Author: Christopherus

  • Being an OPEN SERVANT, Just the Way He is

    MENJADI DIRI SENDIRI. Tuhan tidak menciptakan Sahabat dan saya untuk menjadi orang lain. Ketika kelak kita tiba di surga, Tuhan tidak akan bertanya mengapa kita tidak menjadi seperti saudaramu, atau tetanggamu atau teman sepelayananmu.  Tuhan menciptakan kita sangat spesial, sangat unik, dan Dia tidak ingin kita berpura-pura menjadi seperti orang lain.

    Tuhan ingin kita  menjadi dan tampil sebagaimana adanya. Berani menjadi diri sendiri. Berani terbuka apa adanya. Rasul Paulus berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

    Masalahnya, masih ada cukup banyak orang yang mencoba menjadi orang lain. Mereka menjalani hidup untuk mendapat persetujuan dari orang lain. Ada juga yang berpikir bahwa Tuhan akan lebih mengasihi mereka apabila mereka bertingkah laku seperti Si A, Si B atau Si C. Sesungguhnya, kasih dan penerimaan Tuhan tidak didasarkan pada hal tersebut. Tuhan justru tetap menerima dan mengasihi kita sebagaimana adanya kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Being an OPEN SERVANT, Just the Way He is (Menjadi HAMBA yang TERBUKA, Apa Adanya)”.  Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 18:1-23 dengan penekanan pada ayat 18-23. Sahabat, masih ada orang percaya yang berpendapat kalau yang namanya pelayanan dan melayani Tuhan serta sesama, maka pasti akan selalu berjalan lancar, tidak ada permasalahan, pergumulan dan tantangan. Sementara, realitas berbicara lain. Keletihan dan masalah acap mendera pelayanan dan orang-orang yang melayani. Bagaimana menyikapi hal tersebut?

    Dalam bacaan kita pada hari ini, khusus ayat 18-23 merupakan DOA YEREMIA yang   menyodorkan PERSPEKTIF BERBEDA kepada kita. Jelas dipaparkan bahwa Yeremia berbicara dan melakukan pelayanannya atas dasar panggilan Tuhan. Pelayanan yang dilakukan atas nama Tuhan justru membuatnya menjadi musuh nasional. Tugas yang diemban dari Tuhan memang SANGAT SULIT dan BERAT.

    Ia harus memperingatkan orang-orang sebangsanya tentang malapetaka yang akan menimpa mereka. Sementara orang banyak itu lebih suka dibiarkan larut dalam kenyamanan hidup, tanpa mau memusingkan masa depan yang buruk, yang menanti mereka. Bagaimana menyikapi kondisi dilematis seperti itu?

    Sesungguhnya Yeremia bisa memilih untuk menjadi populer dan menyuarakan apa yang ingin didengar oleh  orang banyak, atau ia bahkan bisa tak peduli dan melanjutkan hidup dengan urusan pribadinya, membangun bisnis dan keluarganya. Namun, ia tidak melakukan keduanya. Ia TETAP SETIA  memenuhi PANGGILAN TUHAN dan memikirkan kebaikan orang banyak. Masalahnya, orang banyak ini tak sependapat dengan Yeremia tentang apa yang baik bagi mereka. Ini membuat Yeremia terjepit dan serba sulit.

    Sahabat, doa Yeremia menyuarakan FRUSTASINYA.Apa yang bisa kita pelajari? Setelah terlibat lama dalam pelayanan, seringkali tanpa kita sadari,  kita menjadi ahli dalam memakai topeng. Kita bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kita menyembunyikan pergumulan kita.

    Kita tidak lagi autentik di depan orang banyak, bahkan di hadapan Tuhan! Kita telah  kehilangan identitas dan menjadi bunglon-bunglon rohani yang tak lagi terhubung dengan jati diri kita. Bahwa doa Yeremia dimuat dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan menghargai kita yang autentik; Tuhan ingin berjumpa kita apa adanya. Tuhan rindu kita berani terbuka, apa adanya. Tuhan rindu kita berani menjadi diri sendiri. Maka lepaskan topeng kita, tanggalkan kepura-puraan kita dan temuilah Dia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Milikilah penyerahan diri penuh kepada pembentukan Tuhan, sebab Dia tahu yang terbaik buat kita! (pg).

