+62 24 8312162

Hot Line Number

+62 24 8446048

Fax

Jl. Sompok Lama no. 62c Semarang

Kantor Pusat

MENJADI SAKSI

MENJADI SAKSI

Dalam sidang pengadilan, ada banyak pihak yang terlibat, yaitu jaksa, hakim, terdakwa, dan juga para saksi. Saksi adalah seseorang yang menyatakan apa yang dilihat atau dialami dalam suatu peristiwa. Yang diharapkan dari seorang saksi adalah kejujuran tentang apa yang dialaminya atau dilihatnya. Seorang yang menjadi saksi dengan demikian akan menceritakan apa adanya, apa yang telah dialaminya. Seorang yang tidak mengalami suatu peristiwa tidak akan pernah menjadi saksi, atau kalaupun ia bersedia menjadi saksi ia akan berkata hal yang lain, yang pasti bertentangan denga apa yang diharapkan oleh banyak pihak, yaitu kejujuran dan kebenaran. Bahkan bisa mendapatkan masalah dengan adanya tuntutan hukum, karena melakukan kebohongan.

Dalam kekristenan, menjadi saksi adalah hal yang mutlak harus dilakukan kita semua yang mengaku murid Tuhan Yesus. Pada waktu Tuhan Yesus mau naik ke surga, Dia berkata pada para murid-muridnyaNya, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

Berbeda dengan saksi di persidangan, sebagai murid Tuhan Yesus kita semua otomatis menjadi saksi bagiNya, Tuhan tidak sekadar mengharapkan atau menyarankan kita menjadi saksinya. Lebih lanjut, dalam menjadikan kita sebagai saksi, Tuhan tidak sekadar menjadikan kita saksi dengan tidak memberi apa-apa, tetapi Dia memberikan kita kuasa, setelah Roh Kudus Turun. Kehadiran Roh Kudus sangat penting untuk seorang murid memiliki kuasa. Yesus tahu bahwa manusia tidak dapat menjadi saksi di luar Roh Kudus. Kuasa Allah juga tidak dapat dialami tanpa kehadiran Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi penting dalam pernyataan janji Yesus kepada murid untuk menjadi saksi-Nya.

Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menjadi saksi Tuhan, baik Secara aktif (secara langsung) misalnya seperti dalam Kisah Para Rasul 5:31-32, 8:4-6; 1 Petrus 2:9-10, yaitu bersaksi melalui kata-kata kesaksian, memberitakan Injil, membagikan traktat, dan lain sebagainya. Bisa juga dilakukan secara pasif (tidak langsung) seperti dalam 2 Korintus 3:2-3; Matius 5:16, yaitu melalui kehidupan kita, artinya hidup kita menjadi “surat terbuka” yang “dibaca” oleh orang-orang sekitar kita, dan melalui doa kita bagi mereka agar menerima keselamatan.

Disamping kita bisa bersaksi baik dengan aktif maupun pasif, kita juga bisa bersaksi dari area yang paling dekat maupun area yang tidak terbatas. Seperti kata Tuhan Yesus, para murid diharuskan bersaksi di Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Yerusalem, Yudea dan Samaria, adalah lokasi-lokasi yang sudah akrab dengan para murid Tuhan Yesus. Bahkan Yerusalem pertama kali disebutkan sebagai titik awal. Yerusalem adalah lokasi dan rumah mereka. Ini menunjukkan lingkungan yang paling dekat dengan para murid-murid. Murid-murid akan memulai kesaksian mereka di Yerusalem – yang juga dapat dilihat sebagai rumah mereka.

Selain area yang berbeda kota-kota yang ditunjuk Tuhan Yesus juga bisa berarti orang-orang yang berbeda dalam hal bahasa, budaya, ras, dan sebagainya. Kita pun juga demikian, bersaksi harus dimulai dari yang paling dekat, yaitu keluarga dan lingkungan sekitar kita. Namun demikian kita juga harus bersaksi kepada mereka yang berbeda suku, bahasa, budaya dan lain sebagainya. Bagi kita, terkadang ada kesulitan tersendiri bersaksi dalam keluarga, di tempat kerja, atau di lingkungan sekitar rumah kita. Membagikan iman Kristen kepada anak-anak, orang tua, tetangga, teman kerja, dan orang-orang yang mengenal kita dengan baik bukanlah hal yang mudah. Tetapi itulah perintah yang harus kita lakukan.

Bukan hanya di lingkungan dekat, tetapi kita harus bergerak ke daerah lain, bahkan ke ujung dunia, yaitu seluruh daerah di muka bumi ini, dengan berbagai penghalang bahasa, budaya dan etika. Yesus menyebutkan lokasi kesaksian yang diharapkan; Dia menyebutkan bahwa para murid harus bersaksi ke seluruh bagian dari bumi. Seandainya Yesus berhenti di Yerusalem, Yudea atau Samaria, itu berarti menyiratkan bahwa kesaksian hanya dilakukan dalam suatu wilayah, tetapi tidak demikian yang dikatakan Yesus. Yang terakhir Yesus berbicara lokasi kesaksian yang meliputi seluruh penduduk bumi.

Bersaksi atau menjadi saksi adalah kegiatan yang terus-menerus berlangsung dimana pun seorang Kristen berada. Yesus merangkum pernyataan-Nya dengan fakta bahwa Injil harus disaksikan kepada semua orang, terlepas dari lokasi geografis, suku, usia, status, warna, tinggi, dan sebagainya. Meskipun Yesus sudah terangkat ke surga, dia tidak kekurangan duta besar atau wakil-wakil yang akan menggantikanNya. Orang-orang Kristen adalah duta-duta Kristus untuk menjadi saksiNya.

Menjadi saksi bukan sekadar latihan fisik atau aktivitas yang dapat dilakukan dengan pengetahuan belaka atau dibangun dengan ucapan yang baik; namun demikian kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjadi saksiNya. Karena menjadi saksi adalah keharusan bagi orang Krsiten, maka menjadi saksi harus menjadi gaya hidup kita semua. Amin. Selamat merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Ke Surga. (SH)

Leave a Reply