+62 24 8312162

Hot Line Number

+62 24 8446048

Fax

Jl. Sompok Lama no. 62c Semarang

Kantor Pusat

KETIKA UANG TAK BERARTI

KETIKA UANG TAK BERARTI

Saudaraku, ada sebuah film India yang dirilis tahun 2014 dengan judul PK (Peekay = pemabuk) berisi komedi satir tentang “tuhan” yang diciptakan manusia dan permainan uang bagi siapa pun yang menjadi agennya. Ternyata sejak zaman para rasul, keinginan untuk mendapatkan dan mengendalikan Tuhan dengan uang sudah terjadi.  Mari membaca Kisah Para Rasul 8:14-24.

Simon dari Samaria tertarik dengan fenomena spiritual baru yang sedang viral saat itu. Karena ia memandang bahwa kuasa yang menyertai para rasul pengikut Yesus adalah kuasa asing jenis baru, maka ia bermaksud “membeli”-nya. Jual dan beli spiritual sepertinya hal yang biasa dilakukan oleh Simon.  Ia menjual kuasa “tuhan” dan orang-orang membelinya dengan uang dan perhatian. 

Simon berpikir bahwa “tuhan” yang dilihatnya melalui Petrus dan Yohanes sama saja seperti sehari-harinya, namun Simon gigit jari.  Ia bahkan ditegur keras oleh Petrus karena sikap dan motivasinya.  Simon kaget karena ternyata Tuhan yang diperkenalkan oleh para rasul itu tidak doyan uang.  Petrus bahkan mengatakan, ”Binasalah engkau dengan uangmu itu …” (Ayat 20).  Sangat keras.

Pikir Simon, Tuhan macam apa yang tidak tertarik dengan uang?  Setidaknya kalau Tuhan tidak suka, biarlah hamba-hamba-Nya saja yang mengambil uang itu.  Tapi tidak ada kompromi untuk Petrus dan kawan-kawannya.  Integritas mereka menjaga kekudusan Tuhan sehingga Tuhan benar-benar dijunjung tinggi.

Praktik spiritual yang melenceng sehingga membuat Tuhan seolah-olah sangat rakus uang dan bisa dibeli bahkan dibujuk dengan segepok uang dan sebongkah berlian sungguh membodohi masyarakat.  Tuhan tidak butuh uang kita, sebanyak bagaimanapun itu. 

Tuhan bekerja dengan cara-Nya dan independen dari semua pengaruh manusia.  Penyimpangan terjadi pada ketika agen Tuhan gemar bertransaksi  sehingga memakai nama Tuhan untuk memakmurkan dirinya sendiri.  Pada masa kini ada beberapa oknum yang mencari keuntungan dan bertransaksi dengan nama Tuhan dan pada akhirnya membuat pembusukan pada nama-Nya. 

Para nabi selalu menegur sikap seperti ini, misalnya saat Tuhan menegur penguasa Yehuda dengan mengatakan: “Penguasa-penguasa kota memerintah untuk mendapat uang suap, imam-imam mengajar hukum TUHAN untuk gaji, dan nabi-nabi meminta petunjuk dari Allah untuk mendapat uang–lalu mereka semua mengira TUHAN ada di pihak mereka. Mereka berkata, “TUHAN ada di tengah-tengah kita; kita tak akan ditimpa malapetaka.” (Mikha 3:11, BIS). 

Saudaaraku, nama Tuhan yang kudus seharusnya dijaga dengan integritas para agen-Nya.  Mari belajar untuk memiliki hati yang tulus dan menjaga diri dari sikap cinta akan uang.  Mari menjaga kekudusan Tuhan dengan hidup dalam ketulusan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Leave a Reply