  • Live as CHILDREN of LIGHT

    CAP GO MEH. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa, dan berakhir pada tanggal ke-15 di bulan yang sama. Perayaan yang dilakukan pada tanggal ke-15 setelah Tahun Baru Imlek itu dikenal dengan nama: Perayaan Cap Go Meh.

    Tahun ini, perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari Minggu, 5 Februari 2023, atau lima belas hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada hari Minggu, 22 Januari 2023.

    Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien. Cap go artinya 15, sedangkan meh artinya malam. Jadi Cap Go Meh artinya  malam kelima belas. Sebutan Cap Go Meh hanya dikenal di Indonesia saja. Hal tersebut dikarenakan pengaruh dari bahasa Hokkien.  Beberapa sumber ada yang menyatakan  bahwa perayaan Cap Go Meh bertujuan untuk menghormati dewa tertinggi di Dinasti Han.

    Cap Go Meh dalam konteks internasional disebut juga dengan Lantern Festival atau Festival Lentera (Lampion). Sedangkan di wilayah Tiongkok, perayaan tersebut dikenal sebagai Yuánxiojié atau Shàngyuánjié.

    Sejarah Cap Go Meh dapat ditelusuri hingga era Dinasti Han, sekitar tahun 206 SM hingga 220 M. Saat itu, para biksu Buddha menyalakan lentera pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek untuk menghormati Sang Buddha. Ritual tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat umum dan menyebar hingga ke seluruh China serta beberapa wilayah Asia.

    Dalam rangka memperingati Perayaan Cap Go Meh pada hari ini, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan firman Tuhan dari Surat Efesus dengan topik: “Live as CHILDREN of LIGHT (Hidup sebagai ANAK-ANAK TERANG)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Efesus 5:1-14 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi adalah tidak berfungsinya lampu penerang pada jalan dan pada kendaraan. Dalam kondisi yang gelap, pengendara mesti ekstra hati-hati. Kondisi gelap dalam perjalanan sungguh membahayakan keselamatan.


    Dalam perjalanan hidup di dunia, manusia juga membutuhkan penerang yang menjamin keselamatan. Tanpa penerang hidup, manusia akan menjalani hidup asal hidup, tak punya tujuan yang jelas, serba salah, sehingga bukan keselamatan yang diperoleh, tetapi kecelakaan dan kematian.

    Namun, syukur kepada Allah, Yesus Kristus hadir dan berkarya di dunia, menyatakan JALAN TERANG, kebenaran dan hidup yang sejati. YESUS adalah TERANG DUNIA  yang memanggil manusia keluar dari jalan kegelapan. Oleh karena Dia, kita yang percaya kepada-Nya menjadi ANAK-ANAK TERANG (ayat 8). Artinya, kita adalah penerang hidup dalam perjalanan manusia di dunia. Melalui pikiran, perkataan dan perbuatan kita, kita seharusnya hidup dalam iman, pengharapan dan cinta kasih. Kita berbuah kebaikan, kebenaran, dan keadilan bagi dunia ini (ayat 9).

    Kalau mau jujur, kita mungkin belum sungguh menjadi penerang hidup. Keserakahan, kekerasan dalam rumah tangga atau keluarga (termasuk kepada anak-anak), dan ketidakadilan masih terjadi dalam hidup kita. Dunia semakin hari semakin diliputi oleh kegelapan yang pekat karena kejahatan manusia yang semakin memuncak!  Kegelapan hanya dapat dikalahkan oleh terang. 

    Sahabat, sepekat apa pun kegelapan itu, terang tetap mampu menembusnya.  Sebagai anak-anak terang kita harus mampu MENEMBUS  dan MENGALAHKAN KEGELAPAN DUNIA  melalui KETELADANAN hidup kita. Keteladanan itu jauh lebih dahsyat kekuatannya daripada perkataan semata.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita gagal menjadi terang bagi dunia selama hidup kita tidak bisa menjadi teladan! (pg).

