Author: Christopherus

  • Gods Presence in Our Lives Problem

    MASALAH. Sahabat, masalah selalu hadir dalam kehidupan kita, tetapi jangan lupa pertolongan Tuhan juga selalu hadir dalam kehidupan kita. Lalu apa yang dimaksud dengan masalah. Dari Wikipedia saya mendapat infomasi bahwa masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.

    Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.
    Umumnya masalah disadari ada, saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Masalah adalah ketika kenyataan yang terjadi atau realita atau fakta tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Selain itu masalah sering kali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat dan paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.

    Bersyukur hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Rut dengan topik: Gods Presence in Our Lives Problem (Kehadiran Tuhan dalam Masalah Hidup Kita). Bacaan Sabda diambil dari kitab Rut 4:1-22. Sahabat, pembacaan kitab Rut membantu kita menghayati Tuhan dalam setiap masalah kehidupan. Maksud utama bacaan kita pada hari ini adalah agar kita tetap bisa mengalami Tuhan dalam menghadapi perkara-perkara yang terjadi. Tuhan selalu hadir dan sanggup menolong dalam mengentaskan tiap permasalahan yang merundung kita.

    Sahabat, pengalaman Rut dan Naomi adalah kisah manusia yang sedang menghadapi permasalahan hidup. Bahkan bisa dikatakan, masalah mereka cukup berat dan kompleks. Mereka kesulitan dalam kehidupan ekonomi dan sosial; lalu ditimpa duka karena ditinggal suami hingga usaha mereka untuk bangkit pun tidak mudah.

    Syukur, Tuhan punya cara dalam menemani setiap manusia yang pasrah dan berserah kepada-Nya. Ia selalu mengulurkan tangan bagi siapa saja yang mau membuka diri dan menyerahkan masalah kepada-Nya. Dalam kisah Rut dan Naomi, Tuhan menggunakan tradisi yang berlaku di masyarakat Israel untuk menolong mereka dari keterpurukan. Secara ekonomi, Boas mampu membeli dan menebus harta milik Naomi, yaitu warisan suaminya. Secara sosial pun, posisi Boas memang memungkinkan hal itu. Di sisi lain, secara adat, Boas juga diperbolehkan untuk menikahi Rut.

    Sahabat, setiap manusia pasti tidak luput dari masalah. Mulai dari yang berat sampai yang ringan, masalah bisa datang bergantian. Namun, dalam iman, kita jangan putus asa ketika menghadapi semua itu. Mari kita membangun harapan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara. Apa pun penyebab persoalannya, asal kita berserah, tangan-Nya akan terulur menolong kita. Harus ada keyakinan di dalam diri kita bahwa Tuhan lebih besar daripada permasalahan kita. Tuhan punya 1001 cara untuk melepaskan masalah yang sedang melilit hidup kita.

    Mari kita memohon agar perasaan, nalar, dan kehendak kita dibimbing-Nya saat kita berada dalam badai kehidupan. Hingga pada akhirnya, kita melihat pertolongan-Nya dan memuji nama-Nya dalam sukacita. Juga, kita mesti terus berbenah diri, sebab banyak kekurangan dan dosa dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami tentang masalah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan sedang merancang kebaikan dan berkat melalui berbagai peristiwa dan juga masalah dalam hidup kita. (pg).

  • Gods Caring Hand

    TANGAN. Sahabat, masih ingat dengan lagu Bimbo Grup yang berjudul Tangan. Syair lagu tersebut ingin mengingatkan kita betapa sangat banyak kegunaan tangan kita. Coba simak syair bagian refreinnya: Meraba, membelai, menulis, dan memegang. Menggaruk, mencubit, memukul, dan hom pim pah. Pakai tangan.

    Pengalaman hidup kita bercerita bahwa kita menggunakan tangan untuk berbagai hal. Kita menggunakan tangan untuk bersalaman, untuk memegang sesuatu, untuk memeluk, untuk bermain musik, dan lain-lain. Tanpa tangan, kehidupan akan terasa lebih sukar. Tanpa tangan, kita kurang bisa menunjukkan kasih sayang seperti sekarang, tidak bisa bekerja sebaik sekarang atau berkomunikasi seekspresif sekarang. Banyak hal dalam kehidupan direngkuh dengan tangan kita.

