
Teolog asal Kenya yang bernama John Samuel Mbiti dijuluki Bapak Teologi Afrika Modern. karena menghubungkan iman Kristen dengan budaya Afrika. Ia menulis gagasannya melalui karya tulis: African Religions and Philosophy yang membuka wawasan dunia tentang kekayaan iman Afrika. Sebagai pendeta dan profesor, pemikiran John Mbiti menekankan bahwa Injil harus berakar dalam budaya, bukan sekadar salinan Barat, dan menunjukkan bahwa Kristus hadir juga dalam sejarah dan budaya Afrika. Ia membuka ruang dialog antar agama dan membangun jembatan antara tradisi dan Injil. Warisannya merupakan Gereja Afrika yang hidup, beridentitas, dan teguh dalam kasih Allah.
Lukas mencatat reaksi Yesus ketika melihat perempuan yang telah delapan belas tahun terikat dengan sakit dan mengalami punggung yang bungkuk dengan pernyataan demikian,“Ketika Yesus melihat dia, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ‘Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.’”(Lukas 13:12). dan panggilan-Nya membuat punggungnya yang terbungkuk menjadi pulih, yang terikat telah terlepas. Pandangan Tuhan bukan sekadar tatapan, melainkan daya hidup yang menembus kedalaman luka karena belas kasih itu bukan konsep, melainkan detak jantung gereja. Jika detak itu berhenti, gereja bagaikan tubuh yang tanpa kehidupan. Lukas menyingkapkan bahwa pemulihan sejati terjadi bukan karena usaha manusia melainkan karena mata Kristus yang menembus yang tersembunyi, lalu tangan-Nya merengkuh. Dalam rengkuhan itu beban yang berat menjadi ringan, yang hancur menjadi utuh kembali dan yang tertindas bangkit berdiri dalam kemerdekaan ilahi. Belas kasih Kristus akan menegakkan kembali mereka yang bungkuk dan melepaskan manusia dari belenggu kegelapan yang mengikat. (sTy)
