Author: Christopherus

  • SANJUNGAN: Bak MINYAK yang LICIN Tertuang di Jalan

    SANJUNGAN. Sahabat, di ZAMAN NOW hampir semua orang ingin  menjadi orang terkenal, yang DIPUJI dan DISANJUNG oleh banyak orang.  Dunia memang haus akan sanjungan, penghargaan dan pujian.  Banyak yang rela mengorbankan waktunya demi meraih popularitas dan sanjungan dari pihak lain.

    Namun bagi kita sebagai orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan, berhati-hatilah!  Jangan sampai kita haus pujian dari orang lain, karena biasanya kata-kata pujian dan sanjungan itu sangat berbahaya.  Sebab apabila kita mabuk SANJUNGAN kita akan tergelincir.  Sanjungan itu bagaikan minyak yang licin tertuang di jalan, siapa pun yang lewat pasti akan jatuh tergelincir. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “SANJUNGAN: Bak MINYAK yang LICIN Tertuang di Jalan”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 39:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Raja Hizkia sakit dan nyaris mati. Namun Tuhan menyembuhkannya. Mendengar sang raja telah sehat kembali, raja Babel mengirim utusan dan memberikan hadiah sebagai tanda sukacitanya. Merasa TERSANJUNG karena mendapat perhatian dari penguasa negeri yang besar, Hizkia memamerkan seluruh harta bendanya, termasuk gudang senjatanya kepada para utusan tersebut. Ya semuanya dipamerkan!

    SANJUNGAN membuatnya kehilangan kepekaan. Ia lupa bahwa Babel adalah musuh bangsanya. Lalu Nabi Yesaya menegur sang raja. Ia menubuatkan bahwa semua harta berharga di Kerajaan Yehuda itu akan diangkut ke Babel, termasuk keturunan sang raja. Namun itu tidak terjadi pada masa hidupnya.

    Ternyata SANJUNGAN raja Babel membuat kepekaan raja Hizkia menjadi tumpul. Mendengar nubuat tersebut, Hizkia berpura-pura senang. Ia bahkan memuji bahwa firman Tuhan yang Yesaya sampaikan itu sangat baik.

    Keterlaluan, Hizkia bukannya menyesali tindakannya dan bertobat, malah merasa lega karena hukuman itu tidak terjadi semasa hidupnya. Hizkia, yang sebelumnya sangat mengandalkan Tuhan, serta dengan berbagai upaya telah menjauhkan bangsanya dari penyembahan berhala, akhirnya menjadi picik dan tidak peduli dengan masa depan bangsanya. KEMAPANAN  dan SANJUNGAN MANUSIA membuatnya lupa diri, mabuk kepayang.

    Sahabat, sesungguhnya hidup mengandalkan Tuhan bukanlah perkara sekali jadi, melainkan komitmen setiap hari. Ada banyak hal yang dapat membuat kita tergelincir darinya: Sanjungan manusia, kemapanan, kekayaan, kesuksesan, kuasa jabatan, godaan gemerlap dunia, dan lain-lain. Karenanya kita perlu tetap waspada, agar tidak menjadi picik dan hanya memikirkan diri sendiri.

    Segala yang kita miliki adalah karya kasih Allah dalam kehidupan kita. Semuanya mempunyai tujuan untuk memuliakan Allah. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya dengan menghilangkan peran Allah. Akuilah kasih-Nya dalam semua keberhasilan yang ada dan muliakanlah selalu keagungan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan  tidak pernah tertidur dan terlelap, Dia senantiasa memerhatikan dan menyediakan upah untuk setiap jerih lelah kita bagi Dia. (pg).

  • MENIKMATI HIDUP

    Sahabat, pada suatu sore, Santo bercerita tentang Nining, istrinya. Ketika kedua anaknya masih kecil, penghasilannya kecil, kondisi ekonomi keluarganya tentu saja pas-pasan. Kemudian Nining minta izin supaya dia diperbolehkan  kembali bekerja.

    Akhirnya Nining  mulai bekerja lagi. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, ia dipromosikan untuk jabatan yang cukup tinggi. Tentu materi tidak lagi menjadi persoalan bagi keluarganya. Namun, Nining sekarang terlalu sibuk untuk mengurus anak-anak atau menemani suaminya. Saat mereka mendapatkan kesempatan untuk pergi sekeluarga pun, ia tak pernah bisa lepas dari tuntutan pekerjaan. Ponselnya selalu berdering.

    Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Hubungan dengan suaminya pun memburuk. Seolah ada jurang yang makin menganga yang memisahkan mereka. Lama-kelamaan, Nining berubah menjadi pribadi yang cepat marah, sulit puas, dan banyak menuntut.

    Sahabat, ironis bukan? Penghasilan yang diperoleh seseorang dari pekerjaannya seharusnya membuatnya lebih leluasa melakukan apa yang ia inginkan. Nyatanya, tak selalu demikian. Kesibukan bekerja dapat berbalik menjadi penghambat. Lebih parah lagi, pekerjaan yang seharusnya membuat seseorang bisa membahagiakan keluarga, tidak jarang justru menjadi sumber kehancuran keluarga.