    Banyak kali Alkitab mengilustrasikan karya Tuhan melalui tangan-Nya. Dari tangan-Nya, kita mengenal semua pekerjaan-Nya (Mazmur 28:4-5); dengan tangan kebapaan-Nya, hidup kita diangkat-Nya (Mazmur 37:24; Yesaya 59:1-2; Keluaran 13:14). Allah juga menyatakan amarah- Nya dengan tangan-Nya (Mazmur 75:9; ). Ia bahkan membentuk diri kita dengan tangan-Nya (Mazmur 119:73). Allah sangat sibuk dengan tangan-Nya untuk menopang, menuntun, memelihara, mengasihi, dan bahkan mendisiplin kita.

    Mungkin semua yang dilakukan Allah digambarkan seperti itu, karena kita sangat tergantung pada tangan kita. Bukan tanpa alasan mengapa Allah memberikan dua tangan untuk kita. Kedua tangan kita adalah alat yang dirancang-Nya bukan sekadar untuk bekerja, tetapi juga untuk menyampaikan pesan kasih. Dengan tangan kita, Dia ingin kita menggunakannya dengan cara yang lembut untuk membelai, membesarkan hati, membimbing, dan membangkitkan semangat orang lain. Tangan kita mengungkapkan apa yang ada di hati kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Rut dengan tema: Gods Caring Hand (Tangan Tuhan yang Memelihara). Bacaan Sabda diambil dari Rut 2:1-23. Sahabat, setiap orang pasti pernah mengalami kekhawatiran akan hidup, masa depan, kebutuhan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Sering kali semua itu menimbulkan ketakutan dalam hidup kita. Namun sebaiknya, kita jangan terlalu cemas karena kita memiliki Allah yang tidak hanya mencipta tetapi juga memelihara kehidupan.

    Setelah tinggal di Betlehem bersama Naomi, Rut pergi memungut bulir-bulir jelai di ladang. Ia bekerja di belakang para pemetik atau penuai hasil panen. Menurut aturan di Israel, janda atau orang miskin hanya boleh memungut sisa-sisa jelai di belakang mereka (bdk. Imamat 19:9; 23:22; Ulangan 24:19).

    Penulis kitab Rut menuliskan bahwa Rut berada di ladang milik Boas. Ternyata Boas merupakan salah seorang anggota keluarga dari kaum Elimelekh. Secara tradisi, Boas memiliki kewajiban untuk menebus Rut. Boas sangat baik kepada Rut karena ia tahu pengorbanannya untuk Naomi. Oleh karena itulah, ia memperlakukan Rut secara istimewa. Hal itu membuat keberlangsungan hidup Rut dan Naomi terpelihara dari hasil memungut jelai di ladang Boas.

    Ketika Rut bekerja di ladang Boas, secara manusiawi, kita mungkin menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan. Namun secara rohani, sebenarnya ini merupakan karya pemeliharaan Tuhan kepada Naomi dan Rut. Bagi Tuhan tidak ada yang kebetulan karena semua ada dalam kedaulatan-Nya. Walau tidak menyadarinya, Tuhanlah yang menuntun langkah Rut sehingga ia bekerja di ladang milik Boas. Setidaknya, Naomi meyakini hal itu (Ayat 20).

    Sahabat, apa pun yang kita alami, semua itu bukanlah kebetulan semata. Ada tangan Tuhan yang memelihara dan menuntun. Seharusnya, hal ini memberi pegangan kepada kita agar tidak perlu khawatir terhadap hari depan dengan segala persoalannya.

