Author: Christopherus

  • ENDLESS GRACE

    ANUGERAH. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Sebagaimana prinsip dalam hokum tabur tuai, bagi yang berbuat kesalahan maka akan menerima hasil dari kesalahannya. Ada banyak konsekuensi yang diterima dari kesalahan yang dilakukan.  Entah itu kesalahan ringan maupun kesalahan yang berat. Salah satunya berupa hukuman.  Prinsip itu masih berlaku dalam kehidupan saat ini, Siapa yang berbuat salah maka konsekuensinya akan menerima hukuman. 

    Sahabat, kekristenan bukan hanya berbicara tentang deretan aturan dan hukuman, bukan juga kumpulan ketegasan hukum. Kekristenan berbicara mengenai bagaimana Allah yang mencari dan menyelamatkan orang yang berdosa supaya dapat menikmati persekutuan dengan Tuhan. Bukankah itu merupakan hadiah yang istimewa?

    Anugerah Tuhan  menjadi sebuah tawaran yang indah. Karena itu Paulus menyampaikan pesan iman: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan karena iman; …” (Efesus 2:8).  

    Sesungguhnya keselamatan merupakan anugerah (Sola Gratia). Jika bukan karena anugerah Tuhan, maka tidak ada seorang pun yang mempunyai kelayakan dan kesempatan menerima apa pun dari tangan Tuhan. Sebab hukuman bagi orang bersalah harus tetap kita tanggung. Anugerah Tuhan diberikan atas kedaulatan Allah, kerelaan kehendak Allah sendiri. Anugerah bukanlah upah dari kebaikan kita,  juga bukan kepandaian kita. Lantas, dengan apa kita menyambut anugerah Tuhan? Hanya dengan iman. Tanpa mengimani anugerah Allah dalam Yesus, maka kita menolak tawaran anugerah itu. Anugerah Tuhan adalah wujud kebaikan-Nya kepada orang yang bersalah.

    Syukur hari ini kita dapat belajar dari bagian akhir dari kitab Hosea dengan topik: “ENDLESS GRACE (Anugerah Tak Henti)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 14:2-9 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Hosea memulai pelayanannya pada masa akhir pemerintahan Yerobeam II, saat Israel sedang mengalami kemakmuran ekonomi dan kestabilan politik yang menciptakan rasa aman yang palsu. Namun setelah Yerobeam II wafat, keadaan Israel mulai memburuk dengan cepat dan menuju kehancuran. Lima belas tahun pasca kematian Yerobeam II, empat raja Israel terbunuh. Dalam lima belas tahun kemudian Samaria merupakan puing-puing berasap dan penduduk Israel dibuang ke Asyur dan diserakkan ke berbagai bangsa.

    Sahabat, Hosea dipanggil Allah untuk bernubuat kepada kerajaan Israel yang sedang ambruk remuk. Nubuat Hosea merupakan usaha terakhir Allah memanggil Israel bertobat dari penyembahan berhala dan kefasikan.

    Tidak tanggung-tanggung, Allah bahkan memerintahkan Hosea mengawini seorang perempuan sundal untuk melukiskan ketidaksetiaan rohani Israel kepada Allah. Sebagaimana Gomer mengejar laki-laki lain, begitulah Israel mengejar-ngejar dewa lain.

    Sahabat, timbunan dosa Israel memang membuat hukuman Allah tak terhindarkan. Israel harus dihukum melalui pembuangan ke Asyur. Namun Allah menyediakan kelepasan setelah penghukuman. Allah mempertahankan kasih-Nya kepada umat perjanjian-Nya. Ia sungguh-sungguh ingin menebus umat dari kejahatan. Ketika umat mau bertobat, mengakui semua kesalahan dan mengakui bahwa tidak ada yang dapat menolong selain Allah, Ia akan kembali mengasihi mereka, memulihkan dan memberi damai sejahtera. Ini karena anugerah Allah tak pernah berhenti bagi umat-Nya. Jika Allah menghukum, itu hanya supaya umat bertobat. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menolak taat kepada Allah sama saja menolak kasih-Nya yang menyelamatkan. (pg)

  • The Value of Loyalty to God

    KESETIAAN. Sahabat, kesetiaan merupakan salah satu kekuatan dalam menjaga kehidupan. Teladan kita yang paling tinggi perihal kesetiaan adalah Tuhan. Kesetiaan dan cinta kasih-Nya kepada manusia membuat Ia rela menderita dan mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia. Puncaknya, kita mendapatkan  keselamatan.

