MENCUKUPKAN DIRI DENGAN APA YANG ADA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita sehat-sehat, tetap semangat menyambut dan menjalani hari baru yang Tuhan sediakan bagi kita. Semoga kita juga memiliki rasa cukup dengan hidup kita sehingga sukacita dan damai sejahtera senantiasa mewarnai perjalanan hidup ini.
Kemarin pagi seorang teman merespons RH saya melalui telepon, “Pak Paul, orang yang tidak bisa bersyukur itu karena dia merasa kurang, tidak pernah merasa cukup.”
Betulkah apa yang dikatakan teman saya? Dari hasil perenungan, betul juga pendapat teman saya. Salah satu faktor yang menjadi penyebab orang tidak bisa bersyukur adalah perasaan kurang, tidak cukup atau tidak puas.
Bagaimana supaya kita senantiasa memiliki rasa cukup? Hiduplah berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan. Kebutuhan adalah segala hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya; fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial kita perlukan. Sedangkan keinginan adalah segala hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Tapi ada banyak orang yang tidak bisa membedakannya sehingga dengan segala cara mereka berusaha untuk memenuhi segala keinginannya, padahal apa yang kita inginkan tidak selalu kita butuhkan. Perhatikan apa yang disampaikan rasul Paulus, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19), artinya Tuhan berjanji akan memenuhi segala yang kita perlukan atau butuhkan, bukan berjanji akan memenuhi segala keinginan kita karena apa yang kita inginkan belum tentu merupakan kebutuhan kita.
Kita perlu merenungkan dalam-dalam nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:6-8). Kita perlu meneladani prinsip hidup Rasul Paulus, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” (Filipi 4:11)
Bolehkah kita memenuhi keinginan? Boleh-boleh saja, mengapa tidak, tapi ingatlah akan firman Tuhan yang ditulis di Pengkhotbah, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9). Ingatlah, keinginan itu tidak ada batasnya. Kita punya satu, ingin dua. Kita punya dua, ingin tiga. Kita sudah bisa punya, A, masih belum puas kalau belum punya B. Kita sudah bisa punya A dan B, masih belum puas juga, kalau belum punya C. Begitu seterusnya. Akibatnya yang ada di hati kita adalah perasaan kurang dan belum puas. Akibatnya kita tidak dapat menikmati ketentraman dan kedamaian. Yang ada hanya kegelisahan dan ketidakpuasan. Dengan demikian kita tidak bisa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Kita tidak bisa bersyukur dengan hasil pencapaian kita.
Kalau begitu, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu (Ibrani 13:5),
sebab sampai kapan pun keinginan manusia tidak ada habisnya. GBU & Fam. (pg)