  • The MYSTERY of GOD, The CREATOR

    MISTERI ALLAH. Sampai saat ini, lukisan Monalisa dianggap sebagai lukisan paling terkenal di dunia. Mahakarya dari Leonardo da Vinci itu paling sering menjadi subjek tulisan, nyanyian, dan parodi di seluruh dunia. Salah satu hal yang membuat lukisan potret abad ke-16 itu menjadi begitu terkenal adalah kemisteriusan senyum dari subjek lukisan tersebut. Banyak peneliti mencoba untuk menafsirkannya. Senyum itu seakan berubah bila mata kita bergerak sedikit, dan saat kita berpaling, senyum itu seolah tetap ada di benak kita.

    Sahabat, sesungguhnya dunia ini memang penuh misteri, apalagi Tuhan. Rasul Paulus pun bergumul dengan hal tersebut. Dalam pengalaman hidupnya, ia adalah orang yang tidak pernah lelah untuk mencoba memahami tentang Tuhan, tentang segala hikmat dan keputusan-Nya. Namun, tetap saja ada banyak hal yang melampaui akal pikirannya. Ada batas yang tidak bisa dilampaui untuk ia bisa memahami segala sesuatunya. Sampai di titik itu, ia belajar untuk menerimanya. Di titik itulah, ia paham betul bahwa Tuhan itu sungguh jauh lebih besar dan melampaui apa yang bisa ia pikirkan tentang-Nya. Di titik itulah, yang tetap tinggal adalah iman dan percaya (Roma 11:33-34).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “The MYSTERY of GOD, The Creator (MISTERI ALLAH, Sang Pencipta)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 40:1 – 41:25. Sahabat, sesudah Tuhan menembak Ayub lewat pelbagai pertanyaan gugatan tentang posisi dan peran Ayub dalam kehidupan alam semesta dan pernyataan tersirat tentang siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini (Ayub 38:1-39:33), maka pada pasal 40-41 dengan gamblang dan tegas Tuhan menyatakan serta memperkenalkan diri-Nya.

    Dimulai dengan semacam pernyataan yang membuat Tuhan tersinggung terhadap pembelaan Ayub: “Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku, supaya engkau dapat membenarkan dirimu?” (40:3). Kali ini, Tuhan lebih tegas dan keras bersikap terhadap Ayub dan sahabat-sahabatnya. Tuhan merasa tersinggung menyaksikan Ayub dan keempat sahabatnya beradu argumentasi dengan motif yang sangat egois. Masing-masing pihak mau bertahan dan membenarkan diri sendiri. Perdebatan tersebut memberi kesan bahwa Tuhan bukan Subjek, melainkan sebagai objek akal budi manusia untuk pembenaran sikap pribadi.

    Coba perhatikan apa yang disampaikan oleh Allah kepada Ayub: “Apakah lenganmu seperti lengan Allah, dan dapatkan engkau mengguntur seperti Dia?  Hiasilah dirimu dengan kemegahan dan keluhuran, kenakanlah keagungan dan semarak!” (Ayb. 40:4-5).

    Ayub dipersilakan membandingkan dirinya (yang sedang tidak berdaya karena barah dan malapetaka) dengan Tuhan. Kalau hasilnya Ayub lebih kuat daripada Tuhan, maka Tuhan pun akan memuji Ayub (40:9).

    Lebih lanjut, Tuhan mengibaratkan keperkasaan dan kekuatan-Nya dengan gambaran kuda nil dan buaya (40:10-41:1a). Kedua hewan tersebut kuat dan tiada seorang pun yang dapat menaklukkannya, melainkan hanya Tuhan. Kalau begitu, apakah Ayub bisa dibandingkan dengan Tuhan? Tuhan mengumpamakan diri-Nya sebagai pahlawan perang dengan pakaian lengkap (41:1b-25). Tuhan tidak sedang menakut-nakuti Ayub, sebaliknya Ia menghibur dan menguatkan Ayub.