    Bangsa Israel menjadi sebuah contoh tentang sikap yang tidak setia dan berbuah ancaman. Mereka baru saja menduduki Tanah Kanaan dan menghalau musuh dengan susah payah. Namun demikian, mereka segera berpaling dari Allah, menyembah berhala, dan terhanyut oleh godaan dunia.

    Pengalaman bangsa Israel itu membuktikan betapa mudahnya manusia meninggalkan Tuhan. Justru dalam keadaan diberkati dan dilindungi, kita mudah untuk tidak setia. Dalam situasi seperti itu, semestinya kita menaikkan syukur, bukan malah memuja berhala. Penyertaan Tuhan yang nyata seharusnya membuat kita menyingkirkan segala ilah asing dari hadapan-Nya. Pertolongan-Nya mestinya menambah pengenalan kita kepada-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan kita.

    Allah itu setia. Kesetiaan-Nya tampak nyata dalam berkat dan penyertaan-Nya dalam kehidupan kita. Oleh karena itulah, kita pun harus setia kepada-Nya. Mari kita memohon kekuatan kepada-Nya agar bisa menjaga kesetiaan. Sebab, kesetiaan kepada Allah yang akan membawa kita dalam sukacita dan damai sejahtera. Di sepanjang hidup ini, mari kita setia kepada Tuhan, walaupun ada banyak kenikmatan dan kenyamanan di sekeliling kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Value of Loyalty to God (Nilai Kesetiaan Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 2:1-23. Sahabat, apa jadinya kehidupan jika tidak ada nilai kebaikan yang menjaganya. Besar kemungkinan, dunia kita akan dipenuhi kejahatan. Kalau pun ada nilai kebaikan, apa jadinya jika nilai tersebut tidak ditanamkan dan diwariskan kepada setiap generasi? Dunia kita pasti akan penuh dengan permusuhan dan kejahatan. Itulah sebabnya mengapa kita perlu melestarikan nilai yang baik dalam kehidupan secara turun-temurun.

    Sepeninggal Yosua, orang Israel mengalami masa-masa yang berat. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka kehilangan pemimpin, yaitu figur Yosua.  Walau demikian, Tuhan tetap berkarya secara ajaib dan luar biasa di tengah mereka.

    Sahabat, masalahnya, mereka sering berubah-ubah sikap. Saat terdesak dan menderita, mereka ingat Tuhan. Namun, ketika merasa nyaman, mereka lalai dan meninggalkan Tuhan. Mereka seakan-akan kehilangan warisan iman setia kepada Tuhan. Mereka menyembah ilah bangsa asing sehingga lupa bahwa Tuhan merupakan sumber kehidupan mereka yang sejati.

    Tuhan, dengan cara-Nya, kerap memberikan pelajaran keras kepada umat Israel. Dengan sengaja Allah mengizinkan mereka dihajar, diserang, dikalahkan, dan dijarah oleh musuh-musuh. Mereka kehilangan ketenangan, hartanya dirampas, dan banyak korban berjatuhan. Singkatnya, Tuhan membuat bangsa Israel tak berdaya di hadapan musuh-musuhnya.

    Ada harga yang mahal dan penderitaan jika kita meninggalkan Tuhan. Kuasa kasih Tuhan akan menjauh sebab kita terpisah dari sumber kehidupan. Oleh karena itulah, cinta kasih kepada Tuhan harus terus terjaga jika kita ingin selamat, bahagia, dan meraih kedamaian hidup.

