Author: Christopherus

  • Orang BEBAL itu MENGESALKAN

    Siapa yang mau disebut atau dijuluki sebagai ORANG BEBAL?  Saya yakin hampir tidak ada yang mau. Kemungkinan besar ia akan marah besar dan tersinggung bila dikatakan sebagai orang bebal, sebab berbicara tentang orang bebal selalu mengacu kepada orang yang sepertinya tidak dapat berubah lagi hidupnya, hatinya sangat keras  (membatu)  karena tidak mau menerima nasihat dan teguran. 

    Sahabat, orang bebal adalah orang yang tidak mau dan sulit menerima nasihat dan teguran dari firman Tuhan atau pun dari sesamanya.  Ia selalu merasa diri sebagai orang yang benar dan tidak pernah melakukan suatu kesalahan, karena itu ia mencari berbagai alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri dan merasa tidak perlu diajar dan digurui oleh orang lain. 

    Ia menganggap yang harus berubah itu orang lain, bukan dirinya.  Orang bebal adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sehingga ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak pernah disadari atau pura-pura tidak sadar.  Penulis Amsal menyatakan,  “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.”  (Amsal 26:11). Wuuuiiih benar-benar orang bebal itu mengesalkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Orang BEBAL itu MENGESALKAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 14:1-20 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, Amsal 14 menguraikan perbandingan jalan orang bijak dengan orang bodoh. Si bijak membangun rumah yang kokoh, sementara si bodoh membangun rumah yang rapuh (ayat 1) Jalan orang bodoh digambarkan sebagai: Menghina Tuhan (ayat 2), membenci teguran dan didikan (ayat 3), merendahkan agama (ayat 9), melampiaskan nafsu (ayat 16), dan lekas naik darah (ayat 17) .

    Pada dasarnya, mereka tidak memiliki rasa takut dan hormat kepada Tuhan (ayat 2). Ayat kunci yang membedakan kedua jalan ini didasarkan pada Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Amsal mengajarkan kita untuk hidup dalam kekudusan menurut jalan Allah. Namun ada orang-orang yang mencoba untuk hidup kudus tanpa melibatkan Allah. Mereka percaya bahwa “kesucian” adalah sebuah lencana yang bertuliskan “Lihatlah Betapa Istimewanya Aku.” Dengan kata lain, kekudusan mereka diperoleh dari banyaknya perhatian manusia, bukan dari Allah.

    Sahabat, dua orang jatuh ke dalam lubang. Yang pertama seorang anak kecil yang belum bisa membaca tanda peringatan tentang lubang tersebut. Yang kedua seorang dewasa yang meskipun sudah membaca tanda peringatan, memilih untuk mengabaikannya. Apakah perbedaan keduanya? Si anak kecil celaka karena ketidaktahuan, tapi si orang dewasa celaka karena kebebalan. Yang pertama bisa kita maklumi, yang kedua tentu  tidak.

    Orang bebal adalah orang yang meskipun sudah mengerti kebenaran, diajar tentang kebenaran, mereka tetap saja hidup menyimpang dari kebenaran.  Sekalipun tahu sesuatu tidak boleh dilakukan, mereka tetap saja melakukan yang dilarang,  “Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal,”  (Amsal 10:23).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup dalam kebebalan adalah pintu menuju kepada kehancuran hidup! (pg).

  • Ada HARAPAN di MASA DEPAN

    Coba amati ketika sebuah  mobil sedang berjalan, rodanya  terus berputar. Tentu ada bagian yang kadang di atas dan kadang di bawah. Kehidupan manusia pun seperti roda. Saat di bawah, ingatlah bahwa kita pernah di atas. Saat di atas, ingatlah juga bahwa kita pernah di bawah.

    Sahabat, ketika seseorang mengalami hidup yang tidak menentu karena kekalahan, penindasan, penawanan, dan serangan musuh, seringkali ia tidak dapat lagi melihat adanya harapan untuk masa depan.

    Sebaliknya orang yang mengalami kemapanan hidup menjadi angkuh karena apa yang telah ia capai sehingga ia merasa bahwa masa depannya terjamin turun temurun. Kedua hal yang terjadi di atas dapat berubah.