    Sahabat, apa yang harus dilakukan menghadapi misteri Allah dalam hidup ini? Tetap bertekun dalam iman. Allah yang memberi kehidupan, Ia juga yang akan memelihara dan menolong kita untuk terus bertumbuh di dalam-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari prenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 40:10-19?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika lemah dan tidak berdaya, kita bisa melihat Tuhan yang Mahakuasa dan Mahaperkasa mengatasi kelemahan kita. (pg).

  • ReKat: Dare to Face the CHALLENGES of LIFE (25 Januari 2023)

    Bacaan Sabda: Yeremia 9:1-11

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Dari perenungan firman Tuhan, pesan yang saya peroleh: Setiap orang pasti merindukankan hari esok yang lebih baik dan lebih cerah serta keadaan yang lebih baik, dan bukan sebaliknya. Bagi mereka yang tidak memiliki iman yang kuat, maka beban kehidupan yang berat dapat mempengaruhi hati dan pikiran mereka yang mengakibatkan tawar hati dan melemahkan iman. Sesungguhnya tanpa iman tidak seorang pun dapat hidup dengan benar, sebab tak seorang pun dapat menghindari untuk  bebas dari berbagai tantangan kehidupan. Dengan iman, kita dimampukan untuk berani menghadapi tantangan kehidupan yang ada. Yakinlah, Tuhan tak pernah meninggalkan kita untuk bergumul sendiri dalam  menghadapi tantangan kehidupan ini.
    1. Saya memahami ayat 23 sebagai berikut:  Kita tidak boleh membanggakan akan pengetahuan/hikmat duniawi , kekuatan serta kekayaan yang kita miliki. Jangan sampai kita terjebak dalam kesombongan saat kita memiliki kebijaksanaan, kekuatan serta kekayaan yang ada, tetapi biarlah kita bermegah atas kasih karunia-Nya yang telah menyelamatkan kita. Mari kita gunakan kebijaksanaan, kekuatan serta harta yang kita miliki untuk memuliakan nama Tuhan.

    (Swan Lioe)

  • Trusting and Depending fully to God

    MENGANDALKAN  MANUSIA. Rasul Paulus menasihati  agar kita saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban hidup. Itu berarti dalam hidup ini kita harus saling membantu dan saling menolong. Itu berarti kita boleh minta bantuan dan pertolongan.

    Namun itu bukan berarti kita boleh mengandalkan manusia atau bergantung  penuh kepadanya, sebab bagaimanapun manusia sangat terbatas, mereka  tak lebih dari alat yang dipakai oleh Tuhan. 

    Sahabat, sering Tuhan  menolong kita memakai seseorang atau sekelompok orang, karena itu kita juga harus belajar menghormati, menghargai dan tidak lupa berterima kasih kepada orang yang telah menolong kita.  Tetapi kita harus memahami benar bahwa sesungguhnya pertolongan dan mukjizat yang kita alami, bukan datang dari manusia, tapi Tuhan yang bekerja di dalamnya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Trusting and Depending fully to God (Percaya dan Bergantung sepenuhnya kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 17:1-18. Sahabat, mengandalkan Tuhan itu sama dengan percaya dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

    Tuhan memberi vonis berat kepada bangsa Yehuda karena bukan apa yang di depan mata dan bukan kenyamanan yang seharusnya mereka cari; melainkan hidup bagi Tuhan dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan. Itulah yang Tuhan inginkan. Karena bangsa Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, maka semua itu justru dirampas orang lain, bahkan mereka akan mengalami kejatuhan besar, jauh dari kehidupan makmur,  bahkan menjadi budak di tanah asing.

    Yeremia mengontraskan kehidupan bangsa Yehuda yang mengandalkan diri sendiri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Bangsa Yehuda itu bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (ayat 5-6), sedangkan mereka yang mengandalkan Tuhan itu bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ayat 7-8).

    Pohon yang ditanam di tepi aliran air juga bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupannya, tetapi ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tidak berhenti menghasilkan buah.

    Sahabat, Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman tidak mudah (ayat 14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita berbeda. Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (ayat 10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (ayat 17) dan menjaga kita hingga akhir (ayat 18).