    Sahabat, kepada anak-anak, kita harus menanamkan nilai kesetiaan kepada Tuhan. Setiap generasi penerus harus sadar bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa belas kasihan dan kesetiaan Tuhan. Sungguh, jangan sampai kita tidak setia kepada Tuhan. Melalui doa dan perenungan firman Tuhan yang tekun dan teratur, kita akan dibentuk menjadi murid yang setia kepada-Nya dan terus mengandalkan pertolongan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengenalan akan Tuhan merupakan WARISAN TERBAIK yang dapat kita berikan kepada anak cucu kita. (pg).

  • How Often Do We Offend God?

    SAKIT HATI. Sahabat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sakit hati dapat dipahami sebagai sebuah keadaan di mana seseorang merasa tidak senang karena dilukai hatinya (dihina, dikhianati, ditipu, dan sebagainya). Secara psikologis, sakit hati merupakan tumpukan emosi yang terakumulasi dan melibatkan perubahan perilaku dan keadaan fisiologis.

    Sakit hati tergolong emosi negatif yang dapat berpengaruh terhadap perilaku individu dan proses pengambilan keputusan. Orang yang tengah dikuasai oleh emosi negatif akan terpengaruh secara fisiologis dan tindakan.

    Secara fisiologis, tubuh akan merespons dengan meningkatnya tekanan darah, keluarnya air mata, dan degup jantung berdetak dengan kencang. Sementara, secara perilaku, emosi negatif dapat mewujud menjadi tindakan-tindakan seperti berteriak, mengumpat, dan membanting.

    Lebih lanjut, emosi bisa berujung pada tindak kekerasan yang merugikan orang lain. Efek lain yang dapat timbul adalah dalam bentuk pikiran (kognitif) buruk yang mengarah baik ke dalam, maupun ke luar diri. Misalnya, berpikiran buruk tentang orang lain dan diri sendiri, merasa tidak berharga, stress, bahkan depresi.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “How Often Do We Offend God? (Seberapa Sering Kita Menyakiti Hati Tuhan?)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 12:1-15. Sahabat, Hosea mengungkapkan lagi isi hati Tuhan terhadap umat-Nya. Tuhan “dikepung dan dikelilingi” oleh kebohongan Efraim dan tipu muslihat Israel. Tuhan mengingat bagaimana mereka bergumul dengan-Nya. Tuhan mengetahui mereka menangis dan memohon belas kasihan-Nya. Tuhan menuntun dan menjaga umat-Nya. Namun, tingkah laku mereka telah menimbulkan sakit hati-Nya.

    Memang kita tahu bahwa hati Tuhan bisa berbalik kepada umat yang dikasihi-Nya. Namun, kita juga perlu tahu bahwa Ia bisa sakit hati. Tuhan dapat merasa tidak senang karena dihina oleh umat-Nya. Tuhan juga bisa marah kepada umat-Nya. Hal ini terlihat ketika Ia mengatakan akan memberi balasan (Ayat 3). Bahkan, Ia akan membalas cela dan hutang darah (Ayat 15) kepada mereka.

    Sahabat, sulit untuk memahami bahwa Tuhan bisa sakit hati. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih sayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia bisa sakit hati. Namun, itulah isi hati Tuhan. Dengan mengetahui isi hati-Nya, kita bisa mengerti perasaan-Nya. Dengan demikian, kita diajak untuk memahami dan semakin mengenal siapa Tuhan yang kita percayai.

    Tuhan mengenal umat-Nya. Ia mengenal Efraim, Yakub, dan mengetahui setiap detail kehidupan mereka. Tuhan telah melakukan yang terbaik bagi umat-Nya, namun mereka berbuat yang sebaliknya. Tuhan telah memelihara kasih setia-Nya, namun umat mengabaikan-Nya. Tuhan menjaga umat-Nya, namun umat menjauhi-Nya.

    Sahabat, sesungguhnya bangsa Israel adalah cerminan kita. Tindakan kita sering berseberangan dengan kehendak Allah. Ingatlah kembali perjalanan hidup kita, seberapa sering kita menyakiti hati Tuhan? Seberapa sering juga kita menyakiti hati sesama, termasuk orang-orang terdekat yang kita kasihi? Coba kita ingat-ingat kembali ke masa lalu. Semoga ingatan itu dapat menggerakkan kita untuk memohon pengampunan Tuhan.