    Asal kita melakukan bagian kita untuk bekerja, berusaha, serta berserah kepada kedaulatan-Nya, percayalah, Tuhan akan memelihara dengan cara yang ajaib. Mari kita berserah penuh hanya kepada tangan pemeliharaan Tuhan dan tekun mengerjakan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14-16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah berhenti berbuat baik kepada siapa pun, sebab kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita pada saat yang kita butuhkan. (pg),

  • KEBENARAN YANG GAGAL DIBENDUNG

    Saudaraku,  salah satu dari beberapa hal yang tidak bisa lama disembunyikan adalah kebenaran.  Manusia berusaha menutupinya dengan berbagai cara namun kebenaran akan mencari jalannya sendiri. Setelah peristiwa penyaliban, para tua-tua dan penjaga berusaha terus menerus membendung kebenaran tentang Yesus.  Mari kita merenungkan Matius 28:11-15.

    Hoax.  Para tua-tua memakainya untuk membendung kebenaran tentang Yesus.  Mereka menyuap dan menyebarkan hoax agar kebenaran itu tidak didengar.  Para penjaga adalah saksi kebangkitan.  Mereka melihat kebenaran di depan mata namun tidak memberikan respons yang benar. Di sinilah dua kepentingan bertemu dan pada akhirnya membuahkan tindakan yang negatif. Kedua kepentingan itu adalah:

    1. Kepentingan para prajurit saksi kebangkitan.

    Mereka merupakan tentara utusan khusus Pilatus untuk menjaga kubur Yesus (Matius 27:65-66).  Namun hidup para tentara itu diujung tanduk tatkala melihat kebangkitan Yesus: Batu kubur yang digulingkan malaikat dan mendudukinya.  Apalagi dengan jelas mereka mendengar pesan malaikat kepada para perempuan tentang kebangkitan Yesus.  Posisi mereka diujung tanduk karena hal seperti itu tidak akan didengarkan oleh Pilatus.  Mereka bisa dihukum karena dianggap melalaikan tugas.  Para prajurit membutuhkan alibi agar posisi mereka aman di depan Pilatus.  Mereka mengabaikan kebenaran demi mengamankan kedudukan mereka.

    • Kepentingan para tua-tua

    Sebenarnya berita kebangkitan sudah diprediksi oleh para imam dan orang Farisi.  Namun para tua-tua yang bertanggung jawab terhadap keamanan masyarakat menilai berita ini akan menjadi masalah yang besar.  Maka mereka menyuap para saksi itu dan diminta untuk menyebarkan hoax demi keamanan dan situasi masyarakat yang kondusif.  Mereka menjadikan para murid sebagai kambing hitam demi kepentingan orang banyak.

    Kedua kepentingan di atas menjadi alasan mengapa mereka “menembakkan senjata pamungkas”  yang bernama hoax.  Harapan mereka adalah hoax itu akan meredam kebenaran.  Namun kebenaran akan mengejar semua kebohongan dan akan muncul menyatakan dirinya.  Inilah yang terjadi. Walaupun dampak hoax tentang kebangkitan itu masih dirasakan namun Allah memiliki cara untuk membuka kebenaran kebangkitan Sang Kristus.  Alkitab mencatat semua kebenaran itu sehingga semua orang yang membacanya bisa berjumpa dengan Sang Kebenaran Sejati secara pribadi.  Tidak ada yang sanggup membendung pekerjaan Allah.

    Di dunia yang penuh kepentingan, kebenaran rasanya sulit untuk muncul dengan jujur. Umat Allah tidak rentan dengan situasi ini: Diperlakukan tidak adil karena kebenaran yang ditutupi atau mengalami dampak buruk akibat menyatakan kebenaran. Namun Allah Sang Kebenaran tidak akan pernah diam dan berhenti mengungkap kebenaran demi kebenaran. Kiranya umat Allah berani untuk memberikan jalan kepada kebenaran apa pun risikonya, sehingga mereka akan dipuaskan dengan kasih setia Tuhan. Selamat berjuang untuk menyatakan kebenaran dan selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Regrets Come Too Late

    PENYESALAN. Sahabat, dalam teologi Kristen, penyesalan atau sesal adalah perasaan sedih atau kesusahan dalam hati seseorang karena dosa-dosa yang dilakukannya, dengan disertai keinginan untuk tidak melakukannya lagi.

    Sedang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapatkan informasi bahwa penyesalan  berarti: 1. Perasaan menyesal (menyesali); 2. Proses, cara, perbuatan menyesali (menyesalkan); 3. Penyanggahan; sanggahan.

