MENSYUKURI KEMERDEKAAN, MELANJUTKAN PERJUANGAN:IMAN MEMBELAH LAUTAN

MENSYUKURI KEMERDEKAAN, MELANJUTKAN PERJUANGAN:IMAN MEMBELAH LAUTAN

Martha Christina Tiahahu adalah putri Kapitan Paulus Tiahahu dari Maluku dan sejak kecil akrab dengan bara perjuangan. Saat Perang Pattimura berkobar usia Martha masih belia namun tak menghalangi keberaniannya untuk terlibat dalam peperangan.  Martha maju bersama rakyat, memegang tombak, menguatkan hati dan merawat mereka yang terluka. Meski Martha kehilangan ayahnya yang dihukum mati Belanda dan dia sendiri ditawan namun semangatnya tak surut untuk melawan penjajah. Ia dijatuhi hukuman kerja paksa di kebun kopi wilayah Jawa. Dalam perjalanan ke Jawa ia mengalami sakit dan menolak pengobatan dari dokter Belanda dan  lebih memilih mati terhormat daripada hidup terikat. Jenazahnya dilarung ke Laut Banda dan lenyap ditelan ombak, namun warisannya kekal yaitu  iman, keberanian, dan keteguhan hati dalam kemudaannya.

Ibrani 11:29 berkata,“Karena iman mereka telah menyeberang Laut Teberau sama seperti melintasi tanah kering, sedang orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga.”.  Ayat ini menyatakan bahwa iman orang Israel lah yang membuat mereka dapat menyeberangi Laut Teberau itu bukanlah sekadar keajaiban yang spektakuler.  Itu  adalah hasil ketaatan penuh pada janji Allah di saat kemustahilan di depan mata mereka. Lautan luas, ombak besar, dan tentara Mesir yang mengejar hanyalah latar panggung di mana iman membuktikan kuasanya.  Iman itulah yang membuat mereka mampu menjalani dasar Laut Teberau yang mongering karena kuasa Tuhan.

Begitu pula perjalanan bangsa Indonesia: kemerdekaan lahir dari darah, doa, dan keyakinan bahwa Allah membuka jalan di tengah ketakutan. Merdeka berarti terus menyeberangi lautan tantangan, bukan berdiam di tepi pantai keraguan.  Martha Tiahahu telah melangkah seperti Israel di Teberau dan punya keberanian menyeberang maut karena percaya bahwa janji Tuhan lebih besar dari penindasan.  Iman yang sejati tidak berhenti di tepi laut, melainkan berani melangkah hingga ombak tunduk pada kuasa Tuhan.(sTy).

Renungan Lainnya