    Kita sebagai orang percaya harus mengandalkan TUHAN dalam meniti perjalanan hidup. Jika kita mengandalkan TUHAN, maka Dia selalu menepati janji-Nya. Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. TUHAN adalah Pribadi yang Mahakuasa. Tidak ada yang dapat membatasi kuasa-Nya untuk menolong kita. TUHAN dapat memberikan pertolongan meski seberat apa pun masalah kita, kapan pun dan dimana pun. TUHAN adalah Pribadi yang dapat diandalkan. Karena itu marilah kita menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan di segala aspek kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman adalah percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan, dan mengandalkan Tuhan berarti komitmen untuk melakukan apa yang dipercayai. (pg).

  • God’s Misterious Answers

    JAWABAN TUHAN. Beberapa ucapan Ayub secara langsung memang ditujukan kepada Allah, baik dalam bentuk permohonan agar Allah turun tangan menolongnya (Ayub 13:17-28); permohonan ampun jika ia memang bersalah di hadapan-Nya (Ayub 7:20-21); permohonan agar Allah menjelaskan mengapa ia diizinkan menerima semua penderitaan yang ada (Ayub 2:23-26; 23:2-12; 27:2; 30:20-23); serta keinginan untuk bertemu langsung dengan Allah (Ayub 31:37). 

    Sahabat, akhirnya TUHAN memang menjawab keluhan Ayub, akan tetapi, mungkin kita merasa bingung terhadap jawaban TUHAN karena TUHAN sama sekali tidak menjelaskan penyebab penderitaan yang dialami Ayub. Sebaliknya, TUHAN memaparkan keterbatasan pengetahuan Ayub. TUHAN banyak mengajukan berbagai pertanyaan dan pertanyaan yang diajukan TUHAN itu merupakan kalimat tanya retorik (Kalimat tanya yang sebenarnya mengandung sebuah makna pernyataan dan tidak memerlukan jawaban).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “God’s Misterious Answers (Jawaban Tuhan yang Misterius)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 38:1 – 39:38. Sahabat, Ayub 38-42 merupakan jawab Tuhan kepada Ayub. LAI memberi judul Ayub 38: Kekuasaan TUHAN di alam semesta dan Ayub 39: Ayub merendahkan diri di hadapan Allah.

    Sahabat, Tuhan berbicara di dalam badai dan hanya berbicara kepada Ayub (38:1), namun Tuhan tidak menjawab pertanyaan atau menjelaskan ketidakpahaman Ayub. Sebaliknya, Tuhan membungkam Ayub yang sepanjang pembicaraan terkesan membenarkan dirinya. Melalui serangkaian pertanyaan retorik, Tuhan menunjukkan keperkasaan-Nya sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta, atas laut, fajar, cuaca, langit, dan bintang-bintang (38:4-38). Dengan cara yang sama, Tuhan juga menyatakan diri-Nya sebagai Penguasa segala binatang yang ada, khususnya binatang liar dan binatang udara (39:1-33).

    Ucapan Tuhan berhasil menyadarkan Ayub, sehingga di dalam penyesalannya ia memohon ampun kepada Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya dalam berbantah dengan Allah (39:34-38). Dari pengalaman Ayub, kita tidak hanya belajar akan kebaikan Tuhan yang memberi kesempatan kepada Ayub untuk menyadari kesalahannya dan bertobat, tetapi kita juga belajar untuk memiliki hati yang peka kepada teguran Tuhan seperti yang dimiliki Ayub, sehingga kita segera bertobat setelah ditegur Tuhan.

    Sahabat, selain itu jawaban TUHAN menunjukkan bahwa Ia menginginkan agar Ayub menerima keadaan yang dialaminya tanpa mempersoalkan mengapa dia mengalami keadaan itu!

    Jawaban TUHAN yang tidak memberi penjelasan merupakan petunjuk bagi mereka yang dilahirkan dalam keadaan kurang beruntung dan berkebutuhan khusus, untuk menerima keadaan tanpa mengajukan protes kepada TUHAN. Penyebab penderitaan tidak selalu kita mengerti, tetapi kita tidak boleh protes kepada TUHAN karena TUHAN bukanlah penyebab dari penderitaan. Kebijakan TUHAN di dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta di luar kemampuan akal kita, sehingga mempertanyakan kebijakan TUHAN merupakan usaha yang sia-sia.

    Memang sesungguhnya misteri kehidupan jauh lebih besar dan luas daripada jangkauan akal budi manusia untuk memahami serta merumuskannya. Semestinya, orang percaya menyadari bahwa dalam banyak hal manusia memiliki keterbatasan. Sebaliknya, di sisi lain ada pribadi yang tidak terbatas dan sempurna, yaitu Allah. Tuhan menginginkan manusia membiarkan misteri tersebut sebagai rahasia dan hak Tuhan. Dengan membiarkan sisi Allah yang tak terpahami, kita bukan hanya melihat kemahakuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang melampaui akal budi manusia, tetapi juga menerima keterbatasan kita sebagai manusia fana. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 39:37-38?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melalui alam semesta dan segala isinya, kita melihat pribadi Allah yang Mahakuasa dan Mahabijak dengan segala misteri-Nya. (pg).

  • Be Quiet and See the Miracles of God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN ALLAH. Mengenai hal tersebut saya banyak belajar dari rekan sepelayanan, bapak Pdt. Stefanus Christian Haryono. Berdiam diri di hadapan Allah akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Akibatnya kita akan lebih peka mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apakah kehendak Allah dalam hidup saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Allah, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Allah itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Be Quiet and See the Miracles of God (Diamlah dan Lihatlah Keajaiban-Keajaiban Allah)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 37:1-24 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 37: Kemuliaan Allah di alam semensta. Sedangkan judul renungan hari ini saya ambil dari nasihat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya (ayat 14).

    Sahabat, perkataan Elihu mungkin terlalu keras bagi orang sekelas Ayub, yang dinyatakan Allah sendiri sebagai pribadi yang saleh dan takut akan Allah. Namun demikian, dibalik kata-kata kerasnya, agaknya dia berupaya mengingatkan Ayub akan keterbatasan manusia dan mengajaknya untuk berdiam diri dan memerhatikan keajaiban-keajaiban yang diperlihatkan Allah.

    Berdiam diri memang bukan perkara mudah. Karena berdiam diri sering tampak statis dan terlihat tidak berbuat apa-apa. Berkata-kata setidaknya membuat orang merasakan diri sebagai pengendali. Jika berdiam diri terasa dikendalikan, maka berkata-kata membuat orang merasa mengendalikan keadaan.

    Namun bagi Elihu, berdiam diri akan memampukan manusia lebih cermat memahami alam, juga memahami Allah yang menciptakan semuanya itu. Berdiam diri akan membuat manusia lebih mampu mengenal Allah. Berdiam diri akan membuat dia tidak sibuk lagi dengan kata-katanya sendiri, dan akhirnya dapat mendengar suara Allah.

    Semasa hidup, Bunda Teresa pernah membagikan kisah perjumpaannya dengan seorang imam dan seorang teolog India. Peraih hadiah Nobel perdamaian itu berkisah: Saya mengenal beliau sangat baik, dan saya berkata kepadanya, “Romo, Anda berbicara tentang Allah sepanjang hari. Alangkah dekatnya Anda dengan Allah!”

    Sang Romo menjawab, “Saya mungkin berbicara terlalu banyak tentang Allah, tetapi saya mungkin berbicara terlalu sedikit kepada Allah.” Lebih lanjut Sang Romo  menjelaskan, “Saya mungkin mengutamakan begitu banyak kata dan mungkin mengutarakan begitu banyak kata, tetapi jauh di lubuk hati saya tidak punya waktu untuk mendengarkan. Padahal dalam keheningan hatilah, Allah berbicara kepada kita.”

    Sahabat, mari kita perhatikan pernyataan Sang Romo: “Dalam keheningan hatilah, Allah berbicara kepada kita.” Ya, DIAMLAH  dan DENGARKANLAH ALLAH! Dari situ kita bisa lebih mengenal Allah dan memuliakan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bergantung kepada Allah dengan senantiasa memohon hikmat-Nya, sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini dengan misterinya. (pg).