
Dagobert Dagger (1883–1945) adalah seorang misionaris Jerman yang melayani di Tiongkok. Ia dikenal karena kesetiaannya yang diam dan tangguh di tengah tekanan besar dalam pelayanannya. Saat penganiayaan kepada para misionaris meningkat, Dagger menolak melarikan diri dan memilih tinggal bersama jemaat yang miskin dan tertindas. Ia tidak berteriak tentang imannya, tetapi membiarkan kasih Kristus membakar dalam ketenangan pelayanannya. Hingga akhir hidupnya, api yang diam itu justru menyalakan iman banyak orang, bahkan setelah ia wafat di penjara karena imannya.
Mazmur 17:3 mengatakan, “Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. “. Mazmur ini menyingkapkan kejujuran batin yang diuji di ruang tersembunyi kehidupan. Kata “memeriksa” memiliki makna “pengujian logam dalam api tinggi untuk membuktikan kemurniannya”. Mazmur ini menunjukkan bahwa kasih Allah melayakkan manusia melalui penyaringan batin yang senyap. Tidak ada kebisingan rohani yang membenarkan diri dan yang ada hanya ketenangan jiwa yang tahan di bawah tatapan Allah. Di sanalah kasih Ilahi membentuk dan memurnikan tanpa suara, namun nyata dalam hasilnya.
Seperti Dagobert, kita dipanggil untuk membiarkan api kasih Ilahi bekerja dalam senyap, membakar tanpa suara namun memurnikan seluruh keberadaan agar layak di hadapan-Nya. Seringkali kita tak perlu meneriakkan apapun yang menjadi karya dan perjuangan kita untuk menarik perhatian manusia agar kita bisa merasakan pertolongan Tuhan yang maksimal. Kristus pun tak meneriakkan apapun untuk mempromosikan Karya Besar-Nya, melainkan bekerja dalam sepinya jalan kebenaran. Kristus tak berteriak meminta perhatian untuk pelayanan-Nya bahkan Dia memberikan perhatian maksimal kepada mereka yang terluka, tersisihkan dan terpinggirkan. Mari belajar untuk meneladani Kristu. Api kasih Ilahi tidak berisik, namun membakar segala yang palsu hingga tinggal yang murni. (sTy)
