Author: Christopherus

  • FLEKSING KESALEHAN

    Saudaraku, mendengar kata fleksing (memamerkan) pada masa sekarang seakan menjadi sesuatu yang biasa didengar dan dilakukan oleh para pengguna gawai. Pada prinsipnya fleksing bertujuan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Banyak kebiasaan di kalangan elit rohani masyarakat Yahudi yang dikecam oleh Yesus, salah satunya adalah kebiasaan fleksing. Mari kita merenungkan Matius 23 : 5-12.

    Setiap orang Yahudi tahu betapa radikal kerohanian golongan Farisi. Namun sayangnya mereka cenderung lebay (berlebihan) sehingga memuakkan orang lain. Mereka memakai tali sembahyang yang lebih lebar dari yang dipakai masyarakat, lebih suka duduk di depan dalam pertemuan dan bangga dengan sebutan; Rabi, pemimpin dan sebutan lain yang sejenis dengan itu. Mereka melakukan fleksing kesalehan dengan tujuan mendapatkan penghormatan, penghargaan dan keistimewaan dari orang sekitarnya. Yesus muak dengan perilaku ini dan mengecamnya habis-habisan.

    Mari belajar apa yang Yesus inginkan dari mereka yaitu :
    Kerendahan hati
    Yesus menekankan bahwa orang yang mau menjadi pemimpin maka ia harus melayani orang lain (Matius 23:11), bukan pamer kesalehan di depan orang banyak. Memperlihatkan kesalehan berarti sombong rohani.
    Terus berjuang meraih penghargaan tertinggi dari Allah.
    Kebanggaan sejati bukanlah pengakuan dari manusia, melainkan dari Allah sendiri. Percuma mencari pengakuan dari manusia karena apa yang terbaik dan tertinggi adalah Allah.

    Saudaraku, sejatinya manusia memang cenderung mencari pengakuan dari orang lain untuk menyatakan keberadaaan dirinya. Manusia jenis ini selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian untuk kepuasan ego. Ketika seorang sudah bertemu dengan Kristus, sesungguhnya manusia itu harus memandang kepada Kristus sebagai model yang utama dan terutama dalam kehidupan. Kerendahan hati Yesus yang sudah meninggalkan tahta-Nya dan menjalani kehidupan yang fana hingga mati di kayu salib (Filipi 2:5-7) menunjukkan kualitas yang berbeda dengan para Farisi. Maka boleh dikatakan makin mengenal Kristus, seseorang seharusnya makin rendah hati dan makin tersembunyi di belakang Kristus sebagaimana Yohanes Pembaptis mengatakan, Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yohanes 3:30).

    Masih perlukah fleksing kesalehan di depan orang, di status media sosial atau terus menceritakannya di depan banyak orang? Masih perlukah mengejar pengakuan orang lain untuk diri sendiri? Bukankah Yesus selalu mengingatkan agar umat-Nya selalu memusatkan kemuliaan kepada Allah saja? Biarlah Roh Kudus mengingatkan agar umat selalu menjaga diri dari kesombongan dan tetap rendah hati. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • MEMBANGGAKAN KEFANAAN

    Saudaraku, apa yang menjadi kebanggaan manusia? Rumah? Tempat usaha? Uang? Semua yang disebutkan di depan dan yang ada dalam pikiran manusia tentang kesuksesan adalah fana semata. Fana berarti sementara, rentan rusak dan lenyap dalam sekejap. Yesus mengingatkan kefanaan sebuah mahakarya dalam Matius 24:1-2. Mari kita renungkan bersama.

    Tidak ada yang menyangkal keindahan Bait Allah buatan Herodes Agung saat itu. Puncak Bukit Sion digali dan diratakan untuk menyambung bangunan asli Bait Allah. Dindingnya dilapisi emas yang berkilauan ditimpa sinar matahari. Tiangnya besar-besar dan pembangunan memakan waktu yang lama, bahkan pada zaman Yesus semua masih berlangsung. Sebuah proyek spektakuler. Pembangunan Bait Allah saat itu bukan sekadar pembangunan rumah ibadah biasa namun juga sebuah fleksing (pameran) dominasi politik Herodes dan Kerajaan Romawi atas Yehuda.

    Indahnya bangunan, megahnya ornamen dan besarnya material yang akan dipakai, membuat siapa pun pengunjung Bait Allah takjub. Namun bagi Yesus itu tidak berpengaruh sama sekali. Yesus dengan terus terang mengatakan bahwa semua akan hancur dan tidak tersisa. Nubuatan ter terjadi empat dekade selanjutnya karena Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah megah itu hingga tak bersisa.

    Manusia seringkali takjub dengan apa yang nampaknya spektakuler dan hebat, baik berupa bangunan, pencapaian, finansial bahkan manusia. Ketakjuban itu menggiring manusia mendewakan apa yang dianggapnya hebat. Namun bagi Allah semua itu tidak berarti karena di dunia ini tidak ada yang kekal. Pengkhotbah mengatakan apa yang ada di bawah matahari adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin semata (Pengkhotbah 1:14). Andai manusia selalu mengingat hal itu, manusia tidak akan mudah untuk terpana dan mengagumi segala sesuatu yang spektakuler. Ucapan Yesus mengomentari para murid-Nya menunjukkan bahwa semegah bagaimanapun sebuah bangunan bisa hancur suatu saat nanti, maka lebih baik mempersiapkan diri untuk hal yang kekal, yaitu iman yang teguh.

    Saudaraku, berjalan sesuai dengan kehendak Allah akan membawa kepada kekekalan. Apa pun yang membanggakan manusia, semua akan berakhir. Waktu akan mengakhiri kebanggan itu. Oleh sebab itu mari belajar untuk mengarahkan diri kepada apa yang kekal dan menghargainya lebih dari apa yang fana, sebagaimana Nabi Yeremia mengatakan, Siapa mau berbangga tentang sesuatu, haruslah ia berbangga bahwa ia mengenal dan mengerti Aku, bahwa ia tahu bahwa Aku mengasihi untuk selama-lamanya dan Aku menegakkan hukum dan keadilan di dunia. Semuanya itu menyenangkan hati-Ku. ” (Yeremia 9:24, BIS). Berbanggalah karena mengenal Sang Penguasa Semesta dan menikmati kasih karunia-Nya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Difference between Jepthah and Abimelech

    PERBEDAAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perbedaan itu berarti selisih, juga   perihal yang berbeda atau  perihal yang membuat berbeda. 

    Sedangkan perbedaan yang akan kita bicarakan dalam renungan kita pada hari ini  adalah hal yang menunjukkan bahwa orang yang satu memiliki sifat yang tidak sama dengan orang yang lainnya. Perbedaan merupakan ketidak samaan sifat, bentuk atau karakter yang dimiliki oleh beberapa orang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Difference between Jepthah and Abimelech (Perbedaan antara Yefta dengan Abimelekh). Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 11:1-11. Sahabat, ketika membaca kisah tentang Abimelekh, kita akan melihat kisah seorang anak dari Gideon yang lahir dari seorang gundik yang berasal dari Sikhem. Perilakunya sangat jahat sehingga ia tega membunuh saudara-saudara tirinya demi menggapai kekuasaan.

    Sedangkan bacaan kita pada hari ini bercerita  tentang Yefta. Ia seorang anak dari perempuan sundal. Ia mengalami penolakan dua lapis. yaitu dari saudara-saudara yang tidak seibu dan lingkungan tempat kelahirannya. Ia dikenal sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa. Sekalipun sudah diusir, di kemudian hari ia diminta menjadi panglima perang bagi penduduk Gilead untuk melawan bani Amon.

    Apa perbedaan antara Yefta dengan Abimelekh? Yefta diberi kekuasaan tanpa harus merebutnya dari orang-orang yang sudah menolak dan mengusirnya. Yefta tidak perlu membunuh saudara-saudaranya agar mendapatkan kekuasaan atas Gilead. Cara Yefta menghadapi konflik sangat bijak. Penulis kitab Hakim-Hakim mencatat: “… Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa” (Ayat 11).

    Penulis surat Ibrani mencatat bahwa Yefta merupakan  salah seorang saksi iman seperti tertulis:  “Dan apakah lagi yang harus aku sebut?  Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat.”  (Ibrani 11:32-34a).

    Sedangkan penulis kitab Hakim-Hakim menulis tentang kematian Abimelekh seperti berikut: “ … seorang perempuan menimpakan sebuah batu kilangan kepada kepala Abimelekh dan memecahkan batu kepalanya. Dengan segera dipanggilnya bujang pembawa senjatanya dan berkata kepadanya: ‘Hunuslah pedangmu dan bunuhlah aku, supaya jangan orang berkata tentang aku: Seorang perempuan membunuh dia.’ Lalu bujangnya itu menikam dia, sehingga mati.”

    Sahabat, Yefta bukanlah seorang yang mengandalkan kekuatannya. Ia juga tidak membutuhkan pengakuan atas kemampuannya. Ia tidak menjadi pemimpin karena keluarga, suku, atau kelompoknya sendiri. Ia hanya perlu Tuhan untuk mengukuhkan identitas diri dan segala tindakannya.

    Sesungguhnya kisah Yefta mengajarkan sebuah pokok penting tentang panggilan Tuhan dan cara manusia merespons. Seandainya Tuhan memilih kita untuk melaksanakan tugas mulia, sebaiknya bersikaplah dengan cara yang sama seperti Yefta. Jangan sampai kita mengandalkan kekuatan sendiri dan kekerasan seperti Abimelekh. Kita tetap harus rendah hati dengan mengingat bahwa status kita hanyalah alat bagi tujuan dan kemuliaan-Nya.

    Sahabat, walaupun ada penolakan dan permusuhan dari dunia, mari kita merespons panggilan Tuhan dengan segala kerendahan hati dan ketaatan. Kita mesti tidak egois, bisa memilah hal terpenting bagi Tuhan dan sesama dalam hidup ini. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan sanggup mengubahkan hidup kita dari yang hina menjadi mulia, yang tidak berarti menjadi berarti dan dijadikannya kita berharga di mata-Nya. (pg).