Dipakai Allah

Apakah Allah pernah memakai milik kita untuk melayani atau menjangkau orang lain bagi pelayanan-Nya? 

Melalui bidang-bidang pelayanan apapun dan di lokasi manapun, kita acapkali melihat bahwa Allah berkenan memakai dari apa yang kita miliki, sekalipun kita menganggap benda atau hal itu sederhana. Bagaimanapun, Ia mampu mengubah yang sederhana untuk membuahkan hasil bagi pelayanan bersama.  

Dalam bacaan kita Lukas 5:1-3, Tuhan Yesus memakai sebuah perahu sederhana yang dimiliki oleh Simon Petrus, seorang nelayan yang bersahaja pula. Tuhan Yesus ingin memakai perahunya dan sekaligus menjangkau banyak orang melalui pemberitaan dan pengajaran-Nya.

Lukas 5:1 berkata, “Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.”

Banyak orang mengerumuni Tuhan Yesus, sebab mereka ingin mendengarkan firman Allah. Mereka memiliki motif yang berbeda-beda ketika datang mendengarkan firman Allah. Sebagian orang datang mendengarkan Yesus, karena hati mereka dipenuhi oleh kekaguman firman Tuhan dan kuasa ilahi yang ada di dalamnya. Sebagian orang lagi didorong dengan keingintahuan pada sesuatu yang baru dalam hidup.

Lalu, mengapa banyak orang berhasrat mendengarkan firman Tuhan? Sebab firman Tuhan sangat berhubungan dengan hidup manusia setiap hari.

  • “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).
  • “Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Lukas 11:28).
  • “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Lukas 5:3 berbunyi, “Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.”

Tuhan Yesus memakai perahu penangkap ikan yang dimiliki oleh Simon Petrus untuk mengajar banyak orang dari atas perahu. Tuhan Yesus tidak memandang apakah perahu itu tua dan sederhana, atau baru dan besar, melalui penilaian kualitas bendanya. Ia tidak mengamati kedua kualitas itu sama sekali. Namun, Ia sungguh melihat pribadi pemilik perahu sederhana itu dengan memahami betul akan kebutuhan rohani di antara orang-orang sekitar, termasuk Simon Petrus dan rekan-rekannya.    

Dengan demikian, Tuhan Yesus bisa memakai apa saja yang kita miliki untuk melayani dan menjangkau orang lain bagi kemuliaan-Nya.  Allah memanggil kita bagi pelayanan-Nya dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang kita tidak miliki. Apapun yang kita memiliki bisa dipakai bagi pelayanan misi maupun penginjilan gereja. Misalnya, sepeda motor, rumah, waktu, tenaga, komputer, uang, ibadah, talenta, kemampuan, komitmen, hidup kita, dan sebagainya.  

Dalam ayat itu, Tuhan Yesus memberitakan dan juga mengajar firman Tuhan. Kedua kegiatan ini sangat penting dalam kehidupan bergereja, sekalipun di tengah-tengah keadaan pandemi Covid-19 saat ini. Gereja Tuhan pada hakikatnya harus melakukan kedua kegiatan tersebut. Bahkan, rasul Paulus benar-benar mendesak Timotius muda untuk “beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” dan “…lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:2 dan 5).

Dalam pelayanan misi penginjilan, kita bisa “menjala manusia” dengan umpan firman Tuhan dan juga melibatkan banyak pengajaran rohani. Sebagian orang ditantang untuk menanggapi undangan Allah guna menjangkau lebih banyak orang melalui pelayanan misi lintas-budaya. Lebih jauh lagi, dorongan yang kuat terhadap pelayanan misi ini dapat terjadi sebab dimotivasi oleh Amanat Agung Tuhan Yesus sendiri (bdng. Matius 28:19-20; Yohanes 20:21).

Kegiatan-kegiatan memberitakan dan mengajar melalui pelayanan misi lintas-budaya membawa kita semakin menyadari bahwa jalan Allah kiranya boleh dikenal di bumi dan keselamatan-Nya di antara segala bangsa (Mazmur 67:3). Inilah kerinduan Tuhan Yesus agar lebih banyak orang mendengarkan Sabda-Nya yang penuh kuasa. Marilah kita membuka diri untuk dipakai Allah untuk berbagi kasih anugerah-Nya melalui pelayanan misi penginjilan. Kiranya Allah dengan kelimpahan-Nya memberkati kita. (Petrus Eko Handoyo/pg).

*****

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *