Setiap hari, Saudara dan saya menetapkan beberapa pilihan. Itulah sebabnya hidup ini sungguh-sungguh penuh pilihan. Pilihan-pilihan tersebu mungkin saja mencakup pilihan yang sederhana atau yang rumit atau kompleks. Pilihan-pilihan yang sederhana bisa mencakup misalnya, memilih sayuran atau buah-buahan di pasar, memilih minum teh atau coklat, memilih naik bis atau naik jasa tukang ojek.
Sedangkan, pilihan-pilihan yang rumit atau kompleks meliputi memilih sekolah, memilih teman, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, memilih keyakinan/agama, memilih mengikuti Tuhan Yesus, dan lainnya. Lalu, apa yang terjadi bila kita tidak membuat pilihan? Barangkali orang lain akan memilihkan buat kita, tentu kita tidak menghendaki hal tersebut terjadi.
Sekarang, apa yang membuat kita memilih? Atau dengan kata lain, Mengapa ada pilihan-pilihan dalam hidup ini? Kita menetapkan pilihan-pilihan, sebab ini didasarkan pada kebebasan yang kita miliki. Kebebasan adalah suatu kemampuan untuk memilih bagi diri sendiri. Lantas, dari mana datangnya kebebasan kita? Allah sendiri memberikan kita kebebasan untuk memilih. Namun, kita juga sering memilih dengan keliru (bdng. Kejadian 2:15-17).
Bacaan kita dalam Kitab Ulangan 30:11-15, nabi Musa menawarkan pilihan-pilihan kepada umat Israel: kehidupan atau kematian, kesejahteraan atau kehancuran, berkat atau kutuk, yang baik atau yang jahat. Generasi baru dari umat Israel kini telah tiba di sebelah timur sungai Yordan, tepatnya di tanah Moab. Mereka berhenti di akhir perjalanan yang panjang setelah 40 tahun berada di padang gurun. Mereka segera akan memasuki dan mendiami tanah Kanaan, yaitu Tanah Perjanjian (Ulangan 1:5-8).
Pemimpin mereka, nabi Musa, sudah lanjut usia saat itu. Ia tidak dapat memimpin umat Israel ke Tanah Perjanjian. Musa menyampaikan perintah Allah yang terakhir kepada umat Israel sebelum ia mengundurkan diri sebagai pemimpin mereka. Ia mengingatkan mereka tentang makna perjanjian Allah. Nabi Musa meminta umat Israel untuk memperbaharui komitmen mereka dalam mengikut Allah.
Ulangan 30:11 berkata, “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh”. Perintah-perintah itu tidak terlalu sulit dan tidak melampaui pemahaman mereka. Dan, perintah itu tidak di langit dan tidak di seberang laut (ayat 12-13). Perintah itu bersifat realistis. Perintah itu berbunyi “Jangan ada padamu allah lain dan kasihilah Tuhan Allah-mu, Jangan menyembah berhala, Jangan menyebut nama Tuhan Allah-mu dengan sembarangan, hormatilah ayah ibumu, kuduskanlah hari Tuhan …“ (Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21).
Lalu, tujuan perintah tersebut adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan itu akan dialami oleh orang Israel sendiri di dalam perjanjian dengan Allah, yang sudah disampaikan Musa kepada umat-nya. Kehidupan di sini bersifat rohani dan jasmani (lihat ayat 15-20).
Ayat 14 menjelaskan pada kita bahwa perintah dan firman itu sesungguhnya dekat dengan kita, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Inilah firman iman, yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada orang percaya melalui keselamatan-Nya. Dalam Roma 10:8-9, kita mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Yesus adalah Tuhan.
Ayat 15 berbunyi, “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan”. Kata “hari ini” (bhs. Ibrani) dalam perikop kita dipakai sebanyak lima kali (ayat 11, 15, 16, 18, dan 19). Saya kira, nabi Musa mempunyai maksud yang khusus mengapa ia menekankan kata itu. Hal-hal seperti kepatuhan pada Allah, mengasihi-Nya, memiliki persekutuan yang dekat dengan Allah, dan memilih kehidupan adalah sangat penting bagi kita. Kita tidak bisa menunggu untuk melakukan hal-hal ini sampai lusa atau minggu depan. Kita mesti membuat keputusan di sini dan kini.
Kata hari ini berbicara tentang momen atau saat kesempatan. Inilah momen kesempatan secara pribadi bagi kita untukmendengarkan suara Allah dan mengikuti perintah-perintah-Nya. Kita menanggapiAllah dengan kepatuhan iman. Dan, hari ini merupakan saat yang menentukan. Mengapa? Sebab, kita semua tahu, sesudah hari ini banyak haltak akan pernah menjadi sama. (lihat Pengkotbah 11:6).
Hari ini adalah berkat dan anugerah dari Allah. Marilah kita memilih kehidupan hari ini. Kita tinggal di dalam Yesus dan membuahkan sejumlah kesaksian bagi kerajaan-Nya. Terpisah dari Yesus, kita tidak mampu berbuat apa-apa dalam kehidupan ini. (Petrus E. Handoyo/pg).
******
Leave a Reply