    Jangan izinkan pekerjaan menghancurkan kebahagiaan keluarga kita. Kita harus tahu, kapan kita harus berhenti sejenak untuk MENIKMATI HIDUP.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “MENIKMATI HIDUP”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 5:7-19 dengan penekanan pada ayat 17-19. Sahabat, menurut Pengkhotbah, alangkah baiknya jika orang makan-minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih-payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya. Allah juga mengaruniakan kepada manusia kekayaan dan harta benda serta kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya (ayat 17-18).

    Sahabat, sesungguhnya setiap hari yang Tuhan sediakan bagi kita merupakan  kesempatan bagi kita untuk menikmati hidup. Setiap jam dan menit sangat berharga. Kita seharusnya menikmati pengalaman hidup setiap hari dengan gembira. Bukan berarti kita hidup selalu berfoya-foya dan sembrono. Kita menikmati hubungan, pelayanan, waktu, kegiatan, kekayaan, dan harta secara bijaksana, penuh syukur, dan sukacita. Kita juga menikmati hidup sebagai kesempatan untuk mencari, mengenal, dan mengalami Tuhan.

    Pengkhotbah menasihati kita untuk bekerja dengan baik (Pengkhotbah 9:10). Dengan demikian, melalui pekerjaan kita, kemuliaan Allah dinyatakan. Melalui pekerjaan kita, semakin banyak orang diberkati. Karena itu, jangan izinkan pekerjaan menjauhkan kita dari impian kita. Jangan izinkan pekerjaan menghancurkan kebahagiaan keluarga kita. Kita harus tahu, kapan kita harus berhenti. Bukan untuk terus berpangku tangan, tapi untuk beristirahat dan menikmati hidup. Berhentilah sejenak dari kesibukan kerja. Bersukacitalah dalam hasil jerih payah kita (ayat 17-18). Nikmati hal-hal yang menyenangkan hati (ayat 19). Itu semua merupakan karunia Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada salahnya menikmati kesenangan hidup, itu juga karunia Allah. (pg).

  • ReKat: Memang LIDAH TAK BERTULANG (17 Oktober2022)

    Bacaan Sabda: Amsal 26 : 17 – 28

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Hikmat yang saya peroleh dari perenungan pada hari ini yaitu peringatan untuk menyimak dan bersikap waspada. Lebih bijaksana untuk menghindari dan menjauhkan diri daripada terseret ikut serta di dalam pertengkaran. Berbahaya jika sampai berurusan di dalam persoalan orang lain, yang tidak ada kaitannya dengan diri sendiri. Terlebih jika tidak melihat langsung, hanya sekadar mendengar dari katanya orang.
    1. Saya memahami  ayat 22-23 sebagai berikut: Sungguh harus disadari bahwa tidak semua informasi itu benar adanya. Oleh karena itu kita perlu newaspadai, untuk menyelidiki dengan cermat,  hati-hati dan teliti. Sering  bermunculan berita yang kedengarannya dan kelihatannya baik, enak didengar telinga, tetapi sesungguhnya jika tidak peka, justru akan mencelakakan dan  membahayakan diri sendiri

    (Haryono)

  • The Meaningful Life

    BERGUNA! Berguna berarti berfaedah, bermanfaat, mendatangkan kebaikan. Albert Einstein, sang maestro Fisika asal Jerman berkata,”Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusalah menjadi manusia yang berguna.” Sebenarnya jauh sebelum itu, Plato, seorang filsuf asal Yunani sudah mengajarkan pentingnya hidup yang berguna, “Kerendahan seseorang diketahui melalui dua hal: Banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna, dan bercerita padahal tidak ditanya.”

    Sahabat, Allah mendesain manusia sebagai makhluk sosial, maka tidak ada seorang pun manusia yang dapat hidup dengan dirinya sendiri untuk dirinya sendiri. Dia butuh orang lain untuk hidupnya dan di dalam hidupnya. Saya dapat ada sebagaimana adanya saya saat ini karena ada teman-teman di sekeliling saya yang memberi kepercayaan, yang membuka kesempatan, dan yang memberi dukungan kepada saya. Sesungguhnya hidup kita menjadi berguna ketika hidup kita berguna bagi sesama.

    Sesungguhnya cukup banyak jalan,  baik yang  sederhana maupun spektakuler,  yang bisa dipakai agar orang berguna bagi sesama dan alam semesta.Sebaik-baiknya orang, orang yang berguna bagi sesama dan alam semesta adalah orang yang sungguh bernilai. Sedangkan orang yang paling nelangsa adalah orang yang merasa sudah tidak berguna lagi. Jangan sampai hidup kita menjadi sia-sia. Semoga hidup kita menjadi berguna. The meaningful life.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “HIDUP yang BERGUNA”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 4:9-16 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, jika membaca kitab Pengkhotbah secara sekilas, orang akan menganggap bahwa kitab ini adalah kitab yang pesimistis. Pandangannya begitu pesimis terhadap kehidupan di dunia, sebab semuanya sia-sia. Benarkah demikian? Tidak. Apakah ada hidup yang tidak sia-sia? Ada! Ada hidup yang tidak sia-sia yaitu HIDUP YANG BERGUNA. The meaningful life.

