KASIH SETIA TUHAN ATAS BANGSA-BANGSA: JIWA YANG RINDU TUHAN

KASIH SETIA TUHAN ATAS BANGSA-BANGSA: JIWA YANG RINDU TUHAN

Beyers Naudé, pendeta yang keberaniannya lahir dari hati tulus menanggapi panggilan keadilan dan kasih di Afrika Selatan yang terpecah oleh apartheid. Naudé awalnya tergabung dalam gereja yang secara resmi mendukung segregasi rasial, namun ia memilih jalan berbeda dan meninggalkan kenyamanan serta kedudukan demi memperjuangkan kesetaraan dan rekonsiliasi. Kejujuran dan integritasnya tak tergoyahkan. Ia bahkan berani berbicara menentang ketidakadilan meskipun menghadapi pengucilan dan ancaman pemerintah. Pelayanan Beyers Naudé bukan hanya soal khotbah semata, melainkan juga pengabdian nyata yang menggabungkan iman dan tindakan sosial sehingga ia bisa meneladankan kasih setia Tuhan yang memanggil untuk bertindak di tengah realitas pahit dunia.

Mazmur 33:20 mengatakan, “Jiwa kita menanti-nanti TUHAN; Ia adalah pertolongan dan perisai kita.”   Menanti bukan sekadar duduk diam menunggu dengan pasif, melainkan sebuah tindakan aktif yang penuh harapan dan didasarkan atas keyakinan teguh pada Tuhan. Menanti Tuhan berarti menaruh seluruh hidup dan identitas kita sepenuhnya di tangan-Nya yang setia dan kuat.  Di tengah ketidakpastian dan tantangan hidup, jiwa yang rindu Tuhan tahu bahwa pertolongan sejati tidak berasal dari kekuatan manusia atau rencana duniawi, melainkan dari kasih setia-Nya yang tak tergoyahkan. Kata “perisai” bukan sekedar alat pelindung fisik semata, melainkan simbol pemeliharaan rohani yang menjaga damai di hati dan memperkokoh kepercayaan kepada rencana Tuhan.

Ketika jiwa menanti Tuhan dengan sungguh-sungguh maka jiwa akan memasuki ruang suci tempat kerinduan dan harapan bersatu, ketakutan hilang digantikan oleh keyakinan akan kesetiaan-Nya. Di sanalah jiwa menemukan kekuatan dalam kehadiran Tuhan yang setia dan penuh kuasa.  Jiwa yang menanti Tuhan menemukan kekuatan dalam kesetiaan-Nya, bukan dalam kepastian dunia. (sTy)

Renungan Lainnya