TERSUNGKUR LALU BERSYUKUR : YANG SEHARUSNYA DIINGAT

TERSUNGKUR LALU BERSYUKUR : YANG SEHARUSNYA DIINGAT

 

Mechthild of Magdeburg (1207–1282), seorang mistikus Jerman yang meninggalkan kenyamanan bangsawan untuk hidup melayani di antara kaum miskin. Dalam karya rohaninya The Flowing Light of the Godhead, ia menulis pengalaman batin yang lahir dari perjumpaan mendalam dengan kasih Allah. Mechthild sering ditolak oleh kalangan gerejawi karena keberaniannya berbicara tentang terang ilahi yang mengalir dalam jiwa yang remuk. Namun, justru dalam kesepian itu ia belajar mengingat Kristus bukan dengan lidah, melainkan dengan kehidupan yang terbakar oleh kasih-Nya.

Dalam 2 Timotius 2:8, Paulus menulis kepada Timotius, ”Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan dari keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”. Kata “ingatlah” memiliki arti  kesadaran rohani yang terus berdenyut, bukan sekadar aktivitas mengingat secara intelektual. Mengingat di sini bukan nostalgia, tetapi persekutuan batin yang menyalakan kembali kesetiaan kepada Injil dan meneguhkan keberanian untuk tetap setia dalam penderitaan. Paulus tidak sekadar meminta Timotius mengingat fakta kebangkitan, melainkan menghidupi keteladanan Kristus yang hidup. Ia bukan hanya sumber pengharapan, melainkan pusat eksistensi yang menghidupkan iman di tengah kelelahan dan luka pelayanan. Mengingat Kristus berarti membiarkan kuasa kebangkitan-Nya menata ulang arah hidup dan mengikis setiap bentuk kealpaan rohani.

Mechthild menghidupi panggilan ini, ia tidak berhenti pada ingatan tentang kasih Allah, tetapi membiarkan ingatan itu menjelma menjadi api yang membakar seluruh hidupnya. Begitu pula, mengingat Kristus seharusnya menjadi denyut kesetiaan yang membuat hidup bersinar, bukan hanya berdoa mengingat masa lalu.  Ingatan yang lahir dari perjumpaan akan menyalakan kesetiaan yang tidak bisa padam. (sTy).

Renungan Lainnya