    Setiap hari, datanglah kepada-Nya memohon pengampunan, sebab disadari atau tidak, ada saja pelanggaran dan kesalahan yang kita perbuat menyakiti hati Allah. Semestinya kita tidak hanya memohon ampun, tetapi juga bertobat dari kesalahan  itu. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Saudara peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Setiap hari adalah kesempatan yang Tuhan beri bagi kita untuk bertobat dan memperbaiki diri di hadapan-Nya. (pg).

  • If God Closes His Eyes

    MERASA DIRI KUAT. Sahabat, merasa dirinya  kuat; itulah yang dilakukan oleh Efraim sehingga bangsa lain takut dan gentar kepadanya. Tapi apa yang terjadi? Tuhan murka kepada mereka karena mereka melakukan penyembahan berhala.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “If God Closes His Eyes (Jika Tuhan Menutup Mata)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 13:1-14:1. Sahabat, Hosea menyampaikan isi hati Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam kemarahan-Nya kepada umat-Nya, Allah mengingatkan kembali kepada umat-Nya ketika mereka di Mesir dijadikan budak. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah melalui Musa (Keluaran  3:14).

    Allah juga kemudian menjadi penyelamat mereka dengan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Membawa mereka keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian dan menjadi bangsa yang merdeka. Tetapi apa yang dilakukan mereka sangat mendukakan Allah dengan perbuatan dosa mereka.

    Sesungguhya Tuhan bisa menutup mata terhadap realitas yang dihadapi umat-Nya. Tuhan mengambil tindakan itu jika umat-Nya tetap bersikap bebal dengan terus melakukan dosa dan menyakiti hati-Nya.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat bagaimana Allah menutup mata-Nya atas kehidupan umat-Nya. Orang Israel terus berbuat dosa dengan membuat patung dan mempersembahkan kurban padanya. Sekalipun mereka telah mengenal Tuhan sebagai Allah dan Juru Selamat, mereka tetap memberontak terhadap-Nya. Oleh karena dosa tersebut, Tuhan akan menghukum umat-Nya. Ia akan menghentikan kemurahan dan anugerah-Nya. Akibatnya, mereka akan seperti kabut yang segera hilang dan seperti debu jerami yang diterbangkan.

    Sahabat, salah satu sifat Tuhan adalah penuh cinta dan kasih. Jika mata-Nya tertutup terhadap umat-Nya dan menutup keran kasih dan kemurahan-Nya, maka kita bisa apa? Tidak ada lagi pengharapan dan kesempatan! Tuhan yang menutup mata menunjukkan bahwa Ia tidak mau lagi memerhatikan umat-Nya. Ketika mata Tuhan tertutup, sesungguhnya Ia menganggap kita sudah tidak ada. Ia menganggap bahwa umat-Nya telah mati atau muak melihat tingkahnya yang selalu berbuat dosa. Tuhan sudah tidak peduli lagi.

    Padahal belas kasihan Tuhan adalah pengharapan kita untuk hidup. Belas kasih-Nya adalah mata air kehidupan. Kasih itulah yang membebaskan kita dari belenggu perbudakan, dosa, dan kuasa maut. Jika kasih-Nya sudah tidak ada lagi, berarti kita hanya menunggu waktu untuk hukuman.

    Sahabat, apakah mata Tuhan sedang tertutup terhadap kita? Apa yang membuat-Nya malu melihat kita? Apakah ada dosa yang terus kita lakukan tetapi kita menganggapnya lumrah, wajar-wajar saja?

    Kini waktunya bagi kita untuk menyingkirkan segala dosa itu. Marilah kita terbuka di hadapan Tuhan. Mari kita meminta Roh Kudus untuk menyingkapkan tabir dosa itu. Kita mohon pada-Nya agar mengoreksi segenap  kehidupan kita. Mari kita memohon pengampunan dari Tuhan agar Ia tidak menutup mata dan kasih karunia-Nya atas kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat mengerti dari Hosea 13:1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menyia-nyiakan kebaikan Tuhan dan tetaplah percaya. Jadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupmu. (pg).