    Sahabat, menurut beberapa ahli psikologi, penyesalan adalah keadaan kognitif dan emosional yang menyakitkan karena menyesalkan sesuatu atas kelemahan, kehilangan, atau kesalahan. Penyesalan merupakan emosi yang memberi arah pada suatu perilaku, di mana dapat digambarkan ketika sebuah ekspektasi yang kita miliki tidak sesuai pada kenyataan yang terjadi.

    Syukur Hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Hakim-Hakim dengan tema: “Regrets Come Too Late (Penyesalan Datang Terlambat)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 21:1-25. Sahabat,  tidak adanya pemimpin nasional yang berkualitas merupakan salah satu penyebab terjadinya tragedi yang diuraikan dalam Hakim-Hakim pasal 20. Bila ada pemimpin yang berwibawa, seharusnya bisa dilakukan perundingan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel yang lain untuk mencegah terjadinya perang saudara. 

    Sesudah perang saudara berakhir, barulah bangsa Israel menyadari bahwa mereka telah salah dalam mengambil keputusan. Mereka menangis dengan suara keras di hadapan Allah, tetapi penyesalan tersebut telah terlambat. Hubungan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel yang lain bisa dikatakan telah retak.

    Suku-suku Israel menyesali keputusan mereka yang telah bersumpah untuk tidak menikahkan anak perempuannya kepada orang suku Benyamin. Sumpah yang diambil secara gegabah ini bukan hanya disesali, tetapi juga ditangisi (Ayat 1-2). Akibat dari keputusan ini, orang Israel melahirkan kejahatan-kejahatan yang susul menyusul. Suku-suku Israel menyarankan suku Benyamin untuk mengambil paksa perempuan dari Yabesh-Gilead untuk dijadikan istri.

    Bahkan, mereka mengusulkan untuk membunuh orang-orang Yabesh-Gilead, yakni para laki-laki dan perempuan yang sudah pernah tidur dengan laki-laki. Sementara, perempuan yang belum pernah tidur dengan laki-laki bisa dibawa untuk dijadikan istri dari orang-orang suku Benyamin (Ayat 10-12).

    Tidak cukup sampai di situ, ketika perempuan-perempuan dari Yabesh-Gilead tidak mencukupi, mereka mengusulkan sebuah ide jahat, yakni melarikan anak-anak perempuan Silo dan membawanya pergi ke tanah Benyamin (Ayat 21).

    Bacaan kita pada  hari ini mengingatkan kita bahwa adanya pemimpin yang bisa menyatukan dan adanya aturan (hukum) sangat penting bagi kehidupan bersama.

    Selain itu keputusan yang gegabah mungkin saja akan membuat kita menyesalinya seumur hidup. Oleh karena itu, sebelum memutuskan sesuatu, kita harus menenangkan hati dan bertanya dahulu kepada Allah. Hanya dengan mencari kehendak Allah, kita dapat mengetahui apa yang benar dan yang mendatangkan kebaikan. Mari kita memohon ampun kepada Tuhan jika sering bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang penyesalan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Syukurilah kehadiran dan tuntunan Allah dalam hidup kita; berdoalah agar kita diberikan kepekaan mendengar suara-Nya. (pg).

  • Looking at God’s Good Plan

    KITAB RUT. Sahabat, kitab Rut (disingkat dan akronim Rut) merupakan kitab kedelapan dan bagian dari kelompok kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama Alkitab Kristen.  Penulis kitab ini tidak diketahui. Adapun temanya: Kasih yang Menebus.

    Secara historis, kitab ini menguraikan berbagai peristiwa dalam kehidupan suatu keluarga Israel pada zaman para hakim (Rut 1:1; sekitar 1375-1050 SM). Secara geografis, latar belakang 18 ayat pertama kitab ini adalah di tanah Moab (di sebelah timur Laut Mati). Sisa kitab ini terjadi dekat atau di Betlehem di Yehuda. Secara liturgis, kitab ini menjadi salah satu dari lima gulungan dari bagian ketiga Alkitab Ibrani, yaitu “Hagiographa” (“Tulisan-Tulisan Kudus”). Tiap-tiap tulisan ini dibacakan di depan umum pada salah satu hari raya Yahudi tahunan. Karena drama inti dalam kitab ini terjadi pada waktu panen, kitab ini biasanya dibaca pada Hari Raya Panen (Pentakosta).

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh inti dari cerita ini, yaitu Rut yang merupakan seorang perempuan Moab yang menjadi seorang Yahudi karena pilihannya sendiri, serta merupakan nenek buyut dari Raja Daud dari Kerajaan Israel,  dan leluhur dari Yesus merurut Perjanjian Baru.

    Kitab Rut ditulis untuk menguraikan bagaimana melalui kasih yang berkorban dan pelaksanaan hukum Allah yang benar, seorang wanita muda Moab yang saleh menjadi nenek moyang raja Israel, Daud. Kitab ini juga ditulis untuk melestarikan sebuah kisah indah dari zaman hakim-hakim mengenai sebuah keluarga saleh yang kesetiaannya dalam penderitaan sangat kontras dengan kemerosotan rohani dan moral yang umum di Israel pada masa itu.

    Kisah-kisah dalam kitab Hakim-hakim menunjukkan kesukaran-kesukaran yang terjadi karena umat Tuhan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kisah Rut menunjukkan berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada seorang asing yang meninggalkan agamanya untuk percaya kepada Tuhan Israel. Oleh sikapnya itu ia menjadi anggota umat Tuhan.

    Hari ini kita mulai belajar dari kitab Rut dengan topik: “Looking at God’s Good Plan (Melihat Rencana Baik Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari kitab Rut 1:1-22. Sahabat, kepahitan hidup merupakan salah satu masalah yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Tidak jarang orang menjadi putus asa karenanya. Bahkan, ada saja orang yang akhirnya menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Ketika sedang mengalami kepahitan, kita sering bertanya, “Apa rencana Tuhan atas semua ini? Mengapa Tuhan membiarkan kita mengalaminya?”

    Sahabat, Naomi merupakan salah seorang yang mengalami kepahitan besar dalam hidup. Kelaparan membuat dia, suaminya (Elimelekh), dan kedua anaknya pergi dari Betlehem-Yehuda ke Moab. Mereka pindah ke sana untuk menghindari wabah kelaparan tersebut. Di sana ia justru mengalami masalah bertubi-tubi. Elimelekh dan kedua anaknya, yang sudah menikah dengan perempuan Moab (Orpa dan Rut), meninggal. Ia bersama kedua menantunya menjadi janda. Akibatnya, tidak ada yang dapat menjamin keberlangsungan hidup mereka. Hal itu membuat Naomi mengalami penderitaan dan kepahitan. Oleh karena itulah, ketika pulang ke kampung halamannya, ia tidak mau dipanggil Naomi melainkan Mara (pahit) karena kondisinya yang sudah habis-habisan (Ayat 20-21).

    Masalah demi masalah telah menghalangi mata iman Naomi untuk melihat rencana Tuhan yang baik. Rencana tersebut adalah Rut yang setia mengikuti Naomi dan telah berkomitmen menyembah Yahweh, Allahnya Naomi. Lebih jauh lagi, kita dapat melihat rencana Allah yang lebih besar kepada umat-Nya. Melalui Rut, garis keturunan Sang Mesias yang dijanjikan untuk menyelamatkan umat-Nya terbentuk.

    Sahabat, kisah hidup Naomi ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah merancang hal yang buruk. Pergumulan dan permasalahan apa pun, jangan sampai membutakan mata rohani kita untuk melihat rencana baik Tuhan. Percayalah, Tuhan bisa bekerja dan menggenapi rencana-Nya di dalam hidup kita dengan cara yang ajaib, termasuk melalui kepahitan hidup. Tiap kali pergumulan datang, ingatlah akan Tuhan dan segala kebaikan-Nya. Kita perlu senantiasa bersyukur atas penyertaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup Rut diberkati dan beroleh peninggian dari Tuhan karena ia seorang yang setia, taat dan punya kerendahan hati! (pg)