Dalam perikop Alkitab Ulangan 30:15-20, nabi Musa sebenarnya berbicara kepada umat Israel tentang persekutuan, bukan pembenaran. Maksudnya sederhana, kenikmatan hidup mereka bergantung pada kepatuhan kepada firman Allah.
Ayat 16 berbunyi, “Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.”
Di sini, nabi Musa tetap menekankan kata hari ini.Kata tersebut memang begitu krusial bagi kehidupan kristiani. Tuhan Yesus sendiri menghubungkan kata hari ini dengan keselamatan. Dalam Lukas 19:9, Yesus berkata kepada Zakheus, kepala pemungut cukai, tentang keselamatan hari ini. Ia akhirnya juga mengikuti Tuhan Yesus. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini…” Tuhan Yesus tahu bahwa keselamatan sungguh-sungguh mendesak bagi kita semua. Sebab itu, Yesus menekankan kata hari ini yang dihubungkan dengan keselamatan kita. Kita mesti membuat keputusan di sini dan kini.
Dengan ayat 16 tersebut, nabi Musa ingin menjelaskan kepada umat Israel bahwa mereka sungguh-sungguh mempunyai kebebasan untuk memilih. Mereka bisa menerima perintah Allah dan juga bisa menolak-nya. Bila umat Israel benar-benar ingin menyenangkan Tuhan, mengasihi-Nya, dan hidup dalam jalan-Nya, mereka akan hidup dalam berkat-berkat Allah.
Itulah sebuah keputusan yang harus mereka buat. Itulah pilihan antara kehidupan atau kematian, kesejahteraan atau kehancuran, kebaikan atau kejahatan, kepatuhan atau ketidakpatuhan. Nabi Musa tidak dapat mengambil keputusan bagi mereka. Mereka harus memilih yang terbaik. Tapi, umat Israel berdiri di persimpangan jalan.
Lebih lanjut ayat 19a berkata, “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini : kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”.
Nabi Musa menghadapkan orang Israel dengan pilihan yang sangat penting di sini, yaitu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk (penyebab kesulitan). Ia memanggil langit dan bumi untuk menjadi saksi terhadap pilihan yang orang Israel buat. Nabi Musa tahu, nampaknya sulit bagi umat-nya untuk membuat pilihan yang tepat.
Apa arti kehidupan di sini? Ini berarti orang Israel dan juga kita bisa menikmati berkat dan kebaikan Tuhan setiap hari. Sedangkan, kematian menunjuk pada orang Israel dan juga kita yang mengalami kutuk dan penderitaan dalam hidup, yang membuat kita tak mampu lagi menanggung beban hidup ini. Sebab itu, kita membutuhkan anugerah ilahi.
Sekali lagi, dalam ayat 19b, nabi Musa dengan jelas menegaskan pesannya, “Sekarang pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”. Inilah permohonan nabi Musa yang terakhir bagi umat Israel. Dan, ini juga suatu tantangan bagi kamu dan aku untuk menanggapi ajakan itu, sekalipun di tengah-tengah keadaan yang tak menentu dari wabah Covid-19 akhir-akhir ini.
Kata kehidupan menjadi tema utama dalam Kitab Ulangan 30 (ayat 6, 15, 16, 18, 19, 20). Memilih kehidupan berarti memilih Allah sendiri, percaya dalam anugerah Allah, dan mematuhi perintah-Nya. Bagi kita, ini juga butuh keberanian untuk membuat pilihan hidup.
Nabi Musa mengajak umat Israel dan juga kita semua untuk memilih kehidupan. Mengapa? Sebab, memilih kehidupan adalah salah satu berkat rohani paling berharga yang datang dari kebebasan memilih. Inilah eksistensi manusia yang sesungguhnya, sebab kamu dan aku memilih untuk hidup bagi Kristus. Ini pun sangat penting bagi perjalanan hidup rohani kita.
Ayat 20, nabi Musa mengingatkan umatnya lagi, “Tuhan adalah hidupmu.” Saat bangsa Israel memilih Tuhan, mereka juga memilih kehidupan (ayat 19). Begitu indah, bukan? Pilihan hidup atau kematian juga ditekankan dalam ajaran Yesus (bdng. Yohanes 3:36). Pilihan yang kita buat benar-benar memiliki implikasi-implikasi yang penting.
Lantas, mengapa kita harus memilih kehidupan? Pertama, sebab Tuhan sendiri adalah kehidupan kita (Ulangan 30:20). Kedua, sebab dalam Yesus ada hidup (Yohanes 1:4). Ketiga, sebab hidup itu karunia dari Allah (Ayub 10:12).
Kehidupan ini sungguh berharga dan sangat bernilai. Marilah kita memilih kehidupan hari ini. Kita mau tinggal dalam Tuhan Yesus saja. Terlepas dari Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa dalam hidup yang penuh tantangan dan pergumulan ini. (Petrus E. Handoyo/pg).
*****
Leave a Reply