    Di bawah kolong langit ini, masih ada hidup yang bermakna. Kita mulai menangkap pesan tersebut dari perbandingan yang dibuat oleh Pengkhotbah. Kalau semua sia-sia, untuk apa ia membuat perbandingan? Perbandingan itu dilakukan untuk mendapatkan yang lebih ideal, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, …”  (ayat 13)

    Maka, berhikmat lebih baik dari pada bodoh. Lebih jauh lagi, bagaimana agar orang menjadi berhikmat? Ia tidak boleh terpaku pada apa yang ada di bawah langit. Ia harus menatap ke atas langit, ke Tuhan. Dengan mengandalkan Tuhan sebagai pemberi hikmat dan tuntunan, hidup yang dijalani di bawah matahari tidak menjadi sia-sia, tetapi menjadi bermakna. Menjadi berguna. Menjadi berdampak.

    Sahabat, sesungguhnya Pengkhotbah menasihati kita untuk tidak melekat pada dunia yang fana, tetapi melekat kepada Tuhan yang kekal. Hidup di dunia memang sementara, tetapi bukan kesia-siaan, asalkan kita bersandar pada  Tuhan. Hikmat-Nya memberikan tuntunan mengenai misi penting yang mesti kita kerjakan dalam kesementaraan waktu, yaitu:  Menyatakan kasih-Nya bagi semua ciptaan-Nya. Dengan demikian niscaya hidup kita  tidak sia-sia! Haleluya! Allah itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup yang tidak menjadi parasit sosial, tapi berguna bagi orang lain dan alam semesta merupakan imunitas luar biasa bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian alam semesta. (pg).

  • The true UNDERSTANDING of GOD is the ROOT of our FAITH

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa beriman berarti tidak dapat memakai akal budi. Ini pemikiran kurang tepat. Iman dan akal budi seharusnya dapat berjalan bersama karena akal budi kita juga diberikan oleh Allah.

    Sesungguhnya pengenalan akan Allah merupakan pusat dari keselamatan kita dan dari semua pengalaman kerohanian kita yang benar. Kita diciptakan untuk mengenal Allah. Dalam Alkitab, pengenalan akan Allah hampir setara dengan keselamatan itu sendiri. Yesus sendiri berkata bahwa hidup yang kekal atau keselamatan berarti pengenalan akan Allah, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).

    Menjadi seorang percaya bukanlah pengalaman yang tanpa akal, tetapi mencakup pula hikmat dan pengertian. Menjadi orang percaya berarti sebuah hubungan yang begitu dekat dan intim dengan Allah, Pencipta Langit dan Bumi. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa pemahaman yang benar  tentang  Allah  adalah akar dari iman kita. The true understanding of God is the root of our faith.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The true UNDERSTANDING of GOD is the ROOT of our FAITH”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 37:1-20. Sahabat, mendengar perkataan utusan Asyur, Hizkia mengoyakkan pakaiannya dan menyelubungi badannya dengan kain kabung, lalu masuk ke rumah Tuhan (ayat 1).

    Hizkia sadar bahwa ia hanya dapat berharap kepada Tuhan, karena sejauh itu tidak ada negeri yang dapat melepaskan diri dari Asyur. Ia pun mengirim utusan kepada Yesaya untuk berdoa supaya Tuhan menghukum Asyur yang telah mencela Dia (ayat 4). Kemudian Yesaya mengirim pesan supaya Hizkia tidak takut karena raja Asyur akan pergi dan nantinya akan mati dibunuh di negerinya sendiri (ayat 7).

    Lalu utusan Asyur kembali kepada Hizkia dengan sekali lagi menyuruh Hizkia untuk tidak percaya kepada Allahnya, sebab selama itu tidak ada allah yang dapat melepaskan negerinya dari tangan Asyur (ayat 9-13). Mendengar ini, Hizkia pergi ke rumah Tuhan dan berdoa agar Tuhan bertindak bagi nama-Nya yang telah dicela oleh Asyur dan menyelamatkan mereka dari tangan raja yang sombong itu (ayat 20).

    Mengapa Hizkia tidak terpengaruh oleh fakta bahwa Asyur sudah menaklukkan banyak negeri? Itu  karena Hizkia memahami bahwa “… Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi” (ayat 16), sedangkan allah-allah lain hanya buatan tangan manusia, sebab itu dapat dibinasakan orang (ayat 18).

    Sahabat, pengertian yang benar tentang Allah membuat Hizkia beriman kepada Allah. Maka kenallah Allah dengan baik agar kita bertumbuh dalam iman dan bertindak berdasarkan iman. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya kepada Allah saja kita dapat bergantung dan berserah total. (pg)