, mengambil semua perhiasan dan barang-barang mewah yang dimilikinya (ayat 17-23). Perhatikan bahwa segala yang indah akan diganti dengan yang buruk. Ungkapan “SEBAGAI GANTI” muncul lima kali pada ayat 24. Fakta bahwa “wanita Sion” adalah kota ditunjukkan dengan pernyataan, bahwa orang-orang dan para pahlawan kota itu akan tewas dalam perang dan kota Sion tidak akan bertahan (ayat 25-26).

    Sahabat, Sion yang sudah dibesarkan oleh Tuhan telah menjadi tinggi hati. Akibatnya, Tuhan mencabut segala yang mereka banggakan. Apa yang mereka sombongkan akan Allah ganti dengan yang berlawanan supaya kota itu tidak bisa lagi menyombongkan diri.

    Oleh karena itu kita perlu berdoa untuk kota di mana kita tinggal, apa pun penampilan dan pembawaan kota kita. Ketika suatu kota hidup dalam kemewahan dan kesombongan, bukan tidak mungkin Tuhan akan menjatuhkan hukuman ke atasnya, juga mencabut segala yang baik dan menggantinya dengan yang buruk. Marilah kita terus berdoa untuk kota kita masing-masing, tempat di mana Tuhan mengutus kita untuk menjadi berkat dan saksi. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pada saat umat Tuhan sudah tidak lagi hidup menghormati Tuhan, maka yang terjadi adalah kekacauan.  (pg).

  • JANGAN MENUNDA Berbuat Baik

    KEBAIKAN merupakan sifat Ilahi yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya.  Mengapa?  Karena status kita adalah anak-anak terang.  Rasul Paulus menasihati, “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9). 

    Dalam Kisah Para Rasul 9:36-42 dikisahkan tentang seorang murid perempuan bernama Tabita. Tabita atau dalam bahasa Yunani Dorkas banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Orang-orang Yahudi memanggilnya Tabita yang berarti rusa betina.  Di dunia Timur rusa betina adalah gambaran tentang kecantikan.  Kecantikan Dorkas itu terpancar melalui perbuatan baik yang dilakukannya.

    Sahabat, ketika hasrat mementingkan diri sendiri begitu kuat, kita cenderung menampik orang lain. Kita menunda kebaikan untuk merahmati orang lain. Kita membentangkan jarak, dan orang-orang akan menjauh dari kita. Anehnya, suatu hari justru kita yang merasa telah ditinggalkan, diabaikan, tidak dibutuhkan, dan bukan siapa-siapa bagi orang lain. Saat itulah kita akan merasa seperti garam yang tawar, tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang di jalan. Karena itu segeralah lakukan.  Jangan menunda berbuat baik untuk alasan apa pun.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “JANGAN MENUNDA Berbuat Baik.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 3:27-35 dengan penekanan pada ayat 27. Sahabat, ayat 27 mengingatkan kita: “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

    Tuhan Yesus juga mengingatkan kita bahwa dengan berbuat baik kepada sesama, kita sedang menunjukkan kemurahan hati Allah sehingga mereka memuliakan Dia (Matius 5:16). Sudahkah hidup kita menjadi berkat pada hari ini? Ataukah sebaliknya, kita sesungguhnya mampu dan memiliki kesempatan untuk berbuat baik, tetapi kita menundanya dan kita tidak bersedia memberikan kebaikan kepada orang lain?

    Sahabat, di dunia ini tidak sedikit orang yang sesungguhnya tahu untuk melakukan sebuah kebaikan kepada seseorang tetapi tidak melakukannya. Bahkan yang mengejutkan, ada orang-orang yang sengaja menahan hak yang seharusnya diterima oleh orang lain.

    Sekarang periksalah diri kita dan sekelilingnya: Adakah seseorang di sekitar kita yang seharusnya berhak menerima kebaikan kita, tapi kita belum memberikannya? Sadarilah bahwa kita adalah saluran yang dipakai Allah untuk menyalurkan kebaikan-Nya, karena itu kiranya kita tidak sedikit pun menahan atau menyimpan berkat Allah yang seharusnya menjadi bagian orang lain.  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Berdasarkan ayat 27, 29. 30, dan 31, hal-hal apa saja yang tidak boleh kita lakukan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”  (Ibrani 13:16). (pg).