  • Love Conquers the Stubborn

    KEDEGILAN. Sahabat, bagaimana ciri-ciri orang degil? Mereka adalah orang-orang yang bandel, hatinya sudah begitu mengeras sedemikian rupa sehingga sulit menerima masukan atau pendapat dari orang lain. Mereka merasa pendapat merekalah yang paling benar sedangkan yang lain salah tanpa mau melihat dahulu duduk permasalahannya.

    Orang-orang yang degil berpusat hanya pada diri mereka sendiri dan akan dengan mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang, tetapi adalah baik apabila kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk menyampaikan pendapatnya.

    Kedegilan itu bisa membutakan.dan bisa merugikan. Banyak orang yang mengira bahwa sikap seperti itu menunjukkan kehebatannya, tetapi sebenarnya justru akan membawa kerugian bagi diri mereka sendiri.

    Orang-orang Farisi di zaman dahulu menjadi contoh nyata akan hal tersebut. Mereka memiliki keadaan hati yang keras seperti batu sehingga mendukakan hati Yesus. Kekerasan hati itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain bahkan terhadap diri mereka sendiri. Dalam banyak kesempatan yang tertulis dalam Alkitab kita bisa melihat seperti apa sikap mereka yang berulang kali dikatakan sebagai sebuah kemunafikan. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci, paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar dan kesombongan ini membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun terbang dari diri mereka.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Love Conquers the Stubborn (Kasih Mengalahkan Kedegilan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 11:1-11. Sahabat, dalam sejarah perjalanan bangsa Israel tidak terhitung betapa besar kasih Allah atas mereka. Sejak mereka masih berada di Mesir, keluar dari Mesir, selama dalam perjalanan, sampai ke tanah Kanaan, kemudian semakin besar jumlahnya dan semakin tersebar. Walau berulang kali mereka berbuat dosa menjauh dari Allah, namun Allah menarik mereka kembali, dengan hukuman dan pengampunan. Walau mereka berulang kali meninggalkan Allah dan berhenti meninggikan nama-Nya, namun kasih Allah pada bangsa Israel selalu mengalahkan kedegilan mereka.

    Allah itu panjang sabar dan berlimpah kasih setianya, Ia senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk kembali bertobat. Walau banyak dosa dan kesalahan kita yang mendukakan hati-Nya, kasih Allah tidak akan pernah habis untuk hidup kita. Namun Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Ia tetap akan tegas jika hal itu sudah menyangkut dosa dan menjauhkan kita dari kehendak-Nya.

    Pancaran kasih Allah yang telah mengalahkan kedegilan kita harusnya membuka hati dan pikiran kita untuk hidup lebih bersyukur dan mengasihi-Nya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kasih dan pengampunan-Nya tidak berkesudahan. Ia akan selalu menarik hati kita kembali pada-Nya untuk segera menerima pemulihan. Tidak hanya sampai di situ, Allah juga ingin agar kita semakin taat dan juga mampu membagikan kasih dan pengampunan yang telah kita peroleh dengan tulus kepada sesama.
       
    Sahabat, pengalaman bangsa Israel semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Mari kita belajar untuk menghargai betapa besar kasih Tuhan kepada kita.  Mengertilah bahwa apabila persoalan atau kesesakan datang menimpa hidup kita, itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita.  Tuhan ingin melalui  proses hidup,   kita dapat kembali mengingat kasih dan kebaikan-Nya.  Mungkin selama ini kita telah melangkah jauh dari hadapan-Nya, dan melalui masalah dan penderitaan yang kita alami,  tali kasih Tuhan ingin menarik dan mengait hati kita untuk kembai bersimpuh di hadapan kaki-Nya untuk menerima kembali pemulihan dari Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang degil?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bukalah hati pada Allah agar kita menjadi seperti yang Ia inginkan dan kita dimampukan mengasihi dengan setulus hati.