Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pernahkah kita bertanya, “Mengapa dalam hidup ini ada sukacita dan ada dukacita?” Helen Keller (Penulis asal Amerika) berkata, “Jika hanya ada sukacita di dunia ini, maka kita tidak akan pernah belajar sabar dan berani.”
Mother Teresa (Biarawati Katolik asal Roma yang mengabdikan hidupnya di India) berkata, “Cara terbaik untuk menunjukkan rasa syukur saya kepada Tuhan adalah menerima segalanya, bahkan masalah saya, dengan sukacita.” Sedangkan Karl Bath (Teolog asal Swiss) berkata, “Sukacita adalah bentuk sederhana dari rasa syukur.”
Saudara, ada cukup banyak orang berpendapat bahwa sumber sukacita dalam diri seseorang berasal dari materi dan situasi yang mendukung. Jika kita mendasari sukacita pada kondisi dan situasi, maka sukacita yang kita rasakan tidak akan bertahan lama, hanya bersifat sementara.
Nah, akan sangat berbeda sekali jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber sukacita. Sukacita yang kita rasakan akan bersifat permanen karena sukacita dari Tuhan adalah sukacita di segala situasi, tidak dipengaruhi keadaan, karena dikerjakan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam kita. Sukacita inilah yang dirasakan nabi Habakuk: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18).
Sesungguhnya bila melihat fakta atau situasi yang terjadi, Habakuk punya banyak alasan bersedih, meratap dan putus asa, tapi ia tetap mampu bersukacita “…sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11b).
Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah bersukacita senantiasa, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Bukan saja dalam waktu enak dan senang saja, tetapi juga dalam waktu yang sulit dan susah sekalipun. Berada dalam penjara dengan kaki terpasung bukan alasan bagi Paulus dan Silas untuk tidak bersukacita, bahkan di tengah malam keduanya menyanyikan pujian bagi Tuhan (Kisah Para Rasul 16:25).
Bagi orang percaya tidaklah sulit bersukacita di tengah masalah dan penderitaan karena Roh Kudus ada di dalam diri kita. Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita. Jika Saudara mengalami masalah berat jangan tawar hati. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).
Bagaimana agar dapat bersukacita di segala situasi? Milikilah persekutuan karib dengan Tuhan senantiasa, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17).
Ingatlah! Ketika kita mampu bersukacita di segala situasi, kita akan menjadi saksi yang baik bagi orang di sekitar kita. Albert Schweitzer (Dokter dan misionaris asal Perancis) berkata, “Sukacita yang dibagikan akan menjadi dua kali lipat, sedangkan dukacita yang dibagikan akan terbagi dua.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).
Leave a Reply