    Orang yang percaya kepada Tuhan tidak perlu kehilangan pegangan hidup walau sedang dalam keadaan susah. Ingatlah selalu ada HARAPAN di MASA DEPAN. Di lain pihak, seseorang tidak seharusnya menjadi sombong hanya karena telah memiliki segala sesuatu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Ada HARAPAN di MASA DEPAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 14:1-23, Sahabat,  Israel pernah berada di titik terendah dalam kehidupan mereka: Dibuang ke Babel dan dipaksa bekerja sebagai budak selama 40 tahun. Sementara, Babel pernah berada dalam situasi kehidupan paling tinggi: Bangsa yang besar, hebat, dan berkuasa. Babel berhasil menaklukkan Siria, Mesir, Aram, Filistin, dan Israel.

    Keberadaan yang kontras antara Israel yang di bawah dan Babel yang di atas dinubuatkan secara terbalik oleh Nabi Yesaya. Israel yang rendah akan ditinggikan, dibebaskan dari perbudakan (ayat 4), menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa (ayat 2-3), pulang kembali ke tanah airnya.

    Sedangkan Babel yang berada di posisi tinggi yang digambarkan sebagai Bintang Timur dan Putra Fajar (ayat 12) akan direndahkan. Kerajaan ini akan mengalami kehancuran kekal. Penyebab utama kehancuran Babel adalah kesombongannya. Babel ingin menjadi sama seperti Allah, bahkan lebih tinggi dari Allah. Inilah yang membuat murka Allah jatuh menimpa Babel (ayat 13-14).

    Sahabat, karena itu, bagi kita yang saat ini merasa di bawah, janganlah tawar hati, sedih, atau putus asa. Tuhan senantiasa memberikan pengharapan serta jalan keluar yang terbaik. Habis hujan tampak pelangi. Badai pasti berlalu, asalkan kita mau taat dan setia serta mengandalkan Tuhan. Di dalam Tuhan ada HARAPAN di MASA DEPAN.

    Sementara itu, bagi kita yang merasa di atas, janganlah sombong, apalagi takabur, lalu merendahkan orang-orang yang sedang berada di bawah. Justru sebaliknya, mari kita pergunakan kekayaan dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk makin mengasihi dan menolong banyak orang, terutama mereka yang saat ini mengalami situasi hidup yang sulit karena merosotnya perekonomian. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat dapatkan dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita tetap berjalan dengan mata yang tertuju kepada Tuhan dan berharap penuh kepada-Nya apa pun yang terjadi. (pg).

  • HUKUMAN terhadap KESOMBONGAN

    Sahabat, Tuhan yang penuh anugerah mencurahkan banyak rahmat sehingga manusia yang lemah menjadi HEBAT, KUAT dan BERMANFAAT bagi orang lain. Sayangnya, keterampilan dan kelebihan yang  mereka miliki sering disalahartikan sebagai kehebatan diri; dan kemudian mereka menjadi lupa diri.   Hal itulah yang membuat mereka menjadi sombong. Allah kemudian murka terhadap kesombongan mereka dan mendaratkan hukuman kepada mereka.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “HUKUMAN terhadap KESOMBONGAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 13:1-22. Sahabat, bacaan kita pada hari ini berisi ucapan Allah melalui Nabi Yesaya tentang hukuman-Nya kepada Babel, bangsa yang telah menaklukkan Israel dan menjadikannya tawanan. Kitab Yesaya memuat berbagai penghukuman Tuhan, bukan hanya terhadap bangsa Israel (Israel Utara maupun Israel Selatan) melainkan juga terhadap bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa Asyur dan Babel.  

    Tuhan memakai bangsa Asyur untuk menghukum bangsa Israel (Kerajaan Utara), dan bangsa Babel Tuhan pakai untuk menghukum bangsa Asyur dan Yehuda (Israel Selatan). Bangsa Babel kemudian ditaklukkan oleh bangsa Media-Persia, orang Madai. (ayat 17).

    Sahabat, nubuat penghukuman Babel diberitakan saat Asyur masih menjadi ancaman, jauh sebelum Babel berkuasa dan menghancurkan Yerusalem. Nubuat ini hendak menyatakan bahwa kekuatan dunia akan dikalahkan oleh kekuatan Allah bukan dengan peperangan melainkan oleh kuasa Tuhan atas segala bangsa. Tuhan memang menghukum Israel yang telah berdosa dan Ia memakai Babel untuk melaksanakan penghukuman itu. Namun Tuhan juga akan menghukum Babel karena kesombongan mereka (ayat 11).

    Penghukuman Tuhan yang diekspresikan dalam kemarahan-Nya terhadap bangsa Babel ini bukanlah sebuah tindakan sewenang-wenang dan tidak terkendali. Jauh sebelum penghukuman dilakukan, Tuhan melalui nabi Yesaya sudah memberitakannya (ayat 6). Tuhan tahu tindakan yang akan Ia lakukan dan alasannya. Kemarahan Tuhan berada dalam kemahatahuan-Nya tentang dunia dan kejahatannya. Ia sedang memusnahkan kesombongan manusia di dalamnya.

    Sahabat, kesombongan memang sulit dideteksi sampai suatu saat hal itu menghancurkan orang yang sombong. Kita mungkin mulai dengan kesediaan dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk menyatakan kebenaran, termasuk dengan menegur kesalahan orang. Kadang, tanpa kita sadari kesombongan mulai menyusup ke dalam hati. Kita tidak sadar bahwa kita sendiri juga bisa bersalah. Penghukuman Tuhan kita anggap hanya berlaku pada mereka dan bukan bagi kita. Kita menganggap sepi peringatan Tuhan atas kesalahan kita, sampai akhirnya kita mendapati diri dalam kesendirian karena kita telah kehilangan segalanya (ayat 12-20).

    Itulah peringatan Tuhan bagi kita, umat-Nya. Kita mungkin tidak mencuri, berzina, membunuh, atau korupsi. Namun, ada kejahatan lain yang tidak kita sadari karena kesombongan telah menutupinya. Kekacauan yang kita alami, yang berada di luar kendali kita, mungkin merupakan alat Tuhan untuk menegur kesombongan kita. Kita harus segera menyadari bahwa itulah tanda Dia mengasihi kita dan menginginkan kita bertobat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 11?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat Tuhan berkenan memakai kita, bersikaplah rendah hati supaya Ia memakai kita untuk perkara yang lebih besar. (pg).

  • Cepat DAPATNYA, Cepat HABISNYA

    Sahabat, saya ingat dan hafal di luar kepala sampai saat ini peribahasa lama yang berbunyi: “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” yang maknanya: Usaha kecil yang dilakukan dengan tekun dan terus menerus pada akhirnya akan membuahkan hasil.”.

    Bagi saya peribahasa tersebut bukan hanya sebuah tugas dari seorang guru  untuk dihafal oleh anak didiknya. Saya benar-benar sudah menikmati hasilnya. Saya benar-benar merasakan manfaatnya. Ketika saya masih duduk di bangku SD, Mami saya melatih saya supaya tekun menabung di celengan dari tanah liat. Saya paling senang dengan celengan ayam jago dan harimau. Yang paling saya ingat ketika saya ingin memiliki jam tangan dan tas sekolah dari kulit, saya harus berjuang dengan tekun dalam waktu cukup lama untuk mendapatnya.

    Sekarang generasi milenial hidup di zaman yang sangat mendewa-dewakan yang namanya kecepatan. Semua dituntut serba instan dan cepat serta super kilat. Tapi ingatlah dan percayalah bahwa prinsip yang disampaikan oleh Raja Salomo yang penuh hikmat dan tajir melintir masih berlaku sampai hari ini: Cepat dapatnya, cepat habisnya.

    Hari ini kita akan melanjutnya belajar dari kitab Amsal dengan topik: Cepat DAPATNYA, Cepat HABISNYA. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 13:9-16 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, bacaan kita pada hari ini berbicara mengenai hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari.  

    Sesungguhnya harta akan sangat berarti bagi kita, jika kita peroleh dengan perjuangan yang penuh ketekunan dan kebaikan. Mengapa? Penulis  Amsal mempunyai pengalaman bahwa harta yang diperoleh dengan mudah akan cepat habis pula.  Bagi penulis Amsal bukan sekadar teori, tetapi kenyataan. Realitas hidup sepeti itu masih tetap berlaku sampai sekarang.

    Menabung adalah gambaran ketekunan dan kesabaran. Kita sering secara tidak sabar menginginkan sesuatu yang besar. Kedagingan kita menginginkan serba cepat dan enak. Kita berdoa agar Tuhan memudahkan usaha kita, memberkati kita lebih banyak, dan menjauhkan kita dari segala kesukaran dan kerugian.

