KASIH SETIA TUHAN ATAS BANGSA-BANGSA : KOMPAS IMAN

KASIH SETIA TUHAN ATAS BANGSA-BANGSA : KOMPAS IMAN

Nicholas Bhengu lahir pada 1909 di Afrika Selatan. Ia merasakan panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil sejak masih berusia muda. Meski menghadapi kesulitan ekonomi dan diskriminasi rasial, Nicholas memilih hidup dalam pengorbanan daripada berada dalam kenyamanan. Ia berkeliling ke desa-desa dan ke kota-kota, menyebarkan Firman Tuhan tanpa lelah, menginspirasi ribuan orang melalui gerakan Assemblies of God  yang menekankan iman, ketaatan, dan kuasa Roh Kudus sebagai landasan hidup untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Ibrani 11:8 yang berkata, “Karena iman Abraham taat, ketika dipanggil Allah, ia pergi ke tempat yang akan diterimanya sebagai milik pusaka, dan ia pergi tanpa mengetahui ke mana ia pergi.”, menantang kita untuk melihat iman bukan sebagai pengetahuan atau kepastian, tetapi sebagai kompas yang menunjukkan arah di tengah ketidakpastian. Abraham pergi tanpa peta dan tanpa rencana pasti namun hatinya dipandu oleh janji Allah. Bukankan kita sering menunggu kepastian, ingin semua jelas?  Tetapi Firman mengingatkan bahwa ketaatan di tengah ketidakpastian merupakan bukti iman sejati. Dalam dunia yang sering menuntut bukti nyata, iman mengajarkan kita berjalan dengan kepercayaan bahwa tangan Tuhan memimpin, bahkan saat jalannya tersembunyi. Setiap langkah yang kita ambil dalam ketaatan menjadi bukti kasih setia Tuhan atas bangsa-bangsa karena iman pribadi yang teguh, membentuk dampak yang melampaui batas etnis, budaya, dan waktu.

Seperti iman Bhengu dan Bapa Abraham, biarlah iman kita juga teguh sehingga menjadi kompas penuntun dan lentera penerang bagi langkah kita, bahkan saat jalan belum terlihat jelas.  Iman merupakan kompas penuntun perjalanan hidup dan lentera penerang gelapnya dunia.(sTy)

Renungan Lainnya