    Sahabat, nyatanya, hasil yang didapatkan dengan cara instan kebanyakan habis juga dengan cara instan. Pada hari ini Firman Tuhan mengingatkan kita, “… siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit menjadi kaya.” (ayat 11) Karena itu, kalau kita meminta sesuatu yang besar, tetapi Tuhan melatih ketekunan dan kesabaran kita untuk mendapatkannya, jalanilah dengan rela. Sekecil apa pun berkat yang kita terima setiap hari, syukuri dan kumpulkan.

    Tuhan bisa memberi dengan cepat atau lambat, jadi biarkan Dia memproses kita menurut kebaikan-Nya. Dia memberkati orang-orang yang mau berusaha dan mengumpulkan sedikit demi sedikit.

    Sahabat, bersyukurlah kalau Tuhan saat ini melatih kita bertekun dan bersabar melalui proses untuk mencapai tujuan yang besar. Dia tidak akan pernah terlambat memberikan berkat pada waktu yang terbaik bagi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Syukurilah berkat Tuhan yang bisa dikumpulkan sedikit demi sedikir setiap hari. (pg).

  • KESUKSESAN malas BERSAHABAT dengan Si PEMALAS

    Sahabat, penggalian arkeologi di Semenanjung Arab telah mendorong dilakukannya satu penelitian tentang bagaimana Homo Erectus, suatu spesies manusia purba, membuat peralatan dan bagaimana mereka memanfaatkan sumber alam.

    Ternyata, mereka menggunakan “strategi minimal usaha” untuk bertahan hidup. Strategi bertahan hidup ini kemudian menjadi masalah besar ketika lingkungan tempat mereka hidup berubah. Dr. Ceri Shipton dari Australia National University mengatakan, bahwa mereka tampaknya tidak mengembangkan diri mereka sendiri. Ia mengatakan, untuk membuat perkakas batu, mereka hanya menggunakan batu apa saja yang dapat mereka temukan tergeletak di sekitar tempat tinggal mereka, yang sebagian besar berkualitas rendah dibandingkan dengan batu yang digunakan oleh manusia di peradaban setelahnya.

    Menurut para peneliti dari hasil penggalian arkeologi di Semenanjung Arab, manusia purba Homo Erectus mengalami kepunahan dikarenakan mereka MALAS, tidak berupaya untuk berkembang maju. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “KESUKSESAN malas BERSAHABAT dengan Si PEMALAS.”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 12:20-28 dengan penekanan pada ayat 24 dan 27. Sahabat, KESUKSESAN sangat senang MENDATANGI  orang yang mau bekerja keras. Kesuksesan malas bersahabat dengan Si Pemalas.

    Orang-orang hebat yang ada di dunia ini adalah tipe orang yang rajin dan pekerja keras. Kesuksesan yang diraihnya adalah akibat dari ketekunan dan hasil perjuangan yang tidak mengenal lelah, bukan datang seperti durian runtuh, tetapi melalui proses yang panjang. Tidak ada dalam kamus hidupnya berpangku tangan sepanjang hari.

    Sahabat, kadang kita memang tidak bisa mencegah rasa malas menyerang, namun kita dapat menolak untuk berkompromi. Kalau kita kompromi, apa yang orang lain percayakan atau apa yang harus kita kerjakan jadi tertunda atau bahkan gagal. Bukan karena tugas itu sulit atau waktu yang diberikan kurang, namun karena kita sendiri yang bermasalah.

    Penulis kitab Amsal menuliskan sebuah kalimat bijak bahwa orang yang malas tidak akan pernah menangkap buruannya (ayat 27). Bagaimana bisa meraih cita-cita kalau tidak ada sesuatu hal yang berharga dilakukan dengan serius.

    Sebaliknya, dinyatakan disana bahwa orang yang rajin akan memperoleh apa yang dikejarnya bahkan bisa apa saja yang diperolehnya melebihi apa yang sebelumnya diukurkan. Orang malas akan selalu kehabisan waktu, sebaliknya, mereka yang rajin akan selalu menjadikan seluruh waktunya teramat berharga.

    Tuhan sudah menyediakan rezeki bagi kita, namun kita perlu rajin mengupayakannya. Mari kita berjuang untuk menjadi pribadi yang rajin sehingga Tuhan dan sesama senang dengan kinerja kita dan kesuksesan senang bersahabat dengan kita. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 24?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seorang pemalas enggan untuk membajak dan menabur, akibatnya ia tidak akan menuai apa-apa ketika musim penuaian tiba. (pg).